SEOUL — Hari perdana perluasan sistem perdagangan saham di luar jam bursa reguler (after-hours trading) di Korea Exchange (KRX) diwarnai lonjakan volatilitas yang tajam. Otoritas pasar terpaksa mengaktifkan serangkaian mekanisme pengendalian harga otomatis menyusul fluktuasi ekstrem pada sejumlah saham berkapitalisasi menengah dan kecil.
Langkah stabilisasi darurat tersebut dilakukan guna mencegah distorsi harga yang berlebihan di tengah volume transaksi yang relatif tipis dibandingkan jam perdagangan utama. Sejumlah saham mencatatkan pergerakan liar dalam hitungan menit sesaat setelah pasar reguler ditutup.
Kronologi Pergerakan Pasar dan Aktivasi Pengendalian Harga
Penerapan skema baru perdagangan lanjutan ini ditujukan untuk memberikan fleksibilitas lebih bagi investor ritel maupun institusi. Namun, dinamika pasar pada sesi pertama mencerminkan tingginya sensitivitas terhadap likuiditas:
- Pukul 15.40 KST: Sesi perdagangan lanjutan resmi dibuka setelah penutupan pasar reguler. Pesanan dalam jumlah besar langsung membanjiri beberapa saham sektor teknologi dan bioteknologi.
- Pukul 16.05 KST: Mekanisme Volatility Interruption (VI) dinamis terpicu untuk pertama kalinya setelah harga salah satu emiten bergerak melampaui ambang batas 3 persen dalam kurun waktu kurang dari 10 detik.
- Pukul 16.30 KST: Aktivasi mekanisme stabilisasi meluas ke puluhan saham lainnya akibat ketidakseimbangan antrean jual (bid-ask spread) yang melebar tajam.
- Pukul 18.00 KST: Sesi perdagangan lanjutan berakhir dengan catatan puluhan intervensi otomatis sepanjang sesi berlangsung.
"Likuiditas yang lebih rendah pada sesi luar jam reguler memperbesar dampak dari setiap pesanan besar. Sistem stabilisasi kami bekerja sesuai fungsinya untuk meredam kepanikan pasar," ungkap perwakilan resmi Korea Exchange dalam keterangan tertulisnya.
Penyebab Utama Lonjakan Volatilitas
Para analis pasar modal di Seoul menyoroti beberapa faktor utama yang memicu lonjakan volatilitas pada hari perdana ini. Pertama, partisipasi pelaku pasar institusional besar masih relatif terbatas, sehingga pesanan dari investor ritel dengan volume moderat sekalipun mampu menggeser harga pasar secara signifikan.
Kedua, adanya penyesuaian algoritma perdagangan otomatis (algorithmic trading) yang belum sepenuhnya terkalibrasi dengan kedalaman pasar sesi malam. Hal ini memicu efek domino berupa pembatalan dan eksekusi pesanan kilat yang membingungkan pelaku pasar reguler.
- Ketimpangan likuiditas antara saham blue chip dan saham lapis kedua (small-mid cap).
- Pelebaran selisih harga penawaran dan permintaan hingga mencapai lebih dari 5 persen pada saham tertentu.
- Reaksi berantai dari order otomatis yang memicu penghentian sementara perdagangan secara berulang.
Langkah Evaluasi Otoritas Keuangan
Menanggapi hari pertama yang dinamis, Komisi Jasa Keuangan (FSC) Korea Selatan bersama KRX menyatakan akan terus memantau jalannya sistem baru ini secara ketat. Evaluasi komprehensif terhadap ambang batas pemicu VI dan ketersediaan penyedia likuiditas (market maker) akan dilakukan dalam beberapa pekan ke depan.
Regulator mengimbau para pelaku pasar, khususnya investor individu, untuk tetap berhati-hati saat mengeksekusi transaksi pada sesi luar jam bursa guna meminimalkan risiko eksekusi harga yang tidak wajar.
Comments (0)