Jakarta — Erick Thohir Targetkan 70 Emas di SEA Games 2025
Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, memberikan keterangan pers di kantor Kemenpora RI, Selasa (23/9/2025). Dalam kesempatan terse
Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, memberikan keterangan pers di kantor Kemenpora RI, Selasa (23/9/2025). Dalam kesempatan tersebut, ia mengumumkan sejumlah strategi dan target ambisius menjelang perhelatan SEA Games 2025 di Thailand serta persiapan jangka panjang menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Erick menegaskan, seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional telah diminta untuk bekerja dengan pendekatan berbasis data dan ilmu pengetahuan guna mencapai hasil maksimal. “Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada bakat semata. Sport science, data kepelatihan, dan asupan nutrisi menjadi fondasi baru kita,” ujarnya di hadapan puluhan awak media.
Kronologi Jumpa Pers di Kemenpora
- Pukul 09.45 WIB — Erick Thohir tiba di lobi utama Kemenpora dan langsung meninjau panel evaluasi kinerja triwulan III yang dipajang di selasar. Ia didampingi oleh Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga.
- Pukul 10.00 WIB — Acara resmi dibuka dengan pemaparan evaluasi pembinaan atlet 2024-2025. Erick menyampaikan bahwa total 812 atlet telah menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) untuk 42 cabang olahraga, dengan seleksi ketat melibatkan 37 indikator performa.
- Pukul 10.15 WIB — Menteri mengumumkan target perolehan medali SEA Games 2025: 70 emas, 60 perak, dan 55 perunggu. “Angka ini naik dari baseline target kita sebelumnya yang berada di angka 64 emas. Kami optimistis karena hasil uji coba terakhir di sejumlah kejuaraan Asia menunjukkan tren peningkatan,” jelasnya.
- Pukul 10.30 WIB — Dipaparkan alokasi anggaran pelatnas yang mengalami kenaikan signifikan. Total anggaran yang disiapkan sebesar Rp 1,56 triliun, meningkat 30 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,2 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp 480 miliar dialokasikan khusus untuk pengadaan alat pendukung sport science dan try out internasional.
- Pukul 10.50 WIB — Erick mengungkapkan empat cabang olahraga yang menjadi andalan utama peraih medali emas: bulu tangkis (ditargetkan 5 emas), angkat besi (4 emas), panahan (3 emas), dan renang (5 emas). Selain itu, ia menyoroti kebangkitan atletik dan bela diri yang diproyeksikan menyumbang total 18 emas.
- Pukul 11.15 WIB — Sesi tanya jawab dimulai. Erick menerima 12 pertanyaan dari media, mencakup isu naturalisasi atlet, pengawasan anti-doping, dan keberlanjutan program jangka panjang. Ia menegaskan bahwa hingga September 2025, tidak ada satu pun atlet pelatnas yang terindikasi doping, berkat sistem uji acak bekerja sama dengan LADI dan WADA.
- Pukul 12.00 WIB — Jumpa pers berakhir. Erick menambahkan bahwa pihaknya tengah menyusun roadmap Olimpiade 2028 dengan target lolos kualifikasi untuk 10 cabang olahraga, sekaligus meningkatkan peringkat Indonesia dari posisi ke-36 dunia (2024) menjadi 25 besar dunia pada 2028.
Data dan Strategi yang Dipaparkan
Selain target medali, Erick membeberkan rencana pembangunan dua pusat pelatihan regional di luar Pulau Jawa, masing-masing di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, dengan anggaran awal Rp 320 miliar dari APBN. Pusat ini diharapkan dapat menjadi hub pembinaan atlet muda berbasis talent identification berbantuan AI yang mulai diuji coba pada kuartal pertama 2026.
Di bidang sumber daya manusia, Kemenpora membuka kesempatan 50 beasiswa S2 kepelatihan bagi mantan atlet nasional yang ingin melanjutkan karier sebagai pelatih bersertifikasi internasional. Program ini diklaim sebagai bagian dari strategi “legacy coaching” untuk memastikan regenerasi ilmu kepelatihan di tanah air.
Terkait naturalisasi, Erick menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi menjadikannya sebagai jalur instan. “Kami sangat selektif. Hanya dua atlet yang memenuhi persyaratan dan telah melalui evaluasi mendalam yang akan segera menjalani proses naturalisasi pada akhir 2025,” jelasnya tanpa merinci nama kedua atlet tersebut.
Di akhir keterangannya, Erick kembali menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, KONI, induk cabang olahraga, dan sektor swasta. Ia menyebut bahwa saat ini sudah 14 perusahaan BUMN dan swasta yang resmi menjadi mitra binaan atlet melalui skema CSR terfokus, dengan total kontribusi mencapai Rp 215 miliar untuk periode 2025-2026.
Comments (0)