Aug 26, 2026
Politik

Karhutla Suaka Margasatwa Kerumutan Riau Mengancam Habitat Harimau Sumatera

Pekanbaru — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, Provinsi Riau, telah berlangsung lebih dari satu pekan dan dinilai membawa ancaman serius terhadap kele...

Karhutla Suaka Margasatwa Kerumutan Riau Mengancam Habitat Harimau Sumatera

Pekanbaru — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, Provinsi Riau, telah berlangsung lebih dari satu pekan dan dinilai membawa ancaman serius terhadap kelestarian habitat Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menegaskan titik api masih aktif di dalam kawasan konservasi tersebut meski sejumlah upaya pemadaman, baik melalui jalur udara maupun persiapan penanganan darat, telah dikerahkan.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, ketika dikonfirmasi di kantor instansinya pada Selasa (25/8), menyatakan pihaknya belum mendapati satu pun satwa liar yang menjadi korban langsung peristiwa tersebut. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa keberadaan api di dalam kawasan tetap harus ditangani sebagai persoalan genting, mengingat SM Kerumutan termasuk wilayah konservasi utama bagi beragam satwa dilindungi, dengan Harimau Sumatera sebagai salah satu spesies kunci yang hidup di dalamnya.

Api Bangkit Kembali dari Bara Lapisan Gambut

Berdasarkan uraian BBKSDA Riau, Satgas Udara melaksanakan operasi water bombing pada hari Jumat dan Sabtu pekan lalu. Kobaran api sempat padam menyeluruh setelah operasi dimaksud dijalankan. Namun, kondisi cuaca yang kurang bersahabat serta tiupan angin kencang memicu bara yang tertimbun di dalam lapisan gambut kembali menyalakan asap dan nyala api di lokasi kejadian.

Supartono menerangkan bahwa karakteristik lahan gambut menyimpan panas dalam kurun waktu relatif lama, sehingga kebakaran berpotensi bangkit kembali walaupun permukaan tanah tampak telah padam. Situasi semacam ini menjadikan proses pendinginan menyeluruh di kawasan membutuhkan waktu lebih panjang sekaligus pendekatan penanganan berlapis antara tim udara dan tim darat.

Perkiraan Sementara Lima Hektare Lahan Gambut Terbakar

Instansi konservasi itu memberikan perkiraan awal luas kawasan yang dilalapi api mencapai sekitar lima hektare. Seluruh area dimaksud didominasi oleh ekosistem lahan gambut. Angka tersebut masih bersifat tentatif karena tim lapangan belum tiba di lokasi untuk melakukan verifikasi serta pengukuran rinci. Data final baru dapat ditetapkan setelah tim menuntaskan pemeriksaan lapangan secara menyeluruh di titik-titik api.

Medan Terpencil dan Vegetasi Rapat Hambat Akses Tim Darat

Penanganan karhutla di SM Kerumutan menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan. Titik api berada jauh di pedalaman kawasan dengan tutupan vegetasi hutan yang sangat rapat. Dari batas terluar kawasan, tim darat diperkirakan harus menempuh jarak sekitar 32 kilometer guna mencapai lokasi kebakaran. Jalur yang dilalui pun bukan merupakan akses yang mudah dilalui kendaraan biasa, sehingga petugas terpaksa mencari sekaligus membuka pintu masuk baru menuju titik api. Kondisi demikian membuat kecepatan respons penanganan lewat jalur darat menjadi terbatas apabila dibandingkan dengan operasi pemadaman dari udara.

Tim Gabungan Terus Bekerja Kendati Kendala Medan

Meski menghadapi sejumlah hambatan, upaya penanggulangan tetap berjalan sesuai rencana. Tim udara masih ditugaskan memetakan persebaran titik api dari atas kawasan sebagai dasar penyusunan strategi pemadaman. Adapun tim darat telah diberangkatkan guna mengecek kondisi terkini di lapangan sekaligus menilai kemungkinan pelaksanaan pemadaman langsung dari dalam kawasan. Supartono menegaskan seluruh langkah tersebut diambil demi memastikan api tidak menjalar ke kawasan inti yang menjadi ruang gerak satwa dilindungi.

Sebagai kawasan suaka margasatwa, SM Kerumutan memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem gambut di pesisir timur Sumatera. Perlindungan terhadap kawasan ini diyakini berkaitan erat dengan keberlangsungan berbagai satwa dilindungi lainnya yang menjadikan hutan tersebut sebagai tempat hidup alaminya.

Bagi kalangan konservasi, keberhasilan pemadaman di SM Kerumutan menjadi penentu bagi masa depan populasi Harimau Sumatera yang jumlahnya terus menipis. Kehadiran api di habitat inti berpotensi memaksa satwa berpindah tempat dan meningkatkan risiko konflik dengan manusia di kawasan perlintasan. Oleh karena itu, pemantauan pascakebakaran turut diperlukan agar dampak ekologis jangka panjang dapat dicegah sedini mungkin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User