Jejak Kampung Tenggelam Kembali Muncul di Bendungan Karian

Kemarau panjang yang melanda wilayah Banten bagian barat telah menyingkap kembali sisa-sisa permukiman yang tenggelam puluhan tahun silam di area genangan Bendungan Karian. Fenomena alam ini menarik p...

Jejak Kampung Tenggelam Kembali Muncul di Bendungan Karian

Kemarau panjang yang melanda wilayah Banten bagian barat telah menyingkap kembali sisa-sisa permukiman yang tenggelam puluhan tahun silam di area genangan Bendungan Karian. Fenomena alam ini menarik perhatian warga dari desa-desa sekitar yang sejak Jumat pagi, 24 Juli 2026, berbondong-bondong menyaksikan langsung pemandangan langka tersebut, termasuk salah satunya Odon (52), warga Desa Sangiang, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak.

Warga yang bermukim di lingkar bendungan mengaku peristiwa surutnya muka air hingga menampakkan fondasi rumah dan jalan setapak merupakan momen nostalgia yang membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang kehidupan sebelum proyek strategis nasional itu digenangi pada dasawarsa 1990-an.

Fenomena Langka Pemicu Gelombang Nostalgia

Odon, yang bersama puluhan warga lainnya memadati tepian bendungan sejak siang hari, menyatakan bahwa kondisi yang terlihat kali ini sangat berbeda dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.

"Biasanya, kalau air lagi tinggi, yang kelihatan paling hanya pucuk-pucuk atap masjid saja. Tapi hari ini, banyak sekali rumah yang tampak utuh, bahkan jalan desa lamanya juga jelas terlihat,"
tuturnya di sela-sela menyaksikan pemandangan yang membentang di hadapan mereka.

Selain Odon, sejumlah warga lanjut usia yang dahulu merupakan penduduk asli kampung-kampung yang kini berada di dasar bendungan, tampak duduk di pinggiran sambil menunjuk-nunjuk ke arah bangunan tertentu. Mereka saling berbagi cerita tentang lokasi rumah kerabat, balai desa, hingga warung kopi legendaris yang pernah menjadi pusat interaksi sosial. Suasana haru bercampur antusiasme terlihat jelas dari ekspresi para mantan penghuni yang telah direlokasi lebih dari tiga dekade lalu.

Berdasarkan pantauan di lokasi, susutnya volume air Bendungan Karian diperkirakan mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir. Material bangunan berupa bata merah, sisa-sisa eternit, serta tiang-tiang kayu penyangga atap bermunculan di antara hamparan lumpur kering yang retak-retak diterpa terik matahari. Sebuah menara masjid yang dahulu menjadi penanda utama keberadaan Kampung Cikaret masih berdiri meski kondisi fisiknya telah lapuk dan berlumut tebal.

Penjelasan Teknis dan Imbauan Otoritas

Kepala Divisi Operasional dan Pemeliharaan Bendungan Karian, dalam keterangan resmi yang diterima Sabtu (25/7), menegaskan bahwa turunnya elevasi muka air merupakan dampak langsung dari berkurangnya intensitas hujan di daerah tangkapan air (catchment area) selama tiga bulan terakhir. Berdasarkan data yang dirilis oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian, curah hujan di hulu Sungai Ciberang mengalami defisit hingga 62 persen dibandingkan rerata tahunan.

Pihak pengelola bendungan memastikan bahwa situasi ini masih berada dalam ambang batas normal operasional dan tidak mengancam fungsi utama bendungan sebagai pemasok air baku bagi wilayah Serang, Cilegon, dan sebagian Kabupaten Lebak. Meski demikian, mereka mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki area bekas permukiman yang terbuka karena struktur bangunan yang telah terendam puluhan tahun dinilai sangat rapuh dan berpotensi ambruk sewaktu-waktu.

Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Camat Maja turut mengeluarkan surat edaran berisi larangan aktivitas penelusuran di dasar bendungan yang mengering.

"Kami memahami antusiasme warga, terlebih mereka yang memiliki keterikatan emosional dengan kampung halaman lama. Namun demi keselamatan bersama, kami meminta warga hanya menyaksikan dari jarak aman yang telah ditentukan,"
demikian bunyi salah satu poin imbauan camat setempat.

Sejarah Relokasi dan Jejak Peradaban yang Hilang

Genangan Bendungan Karian yang mulai beroperasi penuh pada tahun 1995 telah menenggelamkan sedikitnya empat kampung di dua desa, dengan total populasi terdampak mencapai lebih dari 1.200 kepala keluarga. Program relokasi yang dijalankan pemerintah kala itu memindahkan warga ke lokasi permukiman baru yang telah disiapkan di dataran lebih tinggi, lengkap dengan sertifikat tanah pengganti dan kompensasi tunai.

Kemunculan kembali jejak peradaban lama ini membuka kembali lembaran sejarah sosial masyarakat Lebak yang sempat terlupakan di bawah hamparan air seluas lebih kurang 1.800 hektare. Bangunan-bangunan yang kini mencuat ke permukaan menjadi saksi bisu transformasi lanskap dari kawasan agraris menjadi infrastruktur vital penyedia air bagi jutaan penduduk Banten. Bagi generasi muda yang tak pernah mengalami langsung kehidupan di kampung lama, fenomena ini menjadi pelajaran sejarah yang kasat mata dan menyentuh ruang perasaan.

Hingga berita ini ditulis, pengelola bendungan bersama pemerintah daerah terus melakukan pemantauan berkala dan berkoordinasi untuk mengantisipasi potensi lonjakan pengunjung yang dapat menimbulkan kerumunan serta risiko keselamatan di sekitar area bendungan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User