Forensik RS Bhayangkara Ungkap Luka Tembak Tempel Mantan Istri Polisi

Dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Mistar Ritonga, menyatakan bahwa luka tembak pada tubuh WLG, mantan istri anggota kepolisian berpangkat Brigadir ISH, termasuk dalam kategori luka tembak...

Forensik RS Bhayangkara Ungkap Luka Tembak Tempel Mantan Istri Polisi

Dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Mistar Ritonga, menyatakan bahwa luka tembak pada tubuh WLG, mantan istri anggota kepolisian berpangkat Brigadir ISH, termasuk dalam kategori luka tembak tempel. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim medis melakukan pemeriksaan langsung terhadap jenazah korban yang ditemukan tewas bunuh diri dengan menggunakan senjata api di Medan. Pernyataan resmi disampaikan Mistar saat ditemui awak media di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Medan, Kamis (6/8).

Hasil pemeriksaan forensik ini menjadi penjelasan ilmiah pertama yang disampaikan pihak rumah sakit terkait penyebab kematian korban. Temuan medis tersebut sekaligus menjadi rujukan bagi kepolisian dalam menindaklanjuti proses penyelidikan atas peristiwa yang menimpa mantan istri Brigadir ISH itu.

Klasifikasi Luka Tembak Menurut Ilmu Kedokteran Forensik

Mistar menjelaskan, dalam disiplin ilmu kedokteran forensik, luka akibat tembakan senjata api dibagi menjadi empat kategori utama. Keempat kategori tersebut meliputi luka tembak jauh, luka tembak dekat, luka tembak sangat dekat, dan luka tembak tempel. Penentuan kategori didasarkan pada jarak antara moncong senjata dan permukaan tubuh korban pada saat peluru dilesatkan, serta jejak-jejak yang ditinggalkan di sekitar luka.

"Berdasarkan keilmuan yang kami miliki serta hasil pemeriksaan langsung terhadap korban, kami menemukan ciri-ciri bahwa luka tembak tersebut merupakan luka tembak tempel," ujar Mistar di Polrestabes Medan.

Ciri khas luka tembak tempel, menurut Mistar, adalah posisi senjata api yang melekat langsung pada permukaan kulit ketika ditembakkan. Dalam kasus WLG, senjata api tersebut ditempelkan tepat pada bagian kepala sebelah kanan korban. Temuan ini menjadi salah satu penanda penting bagi tim forensik dalam merekonstruksi peristiwa yang menimpa korban.

"Apabila dikategorikan sebagai luka tempel, berarti senjatanya menempel ke kulit," kata Mistar menegaskan.

Lintasan Peluru Menelusuri Dasar Tengkorak

Lebih lanjut, Mistar memaparkan alasan mengapa proyektil peluru tidak menembus keluar dari kepala korban. Menurutnya, kecepatan anak peluru dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk hambatan dan gesekan ketika melewati benda-benda keras di dalam tubuh, seperti struktur tulang tengkorak manusia.

"Kecepatan anak peluru itu banyak faktor yang memengaruhinya. Apabila bergerak dan mengalami bias maupun gesekan terhadap benda lain, tentu kecepatannya akan melambat," ucap Mistar.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, peluru yang masuk melalui sisi kanan kepala tidak bergerak lurus menembus ke sisi seberangnya. Proyektil tersebut justru menelusuri bagian dasar tengkorak hingga menimbulkan keretakan, sebelum akhirnya mengarah ke sisi kiri. Akibat lintasan yang panjang serta benturan dengan tulang yang keras, daya dorong peluru melemah sehingga terhenti di bawah lapisan kulit tanpa menimbulkan luka tembak keluar.

"Dari luka tembak masuk di sebelah kanan, peluru menelusuri dasar tengkorak sampai retak, kemudian menembus ke sebelah kiri. Tenaganya sudah tidak kuat lagi untuk menembus, sehingga terhenti di bawah kulit," tutur Mistar.

Pecahnya Pembuluh Darah di Dasar Tengkorak

Mistar juga menguraikan dampak lanjutan dari luka tembak tersebut, yakni pecahnya pembuluh darah di dasar tengkorak yang dalam istilah medis dikenal sebagai sirkulus willis. Pecahnya pembuluh darah itu menyebabkan terjadinya penumpukan atau pembendungan darah yang tampak jelas pada kedua kelopak mata korban.

"Kedua kelopak matanya mengalami penumpukan darah karena pecahnya pembuluh darah di dasar tengkorak, yang namanya sirkulus willis. Mungkin orang awam kurang memahami, tetapi apabila pembuluh itu pecah, pasti terjadi penumpukan darah," jelas Mistar.

Menurut Mistar, kondisi tersebut merupakan konsekuensi medis yang lazim ditemukan pada kasus luka tembak di area kepala. Keretakan pada dasar tengkorak yang dilalui proyektil peluru turut merusak jaringan pembuluh darah di sekitarnya, sehingga darah mengalir dan terbendung pada jaringan lunak, termasuk di wilayah kelopak mata.

Hasil Forensik Menjadi Dasar Penyelidikan Kepolisian

Keterangan forensik ini menjadi bagian penting dari proses penyelidikan yang dilakukan kepolisian untuk memastikan penyebab kematian korban secara ilmiah. Setiap temuan medis, mulai dari jenis luka tembak, arah lintasan peluru, hingga kerusakan pembuluh darah, akan dicocokkan dengan bukti-bukti lain yang ditemukan di lokasi kejadian.

Dengan adanya penjelasan resmi dari dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan tersebut, kepolisian memiliki landasan medis yang kuat dalam menyusun kesimpulan akhir atas peristiwa bunuh diri yang menimpa WLG. Hasil pemeriksaan menyeluruh akan menindaklanjuti proses penyidikan guna memastikan kronologi peristiwa berjalan sesuai dengan fakta dan bukti ilmiah yang terkumpul.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User