Matahari mulai condong ke ufuk barat di Perairan Pulukan, Jembrana, Bali, ketika ketenangan lautan mendadak berubah menjadi petaka mengerikan. Sebuah sampan fiber yang mengangkut tiga orang nelayan tradisional dihantam kecelakaan nahas saat hendak berlayar pulang menuju daratan. Satu orang nelayan dilaporkan hilang dan hingga kini masih dalam pencarian intensif oleh Tim SAR Gabungan, sementara dua rekannya berhasil selamat setelah berjam-jam bertahan hidup di tengah gulungan ombak.
Peristiwa tragis tersebut terjadi di kawasan perairan Takat Deken dengan titik koordinat -8°30'02.6"S 114°43'26.3"E. Korban yang hingga kini belum ditemukan adalah I Gusti Putu Sugiarta (38), warga asal Desa Cupel, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Sementara itu, nakhoda sampan bernama Neri Muhtakim (32) dan seorang anak buah kapal (ABK) lainnya, Samsul Hadi (36), berhasil selamat dari maut setelah mengapung berpegangan pada puing-puing pecahan kayu sampan.
Kronologi Detik-Detik Terjadinya Musibah di Perairan Pulukan
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, ketiga nelayan berangkat melaut untuk memancing ikan di sekitar perairan Pulukan sejak pagi hari. Setelah menyelesaikan aktivitas memancing, mereka memutar haluan untuk kembali ke pantai sekitar pukul 17.00 WITA. Namun, dalam perjalanan pulang, musibah yang tak terduga menyergap di tengah perlintasan laut.
Sampan berbahan fiber yang dikemudikan oleh Neri tiba-tiba menghantam sebuah balok kayu berukuran besar yang hanyut mengapung di tengah perairan. Benturan keras tersebut membuat bagian lambung sampan pecah seketika, menyebabkan air laut dengan cepat membanjiri badan kapal hingga akhirnya tenggelam ke dasar laut. Ketiga nelayan langsung terlempar ke air laut dan berusaha keras menyelamatkan diri dengan mengandalkan serpihan kayu yang tersisa.
"Kami tiba-tiba menghantam kayu mengapung di tengah laut. Benturan sangat keras membuat lambung sampan langsung pecah dan air masuk cepat sekali. Kami bertiga terlempar dan hanya bisa berpegangan pada pecahan katir dan kayu sampan yang tersisa," ungkap korban selamat saat menceritakan detik-detik mencekam tersebut.
Di tengah ketakutan akan kegelapan malam yang mulai turun dan hempasan ombak yang kian kencang, perjuangan antara hidup dan mati harus mereka hadapi di tengah lautan lepas.
Terpisah oleh Arus Deras Laut Selatan
Nasib naas dialami oleh I Gusti Putu Sugiarta. Saat kapal hancur tenggelam, posisi Sugiarta terpisah dari kedua rekannya. Korban diketahui mengapung sendirian sambil memeluk pecahan katir (penyeimbang sampan). Seiring berjalannya waktu, derasnya arus bawah laut dan gelombang secara perlahan menjauhkan jarak Sugiarta dari Neri dan Samsul.
Meskipun kedua rekannya sempat berupaya keras mencari dan memanggil nama Sugiarta di tengah remang senja, sosok Sugiarta tak lagi terlihat dan diduga kuat hanyut terbawa arus deras ke tengah samudra. Sekitar 30 menit mengapung dalam kecemasan, keberuntungan masih memihak Neri dan Samsul. Sebuah kapal nelayan asal Desa Pengambengan yang kebetulan melintas di sekitar lokasi melihat keberadaan mereka dan langsung melakukan pertolongan.
| Nama Korban | Usia | Peran / Asal Desa | Status Keselamatan |
|---|---|---|---|
| I Gusti Putu Sugiarta | 38 Tahun | ABK / Desa Cupel | Hilang (Pencarian SAR) |
| Neri Muhtakim | 32 Tahun | Nakhoda / Desa Cupel | Selamat |
| Samsul Hadi | 36 Tahun | ABK / Desa Cupel | Selamat |
Tim SAR Gabungan Dikerahkan Lakukan Penyisiran
Insiden ini baru dilaporkan secara resmi kepada petugas pada Kamis (10/9) pagi setelah korban selamat tiba di daratan dan mengabarkan musibah ini kepada pihak keluarga serta otoritas setempat. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Satpolairud Polres Jembrana, Basarnas, Pos TNI AL, dan relawan nelayan lokal segera mengerahkan armada perahu karet dan kapal patroli untuk menyisir lokasi kejadian.
Kasat Polairud Polres Jembrana mengonfirmasi bahwa pencarian terus dioptimalkan dengan memperluas radius penyisiran di sekitar perairan Pulukan hingga Pengambengan. Kendala utama pencarian meliputi kondisi angin laut dan pergerakan arus yang cukup kuat di selatan perairan Bali.
Keluarga korban kini hanya bisa memanjatkan doa di tepi pantai, berharap I Gusti Putu Sugiarta dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat. Kejadian ini menjadi imbauan penting bagi seluruh nelayan tradisional untuk selalu mewaspadai bahaya puing mengapung dan melengkapi diri dengan alat keselamatan saat melaut.
Dua nelayan berhasil selamat setelah mengapung berjam-jam, sementara satu korban atas nama I Gusti Putu Sugiarta (38) hilang terseret arus. Tim SAR Gabungan saat ini tengah menyisir lokasi kejadian. Baca laporan selengkapnya di Apaberita.com
Comments (0)