Kebakaran Hutan Landa Gunung Jati Bandung, Penyebab Diselidiki

KABUPATEN BANDUNG — Peristiwa kebakaran hutan terjadi di kawasan Gunung Jati, tepatnya di wilayah Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, pada Senin petang hingga malam, 27 Juli 20...

Kebakaran Hutan Landa Gunung Jati Bandung, Penyebab Diselidiki

KABUPATEN BANDUNG — Peristiwa kebakaran hutan terjadi di kawasan Gunung Jati, tepatnya di wilayah Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, pada Senin petang hingga malam, 27 Juli 2026. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung menegaskan bahwa timnya berhasil menjinakkan kobaran api yang melahap vegetasi hutan setelah melalui operasi pemadaman yang berlangsung hingga pukul 22.30 WIB.

Menurut laporan yang dihimpun di lapangan, titik api pertama kali terlihat oleh warga sekitar pukul 18.00 WIB di lereng selatan Gunung Jati. Asap tebal mengepul ke udara, memicu kepanikan di kalangan masyarakat setempat. Sejumlah warga berinisiatif melakukan pemadaman dini dengan peralatan seadanya sembari menunggu kedatangan petugas.

Kronologi dan Upaya Pemadaman

Ketua RW 07 Desa Jatisari, Dedi Supriadi, menuturkan bahwa api dengan cepat merambat ke area hutan pinus dan semak belukar yang berada di dekat permukiman penduduk. “Kami langsung melaporkan kejadian ini ke pos pemadam kebakaran terdekat. Api semakin membesar karena angin kencang, sehingga kami kewalahan melakukan pemadaman mandiri,” ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung, Drs. H. Yana Mulyana, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pihaknya menerima laporan pada pukul 18.15 WIB dan segera mengerahkan empat unit mobil pemadam kebakaran beserta 25 personel ke lokasi. “Medan yang terjal serta akses jalan yang sempit menjadi kendala utama bagi petugas di lapangan. Namun, berkat kerja sama dengan relawan dan warga, api dapat diisolasi agar tidak merambat ke permukiman,” jelas Yana Mulyana.

Operasi pemadaman berlangsung selama lebih dari empat jam. Petugas menerapkan metode sekat bakar di beberapa titik untuk memutus jalur perambatan api. Pada pukul 22.30 WIB, Dinas Pemadam Kebakaran memastikan bahwa titik api utama telah berhasil dipadamkan, kendati proses pendinginan masih terus dilakukan hingga Selasa dini hari guna mencegah munculnya kembali bara api.

Luas Lahan Terdampak dan Dampak Lingkungan

Berdasarkan estimasi sementara yang disampaikan oleh tim di lapangan, area hutan yang hangus dilalap api mencapai sekitar 5 hingga 7 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh pohon pinus, kaliandra, serta semak ilalang yang mudah terbakar di musim kemarau. Kepala Seksi Kedaruratan Dinas Pemadam Kebakaran, Hendra Gunawan, menyebutkan bahwa pihaknya masih melakukan assesment lebih rinci untuk menghitung kerugian ekologis dan material yang ditimbulkan.

“Kami belum dapat memastikan jumlah pasti kerugian. Yang jelas, ekosistem di kawasan Gunung Jati mengalami kerusakan signifikan. Kami juga memantau potensi longsor akibat hilangnya vegetasi penahan tanah di lereng,” ucap Hendra Gunawan.

Peristiwa ini juga memicu kekhawatiran warga akan dampak asap yang mengganggu pernapasan. Beberapa warga yang bermukim di kaki gunung sempat mengeluhkan sesak napas dan iritasi mata. Petugas kesehatan dari Puskesmas Kutawaringin telah mendirikan posko kesehatan darurat untuk memberikan pelayanan medis gratis bagi warga terdampak.

Penyelidikan Penyebab Kebakaran

Hingga Selasa pagi (28/7), penyebab kebakaran hutan Gunung Jati masih menjadi tanda tanya. Kepolisian Sektor Kutawaringin bersama tim investigasi Dinas Pemadam Kebakaran telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengumpulkan bukti-bukti awal. Kapolsek Kutawaringin, AKP Rudi Hartono, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa memberikan kesimpulan dan masih menunggu hasil pemeriksaan saksi serta analisis titik awal api.

“Kami sudah memeriksa empat orang saksi warga yang pertama kali melihat api. Dugaan sementara mengarah pada faktor kelalaian manusia, namun kami tidak ingin berspekulasi. Tim laboratorium forensik masih bekerja,” kata AKP Rudi Hartono. Ia menambahkan bahwa pihaknya juga tidak menutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan, mengingat sejumlah kasus kebakaran hutan di Kabupaten Bandung pada tahun-tahun sebelumnya kerap dipicu oleh pembukaan lahan secara ilegal.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung menurunkan tim pemantauan untuk menilai dampak kebakaran terhadap flora dan fauna di kawasan Gunung Jati yang merupakan area konservasi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dr. Ida Nurhayati, menegaskan bahwa perlindungan kawasan hutan harus menjadi prioritas bersama. “Kami akan merekomendasikan pengetatan pengawasan di jalur pendakian dan area rawan selama musim kemarau,” tuturnya.

Imbauan Pemerintah Daerah

Menindaklanjuti kejadian ini, Bupati Bandung mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring dengan puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Agustus 2026. Dalam surat edaran yang disebarkan melalui camat dan kepala desa, warga diminta untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu percikan api di area hutan, seperti membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Agus Setiawan, menyatakan bahwa pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan para relawan kebakaran hutan (redkar) yang tersebar di sejumlah desa di wilayah Kabupaten Bandung. “Kami sedang menyiapkan posko siaga darurat karhutla di tiga titik rawan, termasuk di Kecamatan Kutawaringin, guna mempercepat respons jika terjadi kebakaran serupa,” ujarnya.

Peristiwa kebakaran hutan Gunung Jati ini menjadi yang ketiga di Kabupaten Bandung dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya, kebakaran melanda kawasan hutan di Gunung Puntang dan Gunung Geulis, menyebabkan puluhan hektare lahan hangus. Pemerintah daerah berjanji akan mengevaluasi sistem deteksi dini dan memperkuat sarana prasarana pemadam kebakaran di tingkat desa.

Hingga berita ini diturunkan, suasana di sekitar Gunung Jati berangsur normal, namun aroma asap masih tercium di beberapa titik. Petugas masih bersiaga di lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User