Jakarta, Apaberita.com – Waktu menunjukkan pukul 11.45 WIB. Sentra kuliner di Jalan Walahar, Bendungan Hilir, Jakarta
Di balik segarnya cendol racikannya, Saripudin mengandalkan kemudahan transaksi digital untuk melayani para pelanggan. Kini, hampir tak ada lagi antrean panjang karena uang pas-pasan. Sebuah stiker QR
Di balik segarnya cendol racikannya, Saripudin mengandalkan kemudahan transaksi digital untuk melayani para pelanggan. Kini, hampir tak ada lagi antrean panjang karena uang pas-pasan. Sebuah stiker QRIS BRI terpampang di depan gerobaknya. “Tinggal scan, sudah beres. Pelanggan nggak perlu repot cari uang kecil, saya juga langsung terima notifikasi di hape. Enak, praktis,” ujarnya saat berbincang dengan Apaberita.com di sela kesibukannya, Rabu (12/3).
QRIS BRI Andalkan Transaksi Tanpa Ribet
Saripudin mengaku memasang QRIS BRI sejak setahun terakhir. Awalnya, ia hanya menyediakan opsi tunai. Namun, melihat kebiasaan pelanggan yang mayoritas pekerja kantoran dan mahasiswa yang jarang membawa uang cash, ia pun beralih. Kini, lebih dari separuh transaksi hariannya berasal dari pembayaran digital, dan mayoritas melalui scan QRIS yang disediakan oleh Bank BRI.“Dulu sering kehilangan penjualan karena pembeli nggak bawa uang pas. Sekarang mereka tinggal scan pakai hape masing-masing, langsung lunas. Saya nggak perlu khawatir uang palsu juga. Semua tercatat rapi di aplikasi,” tambahnya.Dengan satu pindai, dana langsung masuk ke rekeningnya. Bagi Saripudin, ini bukan sekadar kemudahan, melainkan juga alat bantu pencatatan keuangan sederhana yang membantunya mengelola modal dan keuntungan harian. Ia bisa mengecek riwayat transaksi kapan saja tanpa perlu buku besar. Laporan Apaberita.com mencatat, geliat penggunaan QRIS di kalangan pedagang kecil seperti Saripudin terus meningkat. Bank BRI, melalui agen BRILink dan sosialisasi di pasar-pasar, gencar mendorong inklusi keuangan digital hingga ke sektor informal. Pedagang es cendol di Benhil pun dapat merasakan manfaatnya secara langsung. Tanpa perlu mesin EDC atau modal besar, cukup ponsel pintar dan stiker QR, transaksi berjalan lancar. Pantauan di lokasi, dalam tempo kurang dari satu jam, puluhan pembeli bergantian memesan es cendol durian suji racikan Saripudin. Sebagian besar langsung mengarahkan kamera ponsel ke kode QR BRI sebelum menikmati minuman dingin pelepas dahaga itu. Tak ada lagi keluhan soal kembalian. Dari segi bisnis, Saripudin juga mengaku omzetnya lebih stabil karena tak lagi kehilangan pembeli akibat ketiadaan uang tunai. Kisah pedagang es cendol di Bendungan Hilir ini menjadi potret nyata bagaimana digitalisasi menyentuh hingga ke lapak paling sederhana sekalipun. Yang diperlukan hanyalah kemauan dan akses terhadap layanan keuangan yang inklusif. QRIS BRI bukan sekadar alat bayar, melainkan jembatan bagi para pelaku usaha mikro untuk tetap bertahan dan tumbuh di tengah derasnya arus modernisasi.
Comments (0)