Kemarau Panjang Singkap Puing Kampung di Dasar Bendungan Karian
LEBAK, BANTEN — Surutnya permukaan air Bendungan Karian akibat musim kemarau berkepanjangan menyingkap kembali jejak perkampungan yang telah lebih dari satu dasawarsa tenggelam. Rangka atap rumah, d...
LEBAK, BANTEN — Surutnya permukaan air Bendungan Karian akibat musim kemarau berkepanjangan menyingkap kembali jejak perkampungan yang telah lebih dari satu dasawarsa tenggelam. Rangka atap rumah, dinding-dinding yang mulai keropos, hingga fondasi masjid kini terlihat jelas di bagian dangkal waduk yang berlokasi di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Fenomena ini terjadi sepanjang pekan ketiga Juli 2026 dan langsung menarik perhatian warga sekitar yang datang untuk bernostalgia.
Berdasarkan pantauan di lapangan, ketinggian muka air Bendungan Karian mengalami penurunan hingga belasan meter dari batas normal. Data yang dihimpun dari Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian mencatat elevasi air pada 23 Juli 2026 berada di angka 82,3 meter di atas permukaan laut, turun signifikan dibandingkan elevasi normal 97,5 meter. Penurunan ini merupakan yang terparah dalam tiga tahun terakhir, dipicu oleh minimnya curah hujan di daerah tangkapan air bagian hulu.
Jejak yang Kembali ke Permukaan
Odon (57), warga Desa Cilayang, Kecamatan Curugbitung, yang rumah lamanya ikut tergusur proyek bendungan, mengungkapkan rasa harunya saat menyaksikan langsung pemandangan tersebut. "Biasanya kalau air masih tinggi, yang kelihatan itu paling ujung atap masjid saja. Sekarang, hampir seluruh bagian rumah-rumah, mulai dari tiang penyangga sampai lantai, kelihatan dengan jelas," tuturnya sembari mengamati sisa-sisa bangunan dari tepian waduk.
Ia mengaku bersama puluhan warga lainnya sengaja datang untuk sekadar mengenang masa lalu. Banyak di antara mereka yang dahulu bermukim di tiga dusun yang kini berada di dasar bendungan: Dusun Cikaret, Dusun Cipicung, dan Dusun Sukamaju. Ketiga permukiman tersebut direlokasi secara bertahap mulai tahun 2012 hingga 2014 untuk memberi ruang bagi proyek strategis nasional yang menelan biaya lebih dari Rp1,7 triliun itu.
Rangka Bangunan yang Memicu Ingatan
Selain struktur rumah panggung berbahan kayu dan anyaman bambu yang sebagian besar telah lapuk, tampak pula puing-puing dari bangunan permanen. Masjid Al-Hikmah yang dulu menjadi pusat ibadah warga, kini hanya menyisakan kubah kecil dan tiang-tiang beton yang menghitam. Di sekitarnya, genangan air yang masih tersisa membentuk kolam-kolam kecil yang memantulkan sisa-sisa atap. Warga yang datang tak hanya memandangi dari kejauhan; sejumlah pemuda bahkan nekat menyusuri lumpur untuk melihat lebih dekat, meski pihak pengelola bendungan telah memasang rambu peringatan bahaya.
"Kami paham ini riskan, tapi rasa penasaran sudah tidak terbendung. Ini seperti melihat masa kecil kami kembali hidup, meski hanya sebentar," ujar Muhtar (34), mantan penghuni Dusun Cikaret. Ia menambahkan bahwa sebelum bendungan digenangi, pemerintah memberikan ganti rugi yang cukup, namun kenangan sosial dan budaya tak bisa dinilai dengan uang.
Kondisi Terkini dan Antisipasi
Kepala Divisi Pengelolaan Bendungan Karian, Andrianto Wijaya, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, menegaskan bahwa situasi ini masih dalam batas aman meskipun perlu diwaspadai. "Penurunan elevasi ini sudah kami prediksi mengingat musim kering tahun ini lebih ekstrem. Operasional PLTA masih berjalan, namun debit air yang dilepas untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga kami kurangi secara proporsional agar tidak mengganggu pasokan," terangnya.
Pihaknya juga mengimbau warga untuk tidak mendekati area yang tersingkap demi keselamatan, mengingat struktur bangunan yang sudah rapuh dan potensi tanah longsor di tepian waduk. "Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kepolisian setempat untuk meningkatkan patroli, terutama di titik-titik yang banyak dikunjungi masyarakat," tambah Andrianto.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Dengan demikian, bukan tidak mungkin lebih banyak lagi bagian kampung yang akan tersingkap. Bagi sebagian warga, itu adalah undangan untuk kembali menyusuri lorong-lorong kenangan yang telah lama dianggap hilang selamanya.
Dampak dan Harapan
Fenomena ini juga menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim. Data BMKG menunjukkan bahwa wilayah Banten bagian selatan mengalami defisit curah hujan hingga 40 persen dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tampungan air bendungan, tetapi juga pada sektor pertanian dan pasokan air bersih bagi ribuan keluarga di sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciujung.
Meski demikian, bagi masyarakat yang tergusur, momen langka ini justru menjadi ruang untuk merajut kembali solidaritas. Setiap sore, puluhan warga berkumpul di tepi bendungan, membawa bekal dan bercerita tentang masa lalu sambil menunjuk ke arah bangunan yang dulu menjadi bagian dari keseharian mereka. Sebuah peristiwa alam yang melukiskan bagaimana ingatan kolektif selalu menemukan jalannya, bahkan dari dasar sebuah waduk buatan manusia.
Comments (0)