Kemarau Panjang Singkap Reruntuhan Kampung di Bendungan Karian
Lebak, Apaberita – Reruntuhan permukiman yang ditenggelamkan pada 2023 di area genangan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, muncul ke permukaan untuk pertama kalinya pada Kamis (24/7/2026). F...
Lebak, Apaberita – Reruntuhan permukiman yang ditenggelamkan pada 2023 di area genangan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, muncul ke permukaan untuk pertama kalinya pada Kamis (24/7/2026). Fenomena ini dipicu oleh penurunan drastis tinggi muka air bendungan akibat kemarau panjang yang melanda wilayah Banten selatan sejak awal Juni 2026.
Kronologi Kemunculan
Berdasarkan pantauan di lapangan, sisa-sisa fondasi rumah, jalan kampung, dan batang pohon yang membusuk mulai terlihat sejak seminggu terakhir. Puncaknya terjadi pada 24 Juli 2026 ketika elevasi muka air Bendungan Karian tercatat hanya 67,8 meter di atas permukaan laut, turun 12,4 meter dari elevasi normal 80,2 meter. Penurunan ini merupakan yang terdalam sejak bendungan mulai beroperasi penuh pada September 2023.
“Ini pertama kalinya kita bisa melihat kembali puing-puing kampung kami. Hati saya campur aduk. Di satu sisi ini seperti napak tilas, tapi di sisi lain ini bukti pengorbanan besar kami,” ujar Ujang Haerudin (54), mantan warga Kampung Cikawung, salah satu dari tiga kampung yang direlokasi demi proyek strategis nasional tersebut.
Penjelasan Teknis
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) Kementerian Pekerjaan Umum, Rudi Hartono, menyatakan bahwa fenomena ini merupakan siklus normal pengelolaan waduk di musim kemarau. “Elevasi saat ini mendekati batas minimal operasional untuk menjamin distribusi air irigasi ke 22.000 hektare sawah di Pandeglang dan Lebak. Kami memproyeksikan kemunculan sisa bangunan ini akan berlanjut hingga akhir Oktober sebelum musim hujan tiba,” jelasnya melalui sambungan telepon.
Rudi menambahkan bahwa BBWS C3 telah melakukan inspeksi visual untuk memastikan tidak ada dampak negatif terhadap integritas bendungan. “Struktur bendungan tetap aman. Material fondasi rumah dan sisa vegetasi tidak mengganggu kinerja intake dan spillway. Masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Data dan Fakta Penggenangan 2023
Bendungan Karian mulai melakukan impounding atau pengisian awal pada Maret 2023 setelah diresmikan Presiden. Proses ini menenggelamkan tiga kampung—Cikawung, Cijangkar, dan Cipicung—yang dihuni oleh total 412 kepala keluarga. Pemerintah telah menyelesaikan pembayaran uang ganti rugi sebesar Rp178 miliar dan menyediakan lahan relokasi di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak.
Luas total area genangan bendungan mencapai 1.763 hektare dengan kapasitas tampung 314 juta meter kubik. Bendungan ini menjadi sumber air baku untuk irigasi, penyediaan air minum 1.400 liter per detik untuk wilayah Serang, Cilegon, dan sekitarnya, serta pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 1,8 megawatt.
Respons Warga dan Potensi Wisata
Kemunculan kembali sisa-sisa kampung justru menarik perhatian warga sekitar yang kini mulai berdatangan untuk menyaksikan langsung. Beberapa pemuda setempat bahkan memandu pengunjung agar tidak memasuki area berbahaya. Camat Cibadak, Sanita Dewi, mengimbau agar warga tidak mendirikan bangunan liar atau mengambil material puing karena area tersebut masih berstatus aset negara di bawah pengelolaan BBWS C3.
“Kami telah berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk meningkatkan patroli. Jangan sampai ada yang memanfaatkan situasi ini untuk tinggal kembali di area genangan,” ucapnya. Sementara itu, mantan warga yang datang ke lokasi diharapkan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu konflik atau klaim sepihak atas tanah yang telah dibebaskan.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Banten selatan baru akan mulai pada awal November 2026. Dengan demikian, fenomena Kampung Tenggelam ini diperkirakan masih bisa disaksikan setidaknya selama tiga bulan ke depan, sebelum air kembali naik dan menutup jejak permukiman yang telah tiga tahun hilang dari pandangan.
Comments (0)