Inseminasi Buatan Jadi Andalan Lebak Dongkrak Populasi Kerbau
Pemerintah Kabupaten Lebak menempatkan teknologi inseminasi buatan (IB) sebagai pilar utama dalam program pengembangan peternakan kerbau. Langkah tersebut diresmikan pada Rapat Koordinasi Daerah Bidan...
Pemerintah Kabupaten Lebak menempatkan teknologi inseminasi buatan (IB) sebagai pilar utama dalam program pengembangan peternakan kerbau. Langkah tersebut diresmikan pada Rapat Koordinasi Daerah Bidang Peternakan yang digelar di Aula Sekretariat Daerah, Senin (17/3/2026). Kebijakan ini diambil menyusul evaluasi bahwa populasi kerbau di wilayah Banten bagian selatan itu tumbuh kurang dari tiga persen per tahun selama satu dekade terakhir.
Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, menegaskan bahwa intervensi bioteknologi reproduksi menjadi sebuah keharusan. "Kami tidak bisa hanya mengandalkan perkawinan alami. Perlu percepatan melalui IB agar dalam dua tahun ke depan populasi kerbau di Lebak bisa menembus angka 30 ribu ekor," ujarnya. Saat ini, berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan per Desember 2025, populasi kerbau di Kabupaten Lebak tercatat sebanyak 22.400 ekor, tersebar di 28 kecamatan dengan konsentrasi terbesar di wilayah Malingping, Cilograng, dan Bayah.
Strategi dan Sumber Daya Program
Untuk merealisasikan target ambisius tersebut, Pemerintah Kabupaten Lebak telah menyiapkan 1.200 dosis semen beku yang berasal dari pejantan unggul jenis kerbau rawa dan murrah dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Semen beku ini akan didistribusikan bersama dengan 28 inseminator terlatih yang disebar ke seluruh kecamatan. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, H. Asep Supriatna, menjelaskan bahwa setiap inseminator dilengkapi dengan peralatan cold chain portable agar kualitas semen tetap terjaga hingga ke pelosok desa.
Program ini menargetkan 5.000 akseptor pada tahun 2026. Setiap induk kerbau akan menerima layanan pemeriksaan reproduksi gratis, sinkronisasi estrus, dan pendampingan kebuntingan hingga kelahiran. Anggaran sebesar Rp4,8 miliar dari APBD dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pertanian tahun anggaran 2026 dialokasikan untuk mendukung operasional ini. "Kita ingin memastikan bahwa angka kebuntingan dari IB bisa mencapai minimal 65 persen, sehingga pada 2027 kita bisa menuai tambahan populasi yang signifikan," ucap Asep.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan Peternak
Inseminasi buatan bukan sekadar alat peningkatan populasi, tetapi juga instrumen perbaikan mutu genetik yang langsung berdampak pada pendapatan peternak. Drh. Endang Suherman, Kepala Bidang Peternakan, menyebut bahwa keturunan hasil IB memiliki potensi bobot lahir lebih berat dan pertumbuhan harian yang lebih cepat. "Peternak bisa menjual kerbau muda dengan harga lebih tinggi. Ini memperpendek masa penggemukan dan menekan biaya pakan," jelasnya.
Ketua Kelompok Ternak “Mekar Jaya” Desa Binuangeun, Muhammad Nur, mengapresiasi langkah pemerintah. "Selama ini kami sulit mendapat kerbau jantan unggul. Kalau ada pun harganya bisa di atas Rp40 juta. Dengan IB, biaya inseminasi hanya sekitar Rp150 ribu dan disubsidi penuh. Ini sangat membantu modal kami," tuturnya. Pemerintah daerah juga memperkuat kelembagaan peternak melalui pembentukan 12 kelompok penerima kandang komunal yang dilengkapi alat pencacah hijauan dan gudang pakan.
Kolaborasi Multisektor
Keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi lintas lembaga. Selain menggandeng BBIB Singosari untuk pasokan semen beku dan pelatihan inseminator, Pemerintah Kabupaten Lebak menjalin kerja sama riset dengan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB). "Kami sedang meneliti adaptasi kerbau unggul terhadap pakan berbasis jerami fermentasi yang banyak terdapat di Lebak. Hasilnya akan menjadi rekomendasi bagi peternak," kata Dr. Ir. Rudi Hidayat, peneliti dari IPB. Kerja sama dengan pemerintah pusat juga mencakup bantuan alat deteksi kebuntingan ultrasonografi (USG) portabel untuk mempercepat diagnosis.
Mengatasi Hambatan Lapangan
Sejumlah kendala diakui masih membayangi, terutama tingkat pemahaman peternak terhadap teknologi reproduksi dan akses geografis. Untuk itu, Dinas Pertanian dan Peternakan menggelar sosialisasi massif di 28 kecamatan sejak Januari hingga Maret 2026. "Kami menggunakan metode demonstrasi plot di kandang kelompok, sehingga peternak melihat langsung proses IB dan hasilnya," ujar Asep. Selain itu, tim inseminator dilengkapi kendaraan operasional khusus yang sanggup menempuh medan perbukitan di Lebak selatan.
Sistem pemantauan reproduksi berbasis digital turut diujicobakan. Setiap peternak yang mendaftar akan dicatat dalam aplikasi “SiKarbau” yang memuat data identitas ternak, siklus estrus, dan riwayat IB. Aplikasi ini memudahkan inseminator untuk menjadwalkan kunjungan tepat waktu tanpa kehilangan momen birahi induk. "Kami targetkan tidak ada akseptor yang gagal IB karena terlambat deteksi birahi," tegas Asep.
Dengan memadukan bioteknologi, perbaikan pakan, dan penguatan kapasitas peternak, Lebak bercita-cita menjadi sentra kerbau penyangga bagi Provinsi Banten dan Jawa Barat. Program ini sekaligus menjadi percontohan nasional bagaimana daerah otonom memanfaatkan inovasi untuk membangun kedaulatan pangan berbasis peternakan rakyat.
Comments (0)