Keluarga Minta BK DPRD TTU Tegas Usut Intimidasi Dokter Icha
Suasana haru menyelimuti halaman depan Kantor DPRD Timor Tengah Utara (TTU) pada Sabtu malam (12/7/2026). Ratusan orang berkumpul dengan seribu lilin menya
Suasana haru menyelimuti halaman depan Kantor DPRD Timor Tengah Utara (TTU) pada Sabtu malam (12/7/2026). Ratusan orang berkumpul dengan seribu lilin menyala, menggelar aksi damai untuk mengenang Dokter Icha—seorang tenaga medis yang diduga menjadi korban intimidasi berat. Aksi 1000 lilin ini digelar oleh keluarga dan kerabat, yang menuntut Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU segera mengusut dugaan intimidasi yang diduga berujung pada tekanan psikologis luar biasa terhadap sang dokter.
Di tengah gemerlap lilin, wajah-wajah sedih tak mampu menyembunyikan luka mendalam. Salah seorang kerabat bahkan tak kuasa menahan air mata saat menyerukan keadilan. “Kami di sini bukan sekadar menuntut, tapi berharap hati nurani anggota dewan terbuka. Dokter Icha adalah pahlawan kesehatan di wilayah ini, dan ia tidak pantas diperlakukan seperti pesakitan,” ucapnya lirih, suaranya tenggelam dalam isak tangis peserta aksi.
Kronologi yang Membekas: Dari Rumah Sakit ke Tekanan Psikologis
Menurut keterangan keluarga, Dokter Icha—yang bernama lengkap dr. Annisa Icha Kirana—merupakan dokter umum yang bertugas di Puskesmas Kefamenanu sejak 2023. Kasus bermula ketika ia diduga berselisih pendapat dengan salah satu anggota DPRD TTU terkait penanganan anggaran kesehatan. Sumber dari internal rumah sakit menyebut, pada awal Juni 2026, dr. Icha menerima panggilan dari oknum dewan yang memintanya “meluruskan” data pasien untuk kepentingan laporan. Karena menolak, ia dihadapkan pada intimidasi verbal melalui telepon dan pesan singkat yang dinilai mengancam.
Puncaknya, pada 28 Juni 2026, dr. Icha dilaporkan mengalami serangan panik berat saat bertugas dan harus dilarikan ke fasilitas gawat darurat. Ia kemudian cuti dan memilih menyendiri. Keluarga menemukan catatan hariannya yang berisi luapan rasa takut, merasa diburu, dan tidak berdaya. Seminggu kemudian, ia meninggal dunia; dugaan kuat mengarah pada depresi akibat tekanan yang tak tertangani. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kematian, namun keluarga yakin intimidasi adalah pemicu utama.
Tuntutan Keluarga: Badan Kehormatan Harus Bertindak
Kuasa hukum keluarga, Yohanes Bria, SH, menegaskan bahwa pihaknya telah melayangkan surat resmi kepada BK DPRD TTU pada 5 Juli 2026. Dalam surat itu, mereka meminta agar oknum dewan yang diduga melakukan intimidasi segera diperiksa dan diberi sanksi tegas.
“Kami memiliki bukti komunikasi: rekaman panggilan, tangkapan layar chat ancaman, dan saksi yang siap bersaksi. Badan Kehormatan tidak boleh berlindung di balik kode etik yang mandul. Jika dibiarkan, ini preseden buruk bagi demokrasi lokal,”tegas Yohanes saat diwawancarai di sela aksi lilin.
Selain itu, keluarga mendesak DPRD TTU untuk segera mengumumkan audit internal atas perilaku anggota yang kerap menyalahgunakan wewenang. Mereka juga meminta perlindungan bagi tenaga kesehatan lain yang mungkin mengalami tekanan serupa namun enggan bersuara. Tuntutan utama mereka adalah pemecatan tidak hormat bagi anggota dewan terlibat, serta permintaan maaf publik secara terbuka.
Respon BK DPRD TTU dan Sorotan Publik
Hingga berita ini diturunkan, Ketua BK DPRD TTU, Marten Tanesib, belum memberikan pernyataan resmi. Namun seorang staf sekretariat mengonfirmasi bahwa surat keluarga telah diterima dan sedang “dipelajari”. Sikap diam ini menuai kritik tajam dari masyarakat dan aktivis anti-kekerasan. Tagar #JusticeForDokterIcha sempat trending di media sosial lokal, dengan ribuan warganet mendesak transparansi.
Pengamat politik dari Universitas Nusa Cendana, Dr. Maria Neonbasu, menilai kasus ini bisa menjadi batu ujian bagi lembaga perwakilan di daerah. “Jika Badan Kehormatan gagal menindak, maka kepercayaan publik terhadap DPRD akan runtuh. Mereka harus membuktikan bahwa institusi ini tidak melindungi anggota yang berlaku semena-mena,” ujarnya.
Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang TTU menyatakan solidaritasnya. Mereka mendorong dipisahkannya urusan politik dari pelayanan kesehatan, dan menuntut jaminan keamanan bagi dokter agar dapat bekerja tanpa tekanan. Aksi 1000 lilin ini akan terus digelar setiap malam hingga ada kejelasan hukum.
Kisah Dokter Icha adalah pengingat bahwa kekuasaan politik tak boleh dijalankan dengan ancaman. Di balik seribu lilin yang menyala, ada doa agar keadilan menyingsing bagi mereka yang berani menjaga integritas.
[SOCIAL_TWEET]: Ribuan lilin menyala di depan DPRD TTU, tuntut keadilan untuk Dokter Icha yang diduga jadi korban intimidasi oknum dewan. Keluarga: BK harus bertindak tegas! #JusticeForDokterIcha #DPRDTTU #StopIntimidasi[SOCIAL_TG]: 🕯️ Seribu lilin untuk Dokter Icha: Keluarga mendesak BK DPRD TTU usut dugaan intimidasi yang menyebabkan kematian sang dokter. Baca kronologinya di sini.
Comments (0)