Sep 16, 2026
Hukum

Kelompok Houthi Yaman Terus Lawan Koalisi Militer Arab Saudi

SANAA — Dinamika konflik bersenjata di Semenanjung Arab kerap menempatkan kelompok Houthi di Yaman sebagai salah satu aktor paling berpengaruh. Kendati ser

Kelompok Houthi Yaman Terus Lawan Koalisi Militer Arab Saudi

SANAA — Dinamika konflik bersenjata di Semenanjung Arab kerap menempatkan kelompok Houthi di Yaman sebagai salah satu aktor paling berpengaruh. Kendati sering dicap sebagai proksi murni Republik Islam Iran oleh pengamat barat dan negara-negara Teluk, gerakan yang menamai dirinya Ansar Allah ini pada kenyataannya memiliki akar sejarah, ideologi, dan agenda politik domestik yang jauh lebih kompleks.

Gerakan Houthi tumbuh dari komunitas Syiah Zaidiyah di wilayah pegunungan Sa'dah, Yaman utara. Mereka bangkit bukan sekadar atas dorongan pengaruh luar, melainkan sebagai respons perlawanan terhadap marginalisasi ekonomi, politik, dan diskriminasi keagamaan yang berlangsung selama beberapa dekade di bawah kepemimpinan mendiang Presiden Ali Abdullah Saleh.

Kronologi Kebangkitan Houthi dan Eskalasi Melawan Arab Saudi

Konfrontasi antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang kemudian menyeret Arab Saudi melewati beberapa fase penting:

  1. Dekade 1990-an (Fase Pembentukan): Hussein Badreddin al-Houthi mendirikan gerakan Forum Pemuda Beriman (Believing Youth) untuk merevitalisasi ajaran Zaidiyah serta menolak masuknya pengaruh doktrin Wahhabi dari perbatasan Arab Saudi ke wilayah utara Yaman.
  2. 2004–2010 (Perang Sa'dah): Ketegangan militer pertama pecah antara loyalis Houthi dan militer Yaman. Hussein al-Houthi tewas pada 2004, memicu perlawanan gerilya bersenjata yang berlangsung dalam enam putaran konflik berdarah.
  3. 2014 (Penguasaan Sanaa): Memanfaatkan krisis politik pasca-Musim Semi Arab (Arab Spring), milisi Houthi berhasil merebut ibu kota Sanaa dan memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi melarikan diri ke Riyadh.
  4. 2015–Sekarang (Intervensi Koalisi Arab Saudi): Arab Saudi membentuk koalisi militer multinasional untuk memulihkan pemerintahan Presiden Hadi, melancarkan serangan udara masif, dan memblokade wilayah Yaman, yang dibalas Houthi dengan serangan rudal serta drone lintas batas.
"Menyederhanakan Houthi hanya sebagai boneka Teheran mengabaikan faktor pendorong utama mereka, yakni sengketa kekuasaan lokal dan tuntutan otonomi yang mengakar di Yaman utara," ungkap analis geopolitik Timur Tengah.

Akar Konflik dan Rivalitas Geopolitik

Hubungan antagonis antara Houthi dan Arab Saudi berakar pada kekhawatiran keamanan perbatasan langsung sepanjang 1.400 kilometer. Bagi Riyadh, keberadaan kelompok bersenjata yang bersekutu secara ideologis dengan Iran di halaman belakang mereka dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi stabilitas kerajaan.

Di sisi lain, Houthi memandang intervensi militer koalisi pimpinan Saudi sebagai bentuk agresi imperialis asing yang melanggar kedaulatan Yaman. Kemitraan Houthi dengan Iran memang berkembang pesat dalam aspek transfer teknologi rudal dan drone, namun komando taktis dan keputusan operasional tetap berada di bawah kendali kepemimpinan Houthi di Sa'dah.

  • Faktor Agama dan Budaya: Perbedaan teologis serta resistensi Zaidiyah terhadap ekspansi pengaruh keagamaan Salafi-Wahhabi di Yaman utara.
  • Kedaulatan Wilayah: Penolakan Houthi terhadap campur tangan Riyadh dalam penentuan struktur pemerintahan Yaman.
  • Dampak Kemanusiaan: Perang berkepanjangan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan warga Yaman membutuhkan bantuan darurat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User