Jakarta — BEI Sebut Modal Asing Bisa Kabur Hingga Rp3,6 Triliun Akibat S&P
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan potensi arus modal asing keluar hingga US$200 juta atau setara Rp3,6 triliun setelah S&P Dow Jones Index
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan potensi arus modal asing keluar hingga US$200 juta atau setara Rp3,6 triliun setelah S&P Dow Jones Index (DJI) membuka opsi penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menyatakan pihaknya masih menghitung angka pasti dampak pengumuman tersebut, namun estimasi awal berbicara tentang potensi aksi jual bersih yang signifikan.
Kronologi Pengumuman dan Respons BEI
- S&P Dow Jones Index membuka opsi penurunan status. Lembaga penyedia indeks global itu mengumumkan pihaknya tengah mengevaluasi ulang klasifikasi pasar modal Indonesia yang saat ini berada di kategori Emerging Market untuk diturunkan menjadi Frontier Market. Evaluasi ini merujuk pada sejumlah indikator aksesibilitas dan likuiditas pasar.
- Pernyataan resmi BEI pada Rabu (8/7/2026). Menanggapi pengumuman tersebut, Irvan Susandy memberikan keterangan langsung di Gedung BEI, Jakarta Selatan. Ia mengakui bahwa kabar tersebut memicu kekhawatiran di kalangan investor asing yang mengacu pada indeks S&P.
- Estimasi arus keluar modal asing. Irvan menyebut data awal mengindikasikan potensi outflow sekitar US$200 juta. Dengan kurs Rp18.010 per dolar AS, nilai tersebut setara Rp3,6 triliun. "Yang saya dengar dari beberapa pihak sih sekitar US$200 juta, mungkin sekitar Rp3,5 triliun hingga Rp4 triliun. Terus sekarang kami lagi mencari angka dan lagi cari hitungan kira-kira apa saja dan berapa yang akan keluar," ujar Irvan.
- Kalkulasi dampak masih berlangsung. BEI bersama pelaku pasar tengah merinci instrumen dan aliran dana mana yang paling terpengaruh. Proses ini penting untuk memetakan langkah mitigasi yang tepat.
- Belum ada angka final. Hingga pernyataan disampaikan, BEI belum menetapkan besaran pasti net foreign sell yang akan terjadi. Pasar menanti hasil kalkulasi resmi untuk mengukur tekanan yang mungkin timbul pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Mengapa Status Pasar Modal Penting
Klasifikasi S&P DJI menjadi acuan bagi banyak investor institusional global dalam menentukan alokasi aset. Status Emerging Market menunjukkan pasar dengan likuiditas, ukuran, dan aksesibilitas yang lebih baik, sehingga menarik dana kelolaan besar. Jika status turun ke Frontier Market, sejumlah dana indeks dan reksa dana global dapat terpaksa melakukan divestasi karena aturan mandat investasi mereka. Imbasnya, terjadi aksi jual bersih yang menekan harga saham dan memicu arus modal keluar yang diestimasi BEI.
Selama ini, status Emerging Market turut menopang minat investor asing di pasar modal Indonesia. Potensi penurunan peringkat akan menambah tekanan di tengah kondisi makroekonomi yang masih menantang. Irvan Susandy menegaskan, BEI bekerja sama dengan regulator untuk menjaga kredibilitas dan memastikan tidak ada kendala akses yang menjadi alasan penurunan status tersebut.
Meski estimasi awal menyentuh Rp3,6 triliun, angka final bisa berubah tergantung hasil kalkulasi detail dan respons kebijakan. BEI mengimbau pelaku pasar untuk mencermati perkembangan sembari menunggu hasil kajian resmi yang dijadwalkan rampung dalam waktu dekat.
Comments (0)