Halmahera Utara - Program rehabilitasi ekosistem pesisir yang digagas PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) di wilayah Desa K
Berdasarkan laporan yang dihimpun Apaberita.com, inisiatif ini merupakan kolaborasi multipihak yang solid. Program penanaman ini dieksekusi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku Utara,
Berdasarkan laporan yang dihimpun Apaberita.com, inisiatif ini merupakan kolaborasi multipihak yang solid. Program penanaman ini dieksekusi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku Utara, DLH Kabupaten Halmahera Utara, serta Pemerintah Desa Kao. Satu lagi aktor kunci di lapangan adalah Komunitas Green Kaidati, yang menjadi motor penggerak konservasi di tingkat akar rumput. Keseluruhan proyek ini menaungi lahan seluas kurang lebih 0,8 hektar yang ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE), dengan total 600 bibit mangrove yang tertanam.
Dari Lahan Kritis Menuju Ekosistem Produktif
Sebelumnya, area ini mengalami degradasi cukup parah. Kini, kondisinya berbalik seratus delapan puluh derajat. Lahan tersebut telah bertransformasi menjadi ekosistem yang tidak hanya produktif secara ekologis, tetapi juga menjelma sebagai habitat ideal bagi beragam jenis margasatwa. Kehadiran burung air, ikan-ikan kecil, dan biota laut lainnya menjadi indikator pemulihan kualitas lingkungan yang signifikan.
Pemilihan lokasi di Sungai Naul bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai strategis sekaligus rentan terhadap abrasi. Dengan tingkat pertumbuhan tanaman yang menyentuh angka 90 persen, fungsi mangrove sebagai benteng alami pelindung garis pantai kini mulai bekerja optimal. Akar-akar mangrove tidak hanya menahan sedimen dan mencegah pengikisan daratan, melainkan juga menjadi tempat pemijahan biota laut yang vital bagi rantai makanan.
Keberlanjutan program menjadi kunci utama yang ditekankan dalam konservasi ini. Menurut sumber Apaberita.com, pengelolaan kawasan tidak berhenti pada seremoni penanaman semata. Komunitas Green Kaidati secara aktif mengambil peran dalam pemeliharaan, pemantauan rutin, serta penyuluhan kepada warga sekitar agar ekosistem yang telah pulih ini tetap terjaga. Keterlibatan pemerintah desa dan dukungan penuh dari NHM menjadi fondasi yang memastikan kawasan KEE ini tidak kembali beralih fungsi.
Suksesnya program ini menjadi contoh nyata betapa sinergi antara korporasi, pemerintah, dan komunitas lokal mampu merehabilitasi alam yang terluka. Dengan capaian 90 persen keberhasilan hidup mangrove, Kao kini memiliki laboratorium alam yang siap mendukung penelitian, edukasi lingkungan, dan potensi ekowisata berbasis konservasi di masa mendatang.
Comments (0)