Kemenkes Peringatkan Lonjakan Penyakit Akibat Perubahan Iklim

Kementerian Kesehatan menyatakan perubahan iklim telah memicu peningkatan signifikan berbagai penyakit serius yang mengancam kesehatan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapa...

Kementerian Kesehatan menyatakan perubahan iklim telah memicu peningkatan signifikan berbagai penyakit serius yang mengancam kesehatan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Dampak Iklim terhadap Kesehatan di Jakarta, Selasa (15/7/2025), kasus heatstroke, penyakit zoonosis, hingga gagal ginjal kronis mengalami lonjakan dalam lima tahun terakhir.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Andi Wijaya, Sp.PD, menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan krisis kesehatan publik yang memerlukan penanganan lintas sektor. 'Perubahan iklim bukan lagi isu lingkungan semata. Ini adalah ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa warga negara,' ujarnya dalam rapat yang dihadiri perwakilan kementerian, pemerintah daerah, dan organisasi profesi kesehatan.

Heatstroke dan Gagal Ginjal Akibat Panas Ekstrem

Gelombang panas yang semakin sering terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meningkatkan risiko heatstroke, terutama pada pekerja luar ruangan dan kelompok rentan. Data Direktorat P2PTM menunjukkan sepanjang semester pertama 2025 tercatat 2.103 kasus heatstroke, naik 41,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2020. Di Kabupaten Tangerang, Dinas Kesehatan melaporkan tiga kematian akibat heatstroke pada pekerja konstruksi selama Juli 2025.

Kemenkes telah mengeluarkan Surat Edaran tentang kewaspadaan heatstroke, mewajibkan puskesmas dan rumah sakit menyiapkan ruang pendingin darurat. 'Kami juga gencar menyosialisasikan metode pencegahan sederhana, seperti minum air sebelum haus,' tambah dr. Andi. Ia menjelaskan bahwa dehidrasi kronis akibat cuaca panas berkontribusi pada peningkatan penyakit ginjal. 'Di daerah dengan suhu harian rata-rata di atas 35 derajat Celsius, kami mencatat kenaikan kasus gagal ginjal kronis sebesar 17 persen dalam tiga tahun terakhir,' katanya. Pihaknya kini mengintegrasikan program deteksi dini gangguan ginjal ke dalam Posyandu di wilayah rawan panas.

Zoonosis Merebak Seiring Pergeseran Habitat

Perubahan suhu dan pola curah hujan mempercepat perluasan habitat vektor penyakit seperti nyamuk Aedes aegypti dan hewan pengerat. Prof. Dr. Budi Santoso, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa distribusi penyakit zoonosis seperti leptospirosis dan demam berdarah dengue kini meluas ke dataran tinggi yang sebelumnya tidak terdampak. 'Tahun 2024 saja, jumlah kabupaten/kota endemis DBD bertambah 23 daerah dibandingkan tahun 2020,' ujarnya. Kasus leptospirosis di Jawa Barat melonjak 65 persen pada tahun 2024 akibat banjir yang kian kerap terjadi.

Kemenkes berkoordinasi dengan BMKG untuk memetakan wilayah berisiko tinggi berdasarkan proyeksi iklim. 'Dengan data ini, kami bisa memprioritaskan fogging dan distribusi kelambu,' jelas Prof. Budi. Ia menekankan pentingnya sistem peringatan dini berbasis iklim untuk memprediksi ledakan kasus. Kemenkes, kata dia, sedang mengembangkan platform pemantauan yang mengintegrasikan data cuaca dan laporan kasus penyakit secara real-time guna memungkinkan intervensi lebih cepat.

Beban Ganda: Kardiovaskular, Gangguan Mental, dan Pernapasan

Paparan panas berkepanjangan juga terbukti meningkatkan beban pada sistem kardiovaskular. Menurut penelitian yang dikutip dalam rapat, suhu di atas 38 derajat Celsius dalam tiga hari berturut-turut dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke sebesar 22 persen. Dokter spesialis jantung di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Ratna Dewi, Sp.JP, menyatakan bahwa paparan panas menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan denyut jantung yang membebani jantung, terutama pada pasien hipertensi. Kemenkes kini memasukkan risiko kardiovaskular terkait iklim dalam pedoman penanganan penyakit tidak menular.

Tak hanya fisik, dampak psikologis juga kian mengkhawatirkan. Bencana hidrometeorologi yang semakin sering—banjir, tanah longsor, kekeringan—memicu gangguan kecemasan dan depresi. Survei Kemenkes di 12 provinsi rawan bencana pada tahun 2024 menemukan 32 persen penyintas bencana menunjukkan gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD). Layanan konseling di puskesmas kini diperkuat untuk merespons kebutuhan ini. Sementara itu, kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran hutan dan peningkatan polusi perkotaan memperparah penyakit pernapasan. Data Kemenkes menyebutkan kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 15 persen di kota-kota dengan indeks kualitas udara berbahaya selama musim kemarau 2024. dr. Andi menegaskan, 'Kita harus memandang perubahan iklim sebagai determinan kesehatan yang fundamental.'

Menanggapi situasi ini, pemerintah melalui Kemenkes telah menyusun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Kesehatan terhadap Perubahan Iklim yang mencakup penguatan sistem surveilans, peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, dan edukasi masyarakat. Kemenko PMK juga tengah mengoordinasikan lintas kementerian untuk memastikan alokasi anggaran yang memadai. 'Kami tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kolaborasi seluruh elemen bangsa,' pungkas dr. Andi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User