Dolar AS Tekuk Rupiah ke Rp 17.960

Jakarta, Apaberita.com – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan signifikan dari dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi (24/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg yang di

Jul 08, 2026 - 00:38
0 0
Dolar AS Tekuk Rupiah ke Rp 17.960

Jakarta, Apaberita.com – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan signifikan dari dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi (24/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg yang dipantau Apaberita.com, dolar AS tercatat menguat tajam ke posisi Rp 17.960, melonjak 101 poin atau setara 0,57% dibandingkan penutupan sebelumnya. Kondisi ini menandai salah satu pelemahan terdalam rupiah dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus memperpanjang tren depresiasi mata uang Garuda terhadap the greenback.

Tekanan terhadap rupiah sudah terasa sejak awal sesi. Pada pukul 09.00 WIB, dolar AS dibuka di level Rp 17.880 dan terus merangkak naik tanpa koreksi berarti. Dalam waktu kurang dari dua jam, mata uang Paman Sam sudah menyentuh level psikologis baru di Rp 17.960, membuat pelaku pasar khawatir rupiah dapat menembus Rp 18.000 jika sentimen negatif terus berlanjut. Volume perdagangan juga tercatat meningkat, mengindikasikan aksi beli dolar yang agresif oleh perbankan dan korporasi untuk memenuhi kebutuhan akhir kuartal.

Sentimen Global Jadi Biang Kerok

Apaberita.com mencatat, penguatan dolar kali ini didorong oleh rilis data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi. Klaim pengangguran mingguan turun ke level terendah sejak awal 2026, memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun langsung melonjak ke 4,55%, membuat aset berdenominasi dolar kian menarik dibandingkan aset negara berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas mendorong investor global untuk mengalihkan dana ke safe haven, termasuk dolar AS. Dana asing tercatat keluar dari pasar obligasi Indonesia sebesar Rp2,3 triliun dalam dua hari terakhir, menambah beban bagi rupiah. Indeks dolar AS (DXY) terhadap enam mata uang utama pun menguat ke 107,8, level tertinggi dalam tiga bulan.

Respons Pasar dan Dampak Domestik

Pantauan Apaberita.com di pasar valuta antarbank Jakarta, beberapa bank besar langsung menaikkan kuotasi jual dolar hingga Rp17.980 untuk transaksi korporasi, mencerminkan kekhawatiran likuiditas. Pelaku usaha importir mulai melakukan aksi lindung nilai (hedging) secara agresif, yang justru menambah tekanan jual pada rupiah. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melalui juru bicaranya menyatakan siap melakukan intervensi ganda di pasar spot valas dan obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Kami terus memantau pergerakan rupiah dan akan mengambil langkah terukur untuk memastikan mekanisme pasar berjalan wajar. Intervensi akan dilakukan bila diperlukan,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI, Dody Budi Waluyo, dalam keterangan tertulis yang dikutip Apaberita.com.

Di sisi lain, pelemahan rupiah berdampak langsung pada sektor riil. Harga bahan baku impor naik, yang berpotensi mendorong inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Namun, bagi eksportir, kondisi ini membuka peluang peningkatan daya saing karena produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar global.

Antisipasi Pemerintah dan Prospek ke Depan

Merespons situasi ini, Kementerian Keuangan berkoordinasi dengan BI untuk mempercepat penyerapan belanja negara yang bersumber dari pinjaman luar negeri, sehingga aliran dolar masuk dapat menopang rupiah. Selain itu, pemerintah juga mengandalkan penerbitan obligasi global dalam denominasi dolar yang dijadwalkan pada kuartal ketiga.

Analis pasar uang yang dihubungi Apaberita.com memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil dalam kisaran Rp17.850–Rp18.200 per dolar AS untuk sepekan ke depan, tergantung data inflasi AS dan keputusan Rapat Dewan Gubernur BI. Jika BI mempertahankan suku bunga acuan, rupiah dapat terhindar dari pelemahan lebih dalam. Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga domestik justru akan memperburuk nilai tukar.

Sementara itu, perkembangan rencana investasi dua raksasa otomotif Jepang di Indonesia juga menjadi perhatian pasar. Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah terus berupaya mencegah hengkangnya produsen tersebut dengan menyiapkan paket insentif fiskal dan jaminan ketersediaan komponen lokal. Keberhasilan menjaga investasi ini dinilai krusial untuk menopang aliran dolar masuk jangka panjang dan meredam tekanan pada rupiah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Teknologi. Reporter AI, gadget, startup, dan transformasi digital.

Comments (0)

User