Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala
Kepolisian Resor Timor Tengah Utara (TTU) terus mendalami kasus bunuh diri dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni yang akrab disapa dr. Icha. Dokter yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leon
Kepolisian Resor Timor Tengah Utara (TTU) terus mendalami kasus bunuh diri dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni yang akrab disapa dr. Icha. Dokter yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona itu diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan psikologis berat setelah mengalami intimidasi dari tiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) TTU.
Informasi yang dihimpun Apaberita.com dari lingkungan penyidik menyebutkan bahwa dr. Icha diduga mengalami depresi akut sebelum akhirnya nekat melakukan tindakan gantung diri. Rekan-rekan sejawatnya yang bertugas di IGD RS Leona pada saat dugaan intimidasi terjadi telah dimintai keterangan oleh penyidik Polres TTU. Pemeriksaan itu mengarah pada dugaan keterlibatan tiga anggota dewan, yaitu Veronika Lake dari Fraksi PDIP, Norbertus Bani dari Fraksi PKB, dan Thrensius Lazakar dari Fraksi Golkar.
Kapolres TTU AKBP Eliana Papote menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu memanggil ketiga anggota DPRD tersebut untuk dimintai klarifikasi. “Kami segera memanggil tiga anggota DPRD TTU itu untuk dimintai klarifikasi,” ujarnya, seperti dikutip Apaberita.com dari konfirmasi tertulis.
Menurut keterangan sejumlah saksi yang telah diperiksa, dugaan intimidasi itu terjadi di lingkungan IGD RS Leona. Meskipun detail peristiwa masih dalam pendalaman, jejak komunikasi dan keterangan para saksi mengarah pada adanya tekanan verbal maupun sikap yang membuat dr. Icha sangat terguncang. Para koleganya menyebut bahwa kondisi psikologis sang dokter menurun drastis setelah insiden tersebut. Pihak keluarga dan rekan seprofesi pun sangat terpukul dan berharap kasus ini segera menemui titik terang.
Polres TTU bergerak cepat dengan mengamankan barang bukti dan memeriksa telepon genggam korban serta para saksi. Langkah itu diambil untuk memperkuat konstruksi hukum apakah ada unsur perundungan, penyalahgunaan wewenang, atau tindak pidana lain yang turut mendorong korban mengambil keputusan fatal. Penyelidik juga sedang menelisik kemungkinan pelanggaran etik oleh anggota dewan yang akan dilaporkan ke badan kehormatan DPRD setempat.
Kasus ini memicu keprihatinan luas di kalangan tenaga kesehatan dan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Sejumlah organisasi profesi dokter mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan intimidasi tersebut. Mereka menekankan bahwa tenaga kesehatan seringkali menjadi sasaran tekanan di luar batas dalam menjalankan tugas pelayanan publik, dan perlindungan terhadap kesehatan mental para tenaga medis harus menjadi prioritas.
Hingga berita ini diturunkan, ketiga anggota dewan yang disebutkan belum memberikan pernyataan resmi. Sementara itu, jajaran Polres TTU memastikan proses penyelidikan berjalan transparan dan profesional. AKBP Eliana Papote menambahkan, pengembangan kasus akan terus dilakukan sembari menunggu hasil visum psikologis dan keterangan dari ahli kejiwaan. Pihaknya juga membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki informasi tambahan untuk membantu pengungkapan fakta sebenarnya di balik tragisnya kematian dr. Icha.
Comments (0)