Jakarta — Menko Pangan Perkenalkan Teknologi Lahsamor BRIN Kurangi Sampah Organik
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik bernama Lahsamor hasil riset Badan Riset dan Inovasi Na
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik bernama Lahsamor hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Inovasi ini didesain untuk memangkas volume sampah organik rumah tangga dan pasar secara masif, sekaligus menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi. Perkenalan teknologi dilakukan di Pusat Riset Teknologi Pengolahan Limbah BRIN, kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie, Tangerang Selatan, pada Rabu (8/7).
Lahsamor merupakan akronim dari Larva Hermetia Sampah Organik, sistem bioreaktor tertutup yang memanfaatkan larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) untuk mengurai sampah organik dalam waktu 24 jam. Berbeda dari budi daya maggot konvensional yang umumnya berjalan terbuka, Lahsamor bekerja dalam wadah terkontrol dengan pengaturan suhu, kelembapan, dan aerasi otomatis. Satu unit Lahsamor berkapasitas 2 ton sampah organik per hari dan mampu menghasilkan 500 kilogram larva segar serta 300 kilogram pupuk organik padat setiap siklusnya.
Kronologi Perkenalan Teknologi Lahsamor
- 09.30 WIB — Kedatangan Menko di fasilitas riset. Zulkifli Hasan tiba di Pusat Riset Teknologi Pengolahan Limbah BRIN dan langsung meninjau ruang demonstrasi yang menampilkan empat unit prototype Lahsamor. Ia didampingi Kepala BRIN dan tim peneliti utama.
- 10.00 WIB — Paparan teknis oleh periset BRIN. Dr. Aditya Nugroho, ketua tim pengembang, memaparkan hasil uji coba selama delapan bulan terakhir. Data yang disampaikan menunjukkan efisiensi degradasi sampah organik mencapai 85 persen dalam 24 jam, dengan residu non-organik otomatis terpisah melalui sistem penyaringan ganda.
- 10.45 WIB — Demonstrasi langsung. Para hadirin menyaksikan proses pemasukan 50 kg campuran sisa sayur, kulit buah, dan limbah dapur ke dalam reaktor. Larva instar-4 yang telah disiapkan langsung memproses sampah. Dalam sesi itu, peneliti menekankan bahwa suhu internal reaktor dijaga pada 28–32 derajat Celsius untuk pertumbuhan larva optimal.
- 11.20 WIB — Dialog dan tanggapan Menko. Zulkifli Hasan menyebut Lahsamor sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi 30 persen sampah organik nasional pada 2029. Ia menegaskan Kemenko Pangan akan mendorong pilot project di sepuluh kota penghasil sampah organik tertinggi, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Medan, mulai triwulan pertama 2027.
- 12.00 WIB — Penandatanganan nota kesepakatan. BRIN dan Kemenko Pangan meneken dokumen kerja sama riset lanjutan dan alih teknologi kepada pemerintah daerah. Anggaran tahap awal disepakati sebesar Rp 45 miliar bersumber dari dana abadi riset dan APBN.
Teknologi Lahsamor dikembangkan sejak 2024 sebagai respons atas data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang mencatat 60 persen dari 33 juta ton timbulan sampah tahunan Indonesia adalah sampah organik. Selama ini, sebagian besar sampah organik berakhir di tempat pemrosesan akhir tanpa pengolahan, memicu emisi metana dan persoalan lahan. Tim BRIN menyatakan bahwa satu unit Lahsamor dapat menekan emisi setara 1,8 ton karbon dioksida per tahun dibanding pembusukan alami di TPA.
Dari sisi ekonomi, larva segar yang dihasilkan dapat langsung digunakan sebagai pakan ikan dan unggas dengan kandungan protein kasar 42–45 persen. Sementara pupuk organik padat mengandung C-organik lebih dari 30 persen dan telah lolos uji mutu sesuai standar SNI 19-7030-2004. Skema bisnis yang diusulkan melibatkan BUMDes dan koperasi pengelola sampah agar masyarakat mendapat manfaat langsung.
Zulkifli Hasan menambahkan, pengembangan Lahsamor akan diselaraskan dengan program Food Estate dan integrasi pakan mandiri. “Kita tidak bisa terus membuang sumber daya. Sampah organik ini bisa menjadi pakan dan pupuk yang justru mendukung ketahanan pangan,” ujarnya. Ia juga meminta BRIN menyiapkan model bisnis skala mikro untuk rumah tangga dalam kurun dua tahun ke depan.
BRIN menargetkan teknologi Lahsamor siap dikomersialkan pada akhir 2026 dengan harga per unit diperkirakan Rp 150 juta, sudah termasuk pelatihan dan pemeliharaan setahun pertama. Beberapa pemerintah kota, seperti Bandung dan Semarang, disebut telah menyatakan minat awal untuk mengadopsi sistem ini dalam program pengelolaan sampah berbasis sumber.
Comments (0)