Kasus Pengeroyokan Mondy Tatto: Psikolog Ungkap Bahaya Hubungan Toksik

Bekasi – Satuan Reskrim Polres Metro Bekasi tengah mendalami kasus dugaan pengeroyokan yang menyeret nama pesohor media sosial, Mondy Tatto. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (13/7) dini hari di kaw...

Kasus Pengeroyokan Mondy Tatto: Psikolog Ungkap Bahaya Hubungan Toksik

Bekasi – Satuan Reskrim Polres Metro Bekasi tengah mendalami kasus dugaan pengeroyokan yang menyeret nama pesohor media sosial, Mondy Tatto. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (13/7) dini hari di kawasan Bekasi Selatan itu diduga dipicu oleh konflik asmara dan konsumsi minuman keras. Dalam konferensi pers pada Senin (15/7), Kepala Satuan Reskrim AKBP Heru Prasetyo mengungkapkan bahwa korban mengalami luka serius akibat dikeroyok sekelompok orang yang masih memiliki hubungan pertemanan.

“Berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti, motif sementara mengarah pada cemburu dan pengaruh alkohol. Para pelaku dan korban sebelumnya berkumpul dan menenggak minuman keras sebelum akhirnya terjadi cekcok,” ujar AKBP Heru. Polisi telah mengamankan empat orang terduga pelaku dan menyita sejumlah barang bukti.

Kasus ini menyoroti bagaimana hubungan pertemanan yang tidak sehat dapat meledak menjadi kekerasan fisik. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Andriani, M.Psi., menyatakan bahwa dinamika semacam ini kerap berakar pada akumulasi emosi negatif yang tidak dikelola dengan baik. “Lingkaran pertemanan yang toksik sering kali menjadi tempat subur bagi kecemburuan dan iri hati yang tidak terungkap. Ketika dipicu oleh alkohol, kontrol diri seseorang runtuh, dan agresi fisik pun sulit dihindari,” jelasnya saat dihubungi di Jakarta, Selasa (16/7).

Alkohol dan Runtuhnya Kendali Diri

Penelitian Ciorba dan Rada (2022) menunjukkan bahwa konsumsi alkohol secara akut dapat mengganggu fungsi regulasi diri (self-regulation) yang terletak di korteks prefrontal otak. Ketika seseorang mabuk, kemampuan untuk menahan impuls, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengelola emosi menurun drastis. Akibatnya, gesekan kecil yang dalam kondisi sadar dapat diselesaikan dengan dialog, justru berubah menjadi konfrontasi fisik. Dalam konteks kasus pengeroyokan, minuman keras sering kali menjadi katalisator yang mengubah pertengkaran mulut menjadi aksi kolektif yang destruktif. Selain itu, alkohol turut meningkatkan aktivitas amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab atas respons emosi negatif, sehingga seseorang menjadi lebih reaktif terhadap provokasi sekecil apa pun.

Dr. Rina menambahkan, “Alkohol tidak menciptakan agresi, tetapi membuka katup dari emosi yang selama ini dipendam. Jika dalam kelompok itu sudah ada riwayat saling sindir atau persaingan terselubung, begitu kendali kognitif melemah, dorongan untuk menyerang menjadi sangat kuat.” Kondisi ini diperparah oleh efek disinhibisi sosial, di mana individu dalam kelompok merasa lebih berani karena merasa tanggung jawab terbagi. Tekanan kelompok sebaya (peer pressure) juga ikut memperkuat perilaku agresif, sebab setiap anggota merasa harus menunjukkan solidaritas meskipun dengan cara yang salah.

Cemburu dan Cinta Segitiga sebagai Pemicu

Motif cinta segitiga, seperti yang diduga terjadi pada kasus Mondy Tatto, menempati posisi penting sebagai pemicu kekerasan. Rasa cemburu yang tidak dikelola dapat berkembang menjadi kemarahan obsesif. Menurut studi Permana dan Azca (2023) tentang dinamika pertemanan toksik, individu yang terjebak dalam lingkungan tidak sehat sering kehilangan kemampuan untuk meregulasi emosi karena standar kelompok yang justru mengagungkan agresi sebagai bentuk pembuktian maskulinitas atau loyalitas. Dalam kasus cinta segitiga, persaingan untuk mendapatkan afeksi seseorang sering kali menimbulkan ketegangan yang terus menumpuk dan akhirnya meledak dalam konfrontasi fisik.

“Kecemburuan adalah emosi yang sangat kuat. Jika dibiarkan dalam lingkungan yang mendukung kekerasan, bukan tidak mungkin seseorang akan melakukan tindakan di luar kendali. Apalagi jika ada faktor alkohol dan pengaruh teman sebaya yang ikut mendorong,” ujar Dr. Rina. Ia menekankan bahwa penting bagi setiap individu untuk keluar dari lingkaran pertemanan yang tidak memberikan rasa aman dan justru memupuk konflik.

Lingkaran Pertemanan Toksik dan Ledakan Amarah

Penelitian yang sama dari Permana dan Azca (2023) menemukan bahwa berteman di lingkungan yang penuh tekanan, saling menghakimi, dan minim empati membuat seseorang kehilangan kesadaran emosional. Energi negatif yang terus terakumulasi tanpa saluran yang sehat pada akhirnya akan meledak sebagai luapan amarah yang sulit dikendalikan. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai reactive aggression, yaitu agresi yang muncul sebagai respons langsung terhadap provokasi yang dipersepsikan, meskipun provokasi tersebut sebenarnya kecil. Lingkungan toksik juga sering kali menormalisasi kekerasan sebagai cara menyelesaikan konflik, sehingga anggota kelompok tidak lagi merasa bersalah saat melakukan tindakan agresif.

Kapolres Metro Bekasi dalam keterangannya juga menyebut bahwa para pelaku mengaku menyesal setelah sadar, namun hal itu sudah terlambat karena korban mengalami luka fisik dan trauma. “Kami menghimbau masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dan segera melapor jika ada potensi konflik. Kekerasan bukan solusi,” tegasnya.

Peran Dinamika Kelompok dalam Pengeroyokan

Dalam banyak kasus pengeroyokan, dinamika kelompok memegang peranan krusial. Psikolog sosial menyebut adanya fenomena deindividuasi, di mana seseorang kehilangan identitas pribadinya dan larut dalam anonimitas kelompok. Saat individu merasa tidak lagi bertanggung jawab secara personal, hambatan moral untuk melakukan kekerasan menjadi sangat rendah. Hal ini terlihat jelas dalam pertemuan yang melibatkan alkohol, di mana batas-batas sosial sudah terkikis terlebih dahulu. Dr. Rina menjelaskan, “Dalam kondisi mabuk dan berada di tengah kelompok yang saling menyulut, seseorang dapat melakukan hal yang tidak akan pernah ia lakukan sendirian.”

Kasus ini menjadi pelajaran pahit bahwa menyelesaikan konflik dengan kekerasan hanya akan melahirkan masalah baru. Para psikolog menganjurkan agar setiap orang yang merasa terjebak dalam hubungan tidak sehat segera mencari bantuan profesional atau setidaknya menjauh dari lingkungan yang merusak. Polda Metro Jaya juga berencana menggelar penyuluhan tentang bahaya pergaulan toksik dan pengendalian emosi di sejumlah komunitas remaja sebagai langkah preventif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User