Doha — Janice Tjen Dikalahkan Iga Swiatek di Babak Kedua Qatar Open
Lapangan Khalifa International Tennis Complex di Doha mendadak hening saat bola terakhir meluncur deras ke sudut lapangan. Petenis putri Indonesia, Janice
Lapangan Khalifa International Tennis Complex di Doha mendadak hening saat bola terakhir meluncur deras ke sudut lapangan. Petenis putri Indonesia, Janice Tjen, hanya bisa memperhatikan bola yang tak mampu ia jangkau itu, menandai akhir perjuangannya di Qatar Total Energies Open 2026. Di hadapan petenis nomor dua dunia asal Polandia, Iga Swiatek, langkah Janice terhenti di babak kedua dengan skor telak 6-2, 6-1 dalam waktu hanya 58 menit. Kekalahan ini memang pahit, tetapi bagi petenis peringkat 94 dunia itu, ini adalah pelajaran berharga dari salah satu petenis terbaik di era modern.
Awal Pertandingan yang Menjanjikan
Memasuki lapangan dengan senyum percaya diri, Janice—yang membuat kejutan dengan menyingkirkan unggulan 16 asal Inggris di babak pertama—tampak siap menghadapi ujian terberatnya. Swiatek, juara Grand Slam empat kali, memang dijagokan, namun ribuan pasang mata di tribun tetap memberi dukungan untuk underdog asal Indonesia itu. Game pembuka langsung menampilkan tensi tinggi. Janice memaksa Swiatek berjuang hingga deuce, bahkan sempat membalikkan keadaan dengan backhand slice menyusur net yang memaksa petenis Polandia itu terjatuh. Skor 1-0 dipegang Janice, dan sejenak asa melambung tinggi.
Namun, Swiatek yang dikenal dengan mental baja dan pukulan topspin forehand super agresif segera menemukan ritme permainannya. Setelah game pertama, petenis berusia 24 tahun itu melesat tanpa ampun. Dengan return of serve ketiga yang mencapai 138 km/jam dan penempatan bola yang presisi di baseline, Swiatek merebut enam game berikutnya secara beruntun. Janice tak mampu mengimbangi intensitas rally yang semakin panjang dan menguras tenaga.
Dominasi Swiatek di Set Kedua
Set kedua dimulai dengan pola serupa. Janice mencoba mengubah strategi dengan lebih sering maju ke net untuk melakukan drop volley, namun Swiatek membaca setiap pergerakan dengan cemerlang. Petenis Polandia itu merespon pukulan-pukulan Janice dengan passing shot menyilang yang sulit dikembalikan. Gim pertama set kedua langsung direbut Swiatek, disusul break point pada gim ketiga yang meninggalkan Janice tertinggal 0-3. Satu-satunya gim yang berhasil dimenangkan Janice terjadi saat servis Swiatek sedikit melonggar, dan pukulan backhand Janice yang terukur berhasil memaksa kesalahan lawan. Sayangnya, momentum itu tak bertahan. Swiatek kembali mendikte permainan dari belakang lapangan, dan menutup pertandingan dengan ace ketujuh yang menggetarkan sudut baseline.
Respons Janice Tjen dan Rencana Ke Depan
“Saya tahu ini akan jadi pertandingan yang sangat sulit. Iga adalah petenis luar biasa dengan pukulan yang tidak mudah ditebak. Saya sudah mencoba yang terbaik, tapi hari ini dia terlalu tangguh. Meski begitu, saya bangga bisa mencapai babak kedua di turnamen WTA 500 ini dan mendapat pengalaman berharga melawan petenis top dunia,” ujar Janice usai laga.
Meski kalah, Janice mengantongi 11.000 dolar AS hadiah uang dan 30 poin peringkat WTA, yang akan mengangkat peringkatnya ke sekitar posisi 89 dunia. Pelatihnya, Andrian Raturandang, menilai penampilan anak asuhnya mengalami kemajuan signifikan, terutama dalam hal ketenangan dan variasi pukulan.
Perjalanan Janice di Doha mungkin singkat, tapi ia meninggalkan Qatar dengan kepala tegak. “Ini baru awal. Saya akan kembali lebih kuat,” tutupnya.
Fakta Seputar Swiatek dan Dominasinya
Iga Swiatek, petenis nomor dua dunia, membuktikan mengapa ia dijuluki “Ratu Lapangan Tanah Liat”—meskipun laga di Doha dimainkan di permukaan keras. Dengan akurasi pukulan hingga 92% pada set kedua dan hanya delapan unforced error sepanjang laga, Swiatek tak sekadar menang, ia mendominasi. Petenis yang baru saja menjuarai Australian Open ini kini melaju ke babak ketiga dan tetap menjadi kandidat terkuat juara di turnamen berhadiah total 3 juta dolar AS tersebut.
Comments (0)