Kapuspen TNI Konfirmasi Pengerahan 2.500 Personel Amankan Perbatasan Darat
Ruang konferensi pers Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, dipenuhi ketukan kamera dan deru laptop wartawan, Senin pagi (14/10/2024). Brigadir Jenderal T
Ruang konferensi pers Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, dipenuhi ketukan kamera dan deru laptop wartawan, Senin pagi (14/10/2024). Brigadir Jenderal TNI Muhammad Nas, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, berdiri di depan mikrofon dengan peta digital perbatasan Kalimantan–Malaysia sebagai latar layar. Dengan suara tenang namun tegas, ia membuka keterangan resmi yang telah ditunggu banyak pihak: “Kami pastikan tidak ada eskalasi, tetapi kesiapsiagaan adalah harga mati.”
Pernyataan itu merujuk pada peningkatan aktivitas patroli ilegal di sektor perbatasan darat, khususnya di wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dan Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Intelijen TNI mencatat lonjakan 37% insiden penyelundupan barang ilegal dan perlintasan tak berdokumen sepanjang kuartal ketiga 2024 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Menjawab dinamika itu, TNI menggelar Operasi Pengamanan Perbatasan (Opspamtas) dengan skala yang belum pernah dilakukan dalam lima tahun terakhir.
Konsentrasi Kekuatan di Dua Provinsi
Brigjen Nas memaparkan, total 2.500 personel gabungan dari 10 batalyon infanteri dan unit pendukung dikerahkan ke 45 titik pos pengamanan. Dari jumlah itu, 1.800 prajurit ditempatkan di Kalimantan Utara yang dianggap sebagai zona paling rawan. “Ratusan prajurit ini bukan datang untuk berperang, melainkan untuk memastikan setiap jengkal tanah negara terjaga tanpa insiden,” ujarnya sembari menampilkan grafik batang yang membandingkan sebaran kekuatan tahun ini dengan 2023.
“Dalam 72 jam terakhir, kami sudah memproses 14 pelintas ilegal, menyita 23 dokumen palsu, dan menggagalkan penyelundupan 1,2 ton barang konsumsi tanpa cukai. Semua kami limpahkan ke otoritas terkait,” tegas Brigjen Nas merinci data awal operasi.
Operasi yang dimulai secara resmi pada 7 Oktober ini tidak hanya melibatkan prajurit TNI AD, tetapi juga mengintegrasikan 120 personel TNI AL yang bersiaga di perairan Sungai Sebuku dan Sungai Kayan. Dua kapal patroli cepat disiagakan di perairan teritorial yang berbatasan dengan Sabah. Sementara itu, dua pesawat tanpa awak (UAV) tipe medium-altitude long-endurance diterbangkan secara bergilir setiap 8 jam untuk memantau jalur-jalur tikus di perbatasan.
Teknologi Pengawasan Jadi Tulang Punggung
Tak hanya mengandalkan jumlah personel, TNI kali ini menitikberatkan pada teknologi pemantauan. Brigjen Nas mengungkapkan, sebanyak 12 unit radar darat dengan jangkauan deteksi hingga 15 kilometer telah diaktifkan di sepanjang garis batas. “Kami tinggalkan cara lama yang hanya mengandalkan patroli kaki. Sekarang, pergerakan sekecil apa pun bisa terdeteksi di pusat komando,” katanya. Data dari radar itu diintegrasikan ke layar besar di Makodam VI/Mulawarman dan Mabes TNI secara real-time.
“Kami kembali menggelar operasi besar karena negara tidak bisa hanya bereaksi. Kami harus hadir sebelum permasalahan membesar,” jelasnya menjawab pertanyaan soal urgensi Opspamtas kali ini.
Ia merujuk pada evaluasi operasi serupa pada 2019 yang baru digelar setelah terjadi bentrokan di perbatasan. Kali ini, pendekatannya berbeda: deteksi dini dan pencegahan. “Belajar dari masa lalu itu penting, tapi lebih penting lagi mencegah sejarah terulang,” tambahnya dengan nada yang lebih rendah, seolah menyimpan kekhawatiran yang tak ingin diumbar.
Dukungan Anggaran dan Logistik
Dari sisi pendanaan, Kapuspen TNI mengonfirmasi bahwa operasi ini didukung anggaran sebesar Rp187 miliar yang bersumber dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TNI tahun anggaran 2024. “Angka itu sudah mencakup tunjangan operasi prajurit, bahan bakar, perawatan alat, dan logistik selama 90 hari ke depan,” rincinya. Masa operasi direncanakan berlangsung hingga awal Januari 2025, dengan kemungkinan perpanjangan tergantung evaluasi situasi.
Pada akhir sesi tanya jawab, seorang jurnalis mempertanyakan potensi gesekan dengan otoritas Malaysia. Brigjen Nas menjawab dengan diplomatis: “Hubungan bilateral kita baik. Kami sudah berkirim nota diplomatik dan koordinasi melalui jalur militer ke militer. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Sementara itu, di lapangan, para prajurit sudah bertugas dalam diam. Di bawah terik matahari Kalimantan, mereka mendirikan tenda-tenda kecil di antara pohon karet dan hutan sekunder. Seperti yang dikatakan seorang komandan batalyon yang identitasnya tak disebutkan: “Yang menjaga perbatasan bukan hanya seragam, tapi hati yang menganggap setiap jengkal tanah ini ibu pertiwi.”
Comments (0)