Indonesia Menimbang Efisiensi Produksi Udang Hadapi Dominasi Ecuador

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilai ekspor udang Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai US$1,87 miliar, atau setara dengan 29,8 persen dari total nilai ekspor produk perikanan nas...

Indonesia Menimbang Efisiensi Produksi Udang Hadapi Dominasi Ecuador

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilai ekspor udang Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai US$1,87 miliar, atau setara dengan 29,8 persen dari total nilai ekspor produk perikanan nasional, sementara persaingan global semakin ketat ditandai dengan lonjakan ekspor udang Ecuador yang mencapai 1,39 juta ton senilai US$7,48 miliar, sehingga menimbulkan pertanyaan strategis apakah kebijakan pembangunan tambak nasional harus berorientasi pada peningkatan tonase atau penekanan biaya produksi per kilogram.

Data Ekspor dan Peta Persaingan Global

Berdasarkan data National Aquaculture Chamber (CNA) yang dikutip SeafoodSource pada 2026, ekspor udang Ecuador pada 2025 mencatatkan peningkatan volume sebesar 15 persen dan kenaikan nilai sebesar 23 persen dibandingkan tahun 2024. Amerika Serikat menjadi salah satu pasar utama, dengan volume ekspor Ecuador ke negara tersebut melonjak 26 persen pada periode yang sama. Sementara itu, Amerika Serikat juga masih menempati posisi sebagai tujuan ekspor perikanan terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$1,99 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih mempertahankan relevansi di pasar internasional. Namun, para pengamat menyatakan bahwa pencapaian volume ekspor tidak boleh mengaburkan persoalan mendasar mengenai struktur biaya produksi dalam negeri. Pertanyaan krusial yang kini muncul adalah berapa rupiah yang harus dikeluarkan Indonesia untuk menghasilkan satu kilogram udang dibandingkan dengan pesaing utama di pasar global.

Produktivitas Lahan versus Biaya Produksi

Budidaya udang intensif di Indonesia memiliki keunggulan dalam produktivitas per satuan luas. Data penelitian Ritonga dan kawan-kawan pada 2024 menunjukkan bahwa kepadatan tebar sistem intensif berada pada kisaran 172 hingga 177 ekor per meter persegi, dengan variasi performa yang cukup besar antarpetak. Model ini memungkinkan produksi puluhan ton per hektare per siklus. Secara teknis, pencapaian tersebut patut diapresiasi, namun secara ekonomi, produktivitas tinggi belum tentu identik dengan efisiensi tinggi.

Setiap tambahan biomassa membawa konsekuensi operasional yang signifikan. Konsumsi pakan meningkat, kebutuhan oksigen semakin tinggi, aerasi harus lebih intensif, penggunaan listrik semakin besar, pengelolaan limbah menjadi lebih kompleks, dan risiko penyakit berpotensi menimbulkan kerugian besar apabila gagal dikendalikan. Dalam kaitannya, para pakar menegaskan bahwa kebijakan pengembangan tambak harus menindaklanjuti temuan empiris mengenai keseimbangan antara output fisik dan beban biaya yang ditimbulkan.

Boyd, Davis, dan McNevin pada 2021 telah menyusun perbandingan penggunaan sumber daya budidaya udang di Ecuador, India, Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai keunggulan dalam efisiensi penggunaan lahan. Namun keunggulan lahan tersebut tidak otomatis berarti Indonesia memiliki biaya produksi per kilogram paling rendah. Temuan ini ditetapkan sebagai acuan penting bagi penyusunan keputusan pengelolaan sektor akuakultur ke depan.

Restrukturisasi Kebijakan Sektor Akuakultur

Di hadapan dinamika tersebut, pemerintah dan pelaku industri dihadapkan pada pilihan strategis. Opsi pertama adalah melanjutkan ekspansi areal dan peningkatan tonase dengan tetap menggunakan pola intensif. Opsi kedua adalah mengarahkan pembangunan tambak pada sistem yang mampu menghasilkan setiap kilogram udang dengan biaya seefisien mungkin, meskipun dalam volume absolut mungkin tidak settinggi pendekatan konvensional.

"Kita harus jujur menilai apakah tambak yang kita bangun diarahkan untuk memaksimalkan tonase atau untuk membangun bisnis yang efisien secara ekonomi," ujar seorang analisis kebijakan perikanan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan kini dituntut untuk menyusun regulasi yang mendorong efisiensi biaya, bukan semata mengejar target luasan tambak. Langkah tersebut mencakup standarisasi teknologi aerasi, pengendalian kualitas pakan, dan penerapan manajemen risiko penyakit berbasis data. Dengan demikian, daya saing udang Indonesia di pasar global dapat diperkuat tidak hanya melalui angka ekspor, tetapi juga melalui kekokohan struktur produksi yang mampu bertahan dalam persaingan harga internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User