Gempa 7,7 Magnitudo Rusak Bandara Frans Sales Lega, Operasi Penerbangan Dihentikan
Bandar Udara Frans Sales Lega di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mengalami kerusakan struktural dan menghentikan seluruh aktivitas penerbangan secara sementara akibat guncangan gempa bumi be...
Bandar Udara Frans Sales Lega di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mengalami kerusakan struktural dan menghentikan seluruh aktivitas penerbangan secara sementara akibat guncangan gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 04.58 WIB. Gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo pada kedalaman 15 kilometer tersebut menyebabkan sejumlah panel atap dan genting terminal bandara terlepas, retakan pada dinding bangunan, serta memaksa pihak pengelola melakukan evaluasi kelayakan fasilitas sebelum operasional kembali dibuka.
Kerusakan Fasilitas dan Inspeksi Menyeluruh
Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Frans Sales Lega, Punto Widaksono, menyatakan bahwa tim teknis tengah melaksanakan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh aspek keselamatan operasional. Pemeriksaan tersebut mencakup integritas struktur bangunan terminal, kelancaran sistem kelistrikan, hingga kesiapan peralatan navigasi penerbangan. Meskipun landasan pacu dilaporkan belum mengalami kerusakan yang mengganggu fungsi utama, pihaknya menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas mutlak sebelum keputusan pembukaan kembali bandara ditetapkan.
“Kami belum bisa memastikan kapan operasi kembali normal sebelum hasil pemeriksaan lengkap keluar,” ujar Punto Widaksono. Pernyataan tersebut disahkan dalam rapat evaluasi darurat yang digelar untuk menindaklanjuti dampak guncangan gempa terhadap infrastruktur transportasi udara di wilayah tersebut. Seluruh petugas bandara yang sedang bertugas saat gempa berlangsung telah melakukan evakuasi mandiri ke tempat aman, dan tidak dilaporkan adanya korban jiwa di area bandara.
Rapat Koordinasi dan Respons Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Manggarai menggelar Rapat Koordinasi darurat pascabencana untuk mengkaji kerusakan infrastruktur vital, termasuk Bandara Frans Sales Lega sebagai pintu gerak utama mobilitas warga dan logistik di wilayah tersebut. Dalam rapat tersebut, berbagai pihak berwenang membahas langkah mitigasi lanjutan serta pemetaan kebutuhan perbaikan mendesak. Meskipun peringatan dini tsunami yang sempat diterbitkan akibat gempa telah dicabut, aparat setempat tetap berstatus siaga mengingat potensi gempa susulan.
Lebih lanjut, forum koordinasi tersebut menghasilkan keputusan untuk membentuk tim terpadu yang akan memantau perkembangan rehabilitasi bandara. Langkah ini diambil berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan koordinasi lintas sektoral dalam penanganan darurat. Berbagai elemen pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari komponen masyarakat, menyatakan kesiapannya untuk mendukung proses pemulihan fasilitas transportasi tersebut.
Dampak ke Infrastruktur Lain dan Imbauan Resmi
Selain merusak bandara, gempa berkekuatan besar itu juga menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan penting lainnya di sekitar Ruteng, antara lain kampus Unika Santu Paulus, gedung pemerintahan, serta sebuah gereja. Kerusakan tersebut mengindikasikan intensitas guncangan yang signifikan di permukaan daratan, sehingga pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dan mengutamakan keselamatan saat berada di dalam bangunan.
Pihak berwenang juga menegaskan agar calon penumpang dan masyarakat umum memantau informasi resmi terkait perubahan jadwal penerbangan melalui kanal komunikasi bandara yang sah. Penyediaan data yang akurat diharapkan dapat meminimalkan ketidakpastian bagi pengguna jasa penerbangan selama masa penangguhan operasional berlangsung. Hingga saat ini, tim teknis masih melakukan survei detail untuk menentukan jadwal pasti kembali dibukanya aktivitas di Bandar Udara Frans Sales Lega.
Comments (0)