Ilmuwan Temukan Tes Deteksi Kanker 95,5 Persen Akurat dalam Satu Jam
LONDON, APABERITA.COM — Tim gabungan ilmuwan dari Inggris dan India berhasil menciptakan terobosan medis yang berpotensi mengubah lanskap diagnosis kanker
LONDON, APABERITA.COM — Tim gabungan ilmuwan dari Inggris dan India berhasil menciptakan terobosan medis yang berpotensi mengubah lanskap diagnosis kanker global: sebuah tes deteksi cepat yang hanya memakan waktu satu jam dengan tingkat akurasi mencapai 95,5 persen. Inovasi ini diharapkan menjadi jawaban atas keterbatasan akses deteksi dini, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal bergengsi Nature Biomedical Engineering tersebut melibatkan para peneliti dari University of Cambridge dan Indian Institute of Science. Mereka mengembangkan metode non-invasif berbasis analisis sampel napas dan urine untuk mengidentifikasi senyawa volatil organik (VOC) yang menjadi penanda awal keberadaan sel kanker. Berbeda dengan biopsi atau CT scan yang mahal dan invasif, teknologi ini hanya memerlukan embusan napas pasien.
Bagaimana Tes Satu Jam Ini Bekerja?
Teknologi ini memanfaatkan prinsip profiling senyawa organik volatil (VOC). Sel kanker diketahui menghasilkan pola VOC tertentu yang berbeda dari sel sehat. Sensor nanoteknologi yang tertanam dalam alat portabel tersebut mampu menangkap dan membaca ratusan biomarker dalam waktu kurang dari 60 menit. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk membedakan antara pasien kanker dan individu sehat.
"Kami merancang platform yang bisa membedakan kanker hanya dengan mengembuskan napas ke dalam alat. Ini sesederhana meniup balon," ujar Prof. Ravi Shankar, kepala tim peneliti dari India, dalam konferensi pers virtual yang dihadiri Apaberita.com.
Uji klinis yang melibatkan 2.000 pasien dari lima rumah sakit besar di Inggris dan India menunjukkan hasil menjanjikan. Tes ini diujikan pada empat jenis kanker utama: paru-paru, payudara, usus besar, dan prostat. Hasilnya, sistem menunjukkan sensitivitas 94,8% dan spesifisitas 96,2%, sehingga akurasi keseluruhan mencapai 95,5%. Artinya, hanya 4,5% kasus yang berpotensi salah diagnosis, sebuah capaian yang sebanding dengan metode biopsi standar.
Harapan Baru untuk Deteksi Dini Massal
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia dengan 10 juta kematian per tahun. Sebanyak 70% kematian terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana akses terhadap diagnosis dini sangat terbatas. Dengan biaya produksi diperkirakan hanya 15 dolar AS (sekitar Rp230.000) per tes, alat ini diyakini mampu menjangkau daerah pedesaan dan puskesmas yang minim fasilitas.
"Jika diterapkan secara massal, kami yakin tes ini dapat menurunkan angka kematian akibat kanker hingga 30% dalam satu dekade, terutama di daerah dengan akses kesehatan terbatas," kata Dr. Emily Watson, peneliti senior dari Cambridge yang turut memimpin studi.
Saat ini, tim peneliti sedang mengupayakan sertifikasi dari badan regulasi seperti FDA (Amerika Serikat) dan EMA (Eropa), serta menjalin kerja sama dengan perusahaan alat kesehatan global untuk memproduksi unit secara komersial. Diperkirakan alat ini dapat tersedia di pasar dalam 3–5 tahun ke depan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menyambut positif temuan ini. "Ini lompatan besar. Kami akan mengkaji kemungkinan adopsi teknologi ini dalam program deteksi dini kanker nasional," ujar juru bicara Kemenkes.
Selain biaya murah, keunggulan lain adalah kemudahan penggunaan. Alat ini tidak memerlukan tenaga medis spesialis, sehingga dapat dioperasikan oleh bidan desa atau kader kesehatan setelah pelatihan singkat. "Kami membayangkan suatu hari alat ini ada di setiap apotek, seperti alat tes kehamilan," tambah Prof. Shankar. Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menguji efektivitas pada jenis kanker langka dan stadium sangat awal.
Kategori
Popular Posts
Related Posts
Popular Posts