Harga minyak mentah global ditutup melemah pada perdagangan Rabu (7/10), setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Pelemahan tersebut terjadi menyusul keputusan Badan Energi Internasional (IEA) yang menyepakati percepatan pelepasan stok minyak dan memprioritaskan penyaluran diesel guna menekan harga bahan bakar yang telah menyentuh rekor tertinggi di tengah eskalasi konflik Iran yang memperketat pasokan global.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent ditutup turun 38 sen atau 0,38 persen menjadi USD 100,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup melemah USD 1,16 atau 1,3 persen menjadi USD 88,28 per barel.
IEA menyatakan bahwa penyelesaian pelepasan stok minyak yang telah diumumkan sebelumnya secara dipercepat dapat membawa sekitar 100 juta barel ke pasar. Meski demikian, sejumlah analis dan pemerintah menilai angka tersebut tidak serta-merta mencerminkan adanya intervensi baru dengan volume sebesar itu.
Radio Franceinfo melaporkan pada Rabu (7/10), dengan mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, bahwa Prancis akan melepas 10 juta barel diesel dari cadangan strategisnya.
Tekanan Pasokan Eropa dan Dampaknya bagi AS
"Eropa adalah pusat dari keseluruhan krisis pasokan ini, dan pelepasan stok tersebut menyasar persoalan itu serta sedikit meredakan tekanan terhadap kebutuhan WTI. Hal ini seharusnya mengurangi sebagian tekanan pada pasokan AS,"
Demikian pernyataan mitra di Again Capital, John Kilduff, menegaskan posisi Eropa sebagai episentrum krisis pasokan yang turut memengaruhi dinamika harga minyak mentah Amerika Serikat.
Sementara itu, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah dan produk distilat AS mengalami penurunan, sedangkan stok bensin justru meningkat pada pekan lalu.
EIA melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober. Angka tersebut berlawanan dengan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan persediaan justru naik 1,7 juta barel.
Investor Belum Yakin atas Ketahanan Pasokan Timur Tengah
Di sisi lain, investor belum yakin bahwa kenaikan pasokan dan ekspor dari Timur Tengah belakangan ini dapat bertahan dalam jangka panjang. Analis PVM, Tamas Varga, menyatakan harga minyak juga mendapat dukungan dari badai yang mendekati wilayah Amerika Serikat serta konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan Ukraina.
Menurut Kementerian Transportasi negara tersebut, kelompok Houthi Yaman menyerang Bandara Internasional Aden menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Serangan itu terjadi ketika pertempuran antara kelompok yang bersekutu dengan Iran dan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi semakin intensif.
Kilduff menambahkan bahwa serangan di Timur Tengah telah membatasi penurunan harga Brent dibandingkan dengan minyak mentah berjangka AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan tersebut masih menjadi faktor penentu yang menahan pelemahan harga lebih dalam.
Respons Pasar dan Proyeksi Jangka Pendek
Keputusan IEA untuk mempercepat pelepasan cadangan strategis dinilai sebagai langkah intervensi pasar yang bersifat sementara. Para pelaku pasar mencermati bahwa efektivitas kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta kondisi cuaca yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi di Amerika Serikat.
Dengan turunnya persediaan minyak mentah AS di luar perkiraan analis, pasar masih dibayangi ketidakpastian mengenai keseimbangan antara pasokan dan permintaan global. Pelepasan cadangan strategis dari Eropa dan Amerika Serikat diharapkan mampu meredam lonjakan harga, meski tekanan struktural akibat konflik berkepanjangan tetap menjadi risiko utama bagi stabilitas harga minyak mentah dunia.
Perkembangan situasi di Bandara Internasional Aden dan eskalasi konflik di Ukraina akan terus menjadi perhatian investor dalam menentukan arah pergerakan harga minyak mentah pada perdagangan berikutnya.
Comments (0)