Aug 26, 2026
Politik

IDAI Rilis Panduan Lindungi Anak dari Paparan Kabut Asap Karhutla

JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan perlunya langkah perlindungan menyeluruh terhadap anak-anak dari paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menyeli...

IDAI Rilis Panduan Lindungi Anak dari Paparan Kabut Asap Karhutla

JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan perlunya langkah perlindungan menyeluruh terhadap anak-anak dari paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia. Organisasi profesi kedokteran tersebut menyatakan bahwa memburuknya kualitas udara bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan saluran pernapasan kelompok usia dini.

Berdasarkan catatan lapangan, kebakaran lahan telah mendekati kawasan permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut membuat anak-anak yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran berpotensi terpapar asap secara langsung setiap hari, sehingga langkah mitigasi kesehatan dituntut untuk segera diterapkan oleh keluarga maupun instansi terkait.

Anak Dinilai Kelompok Paling Rentan

IDAI menetapkan anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan mengalami dampak buruk kabut asap. Penilaian tersebut didasarkan pada setidaknya tiga faktor biologis. Pertama, frekuensi napas anak lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga volume udara yang dihirup per kilogram berat badan jauh lebih besar. Kedua, saluran pernapasan serta sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan dan belum matang sempurna untuk melawan polutan. Ketiga, anak cenderung lebih aktif bergerak dan melakukan aktivitas fisik, sehingga jumlah polutan yang masuk ke tubuhnya bertambah ketika berada di ruang terbuka.

Paparan kabut asap karhutla diketahui mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, serta senyawa beracun lainnya. Zat-zat tersebut dapat memicu iritasi mata, batuk berkepanjangan, penurunan fungsi paru, hingga serangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Bagi anak dengan riwayat asma, paparan asap juga berpotensi memperburuk gejala penyakit yang dideritanya apabila tidak segera ditangani.

Panduan Praktis bagi Orang Tua

Untuk meminimalkan risiko kesehatan si kecil, IDAI menetapkan sejumlah panduan yang dapat diterapkan orang tua maupun pengasuh selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

1. Batasi Aktivitas di Luar Ruangan. Anak hendaknya tetap berada di dalam rumah selama kondisi udara tidak sehat. Kegiatan bermain di luar, olahraga di ruang terbuka, maupun kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang terpapar udara bebas sebaiknya ditunda hingga kualitas udara membaik.

2. Ciptakan Ruang Bersih di Dalam Rumah. Udara interior perlu dijaga dengan menutup rapat jendela dan celah udara, memasang alat pembersih udara bila tersedia, serta rutin membersihkan lantai dan permukaan perabot dari debu agar partikel polutan tidak menumpuk di dalam ruangan.

3. Gunakan Masker yang Sesuai. Bila anak terpaksa beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dengan standar proteksi memadai dianjurkan. Orang tua juga perlu memastikan ukuran masker pas dengan wajah anak agar perlindungannya efektif.

4. Cukupi Kebutuhan Cairan dan Gizi. Asupan air minum yang cukup membantu menjaga kelembapan saluran napas, sementara nutrisi seimbang mendukung daya tahan tubuh anak dalam menghadapi paparan polutan.

5. Pantau Kondisi Kesehatan Secara Berkala. Orang tua diminta waspada terhadap gejala awal seperti batuk, pilek, demam, mata merah, hingga sesak napas. Apabila keluhan tidak kunjung membaik atau justru memberat, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk memperoleh penanganan medis.

Kolaborasi Lintas Pihak Dinilai Penting

Selain peran orang tua, IDAI mengimbau sekolah dan pemerintah daerah turut ambil bagian dalam melindungi anak dari paparan kabut asap. Institusi pendidikan dapat menyesuaikan kegiatan belajar, antara lain dengan menerapkan pembelajaran daring ketika indeks kualitas udara mencapai level berbahaya. Adapun pemerintah daerah diharapkan mempercepat penanganan titik-titik kebakaran serta menyebarluaskan informasi kualitas udara secara rutin kepada masyarakat.

Langkah-langkah tersebut dinilai perlu dijalankan secara terpadu mengingat potensi kebakaran lahan masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. IDAI menegaskan bahwa pencegahan dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah anak jatuh sakit, sehingga seluruh elemen masyarakat diharapkan aktif memastikan anak-anak tetap beraktivitas di lingkungan yang aman dan sehat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User