Gempa M7,0 Guncang Ende, Kerusakan Meluas di Nusa Tenggara Timur
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis dini hari pukul 03.20 Wita. Pusat gempa berada di koordinat 8,44 derajat Lintang...
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis dini hari pukul 03.20 Wita. Pusat gempa berada di koordinat 8,44 derajat Lintang Selatan dan 121,81 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Akibatnya, puluhan unit rumah warga, tiga sekolah, dan dua fasilitas kesehatan mengalami kerusakan berat hingga ringan, sementara aktivitas masyarakat dihentikan sementara untuk penanganan darurat.
Dampak Kerusakan di Tiga Kecamatan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende menyatakan bahwa kerusakan paling parah terjadi di Kecamatan Ende Selatan, Ende Tengah, dan Ende Timur. Dalam laporan awal yang disahkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ende, Dr. Yosep Mau, sebanyak 87 unit rumah mengalami rusak berat, 34 unit rusak sedang, dan lebih dari 120 unit rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. Selain itu, sebuah bangunan SMP Negeri dan dua Puskesmas mengalami retak pada dinding struktural utama.
Dr. Yosep Mau menegaskan bahwa tim gabungan telah menyisir lokasi terdampak sejak pukul 06.00 Wita. "Kami telah menerjunkan tim reaksi cepat ke tiga titik terparah. Prioritas utama adalah evakuasi warga dari bangunan yang rawan runtuh dan pendistribusian logistik darurat," ujarnya dalam keterangan resmi di Posko Induk BPBD Ende. Ia menambahkan bahwa hingga siang hari, tidak ada laporan korban jiwa, namun tujuh warga mengalami luka-luka ringan akibat tertimpa reruntuhan dan sudah dievakuasi ke Puskesmas Ende Tengah.
Respons Pemerintah dan Rapat Koordinasi Darurat
Dalam rapat koordinasi darurat yang digelar di Pendopo Bupati Ende pada pukul 09.00 Wita, Bupati Ende, H. Djafar Achmad, S.Sos., memimpin langsung evaluasi penanganan bencana. Rapat tersebut dihadiri oleh perwakilan TNI, Polri, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kesehatan, serta unsur Fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ende. Berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, status tanggap darurat bencana ditetapkan selama tujuh hari ke depan terhitung sejak gempa terjadi.
"Keputusan ini diambil untuk mempercepat koordinasi antarinstansi dan memastikan alokasi anggaran darurat dapat digunakan sesuai prosedur. Saya meminta seluruh jajaran OPD untuk segera menindaklanjuti instruksi pusat dan daerah," tegas Bupati Ende.
DPRD Kabupaten Ende melalui Pleno paripurna darurat yang digelar secara virtual segera menyetujui pengalokasian dana tanggap darurat sebesar Rp2,5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan tahun anggaran berjalan. Ketua DPRD Kabupaten Ende, Markus Faran, menyatakan bahwa pencairan dana tersebut akan diawasi ketat oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) perwakilan daerah untuk memastikan akuntabilitasnya.
Upaya Mitigasi dan Pemulihan Infrastruktur
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera mengerahkan tim teknis dari Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk melakukan survei kerusakan bangunan publik. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Ende, Ir. Marianus Sanga, menegaskan bahwa pemeriksaan struktur pada jembatan dan jalan utama telah dilakukan untuk memastikan akses logistik tetap aman. "Tim kami menemukan retak panjang pada jalan penghubung Ende–Detusoko sepanjang 15 meter. Kami telah memasang rambu pembatas sementara dan akan melakukan perbaikan permanen dalam waktu dua pekan," jelasnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klas I Waingapu menyatakan bahwa gempa susulan telah terjadi sebanyak dua belas kali dengan magnitudo terbesar mencapai 5,2. Kepala Stasiun BMKG Waingapu, Dodo Gunawan, menegaskan bahwa masyarakat harus tetap waspada terhadap potensi gempa susulan selama tiga hari ke depan. "Kami imbau warga untuk tidak mendekati lereng yang rawan longsor dan tetap mengikungi informasi resmi dari pemerintah," katanya.
Sementara itu, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, melalui deputinya menginstruksikan penempatan tenda hunian sementara di lokasi pengungsian. Sebanyak 150 unit tenda keluarga dan 500 paket sembako telah dikirim menggunakan jalur darat dan udara dari gudang logistik BNPB di Kupang. Proses distribusi tersebut menindaklanjuti arahan Presiden untuk memastikan tidak ada warga terdampak yang kekurangan kebutuhan dasar selama masa pemulihan.
Hingga sore hari, tercatat 340 jiwa mengungsi di tiga titik pengungsian yang telah dibentuk di halaman Kantor Camat Ende Selatan, Gereja Katolik Stasi Ende, dan Lapangan Umum Ende Tengah. Tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Kabupaten Ende telah membuka posko layanan kesehatan darurat 24 jam di masing-masing lokasi untuk mencegah penyebaran penyakit pascabencana. Pemerintah daerah menyatakan bahwa evaluasi kerusakan dan kebutuhan rehabilitasi akan dilakukan secara bertahap setelah kondisi wilayah stabil dan data valid dari tim terpadu telah sepenuhnya disahkan.
Comments (0)