Sep 17, 2026
Nasional

JAKARTA — Dokter Ungkap Alasan Kanker Prostat Sering Mengintai Pria Usia 50 Tahun

Di balik bayang-bayang proses penuaan yang alami, ancaman kesehatan serius kerap mengintai para pria yang telah memasuki usia setengah abad. Salah satu gan

JAKARTA — Dokter Ungkap Alasan Kanker Prostat Sering Mengintai Pria Usia 50 Tahun

Di balik bayang-bayang proses penuaan yang alami, ancaman kesehatan serius kerap mengintai para pria yang telah memasuki usia setengah abad. Salah satu gangguan kesehatan yang paling sering menghantui adalah kanker prostat. Memasuki usia 50 tahun, risiko seorang pria untuk terdiagnosis penyakit sistem reproduksi ini meningkat secara signifikan. Sayangnya, banyak pria menganggap penurunan fungsi berkemih sekadar hal wajar akibat penuaan, padahal kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahaya yang patut diwaspadai.

Kelenjar prostat yang terletak di bawah kandung kemih memiliki peran vital dalam memproduksi cairan semen. Namun, seiring berjalannya waktu, organ berukuran sebesar buah zaitun ini rawan mengalami perubahan struktur sel yang abnormal dan berpotensi menjadi ganas.

Faktor Usia dan Perubahan Hormon Jadi Pemicu Utama

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi, dr. Andar R. Siregar, Sp. U, Subsp. Onk. (K), MARS, membeberkan alasan mendasar mengapa penyakit ini jauh lebih dominan ditemukan pada kelompok usia tua. Menurutnya, akumulasi kerusakkan genetik atau mutasi sel pada prostat yang berlangsung bertahun-tahun menjadi faktor determinan utama.

"Seiring bertambahnya usia, kelenjar prostat mengalami pembesaran secara alami. Namun, ketika terjadi kerusakan atau mutasi genetik yang tidak terkendali pada sel, pembesaran tersebut dapat berkembang menjadi keganasan atau kanker," kata dr. Andar.

Selain faktor regenerasi sel yang melambat, fluktuasi dan perubahan tingkat hormon testosteron serta dihydrotestosterone (DHT) pada pria lanjut usia memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan jaringan abnormal pada area prostat. Risiko ini semakin berlipat ganda apabila pasien memiliki gaya hidup tidak sehat, riwayat obesitas, atau memiliki anggota keluarga dengan riwayat medis serupa.

Mengenali Gejala Awal dan Membedakannya dari Pembesaran Jinak

Sering kali kanker prostat dijuluki sebagai "silent killer" karena pada stadium awal, pertumbuhan sel kanker berlangsung sangat lambat dan hampir tidak menimbulkan rasa sakit. Gangguan baru terasa ketika ukuran tumor mulai membesar hingga menekan saluran kencing (uretra).

Untuk membantu masyarakat memahami perbedaan antara gangguan berkemih biasa dan indikasi keganasan, berikut adalah gambaran komparasi kondisi klinis yang kerap ditemui:

Kondisi / Indikator Pembesaran Prostat Jinak (BPH) Kanker Prostat (Keganasan)
Sifat Pertumbuhan Non-kanker, meluas perlahan. Sel abnormal membelah cepat dan invasi jaringan.
Gejala Utama Pancaran urine melemah, sering kencing. Pancaran terputus, nyeri tulang, darah pada sperma/urine.
Kadar PSA Darah Normal hingga sedikit meningkat. Meningkat secara signifikan (di atas batas aman).

Beberapa gejala umum yang tidak boleh diabaikan oleh pria usia lanjut antara lain:

  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat drastis, terutama di malam hari (nokturia).
  • Kesulitan untuk memulai atau menahan buang air kecil.
  • Sensasi rasa tidak tuntas setelah selesai berkemih.
  • Adanya jejak darah dalam urine maupun air mani (semen).
  • Rasa nyeri atau tidak nyaman pada pinggul, punggung bawah, atau paha bagian atas.

Pentingnya Skrining dan Deteksi Dini

Medis mencatat bahwa peluang kesembuhan kanker prostat sangat bergantung pada stadium saat penyakit pertama kali ditemukan. "Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, dan mendeteksi lebih awal adalah kunci utama menyelamatkan nyawa pasien," tegas dr. Andar.

Beliau sangat menyarankan agar para pria yang telah menginjak usia 50 tahun—atau usia 45 tahun bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga pengidap kanker—segera melakukan pemeriksaan skrining secara berkala. Prosedur deteksi dini umumnya melibatkan dua pemeriksaan dasar yang amat efektif:

  • Tes Darah PSA (Prostate-Specific Antigen): Uji laboratorium untuk mengukur konsentrasi protein PSA di dalam darah. Lonjakan angka PSA sering menjadi indikasi utama adanya peradangan atau keganasan pada prostat.
  • Colok Dubur (Digital Rectal Examination / DRE): Pemeriksaan fisik langsung oleh dokter spesialis urologi untuk mengevaluasi ukuran, tekstur, serta kekenyalan kelenjar prostat guna menemukan benjolan abnormal.

Jika terdeteksi sejak stadium dini sebelum sel kanker menyebar (metastasis) ke organ tubuh lain, tingkat keberhasilan terapi dan angka kelangsungan hidup pasien kanker prostat dapat mencapai lebih dari 90 persen. Edukasi yang masif diharapkan mampu menghilangkan rasa canggung atau malu pada pria untuk rutin memeriksakan kesehatan reproduksi mereka ke fasilitas kesehatan terdekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User