SEMARANG — Alfira Deanika, atlet bulu tangkis putri yang kini berstatus mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII), memastikan diri melaju ke babak final tunggal putri pada kejuaraan Campus League Badminton Regional Semarang di Polytron Stadium, Universitas Diponegoro, Kamis (27/8). Capaian itu menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya yang nyaris berakhir pada 2024 akibat cedera ligamen lutut.
Perjalanan menuju babak final tersebut tidak mudah. Sebelum tampil di Semarang, Alfira harus melewati sejumlah tahap seleksi di tingkat regional. Kehadirannya di turnamen ini sekaligus menjadi ujian pertama setelah ia resmi menjalani peran ganda sebagai atlet dan mahasiswa. Alfira bertekad membuktikan bahwa kedua peran tersebut dapat berjalan beriringan.
Karier di Ujung Tanduk
Dua tahun lalu, karier Alfira sempat terancam berhenti total. Ligamen anterior cruciate (ACL) di lututnya putus saat bertanding. Hasil pemeriksaan MRI dan bayangan meja operasi sempat membuatnya memutuskan untuk menggantung raket. Padahal, bulu tangkis telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya sejak belasan tahun silam.
Kekhawatiran terhadap tindakan operasi menjadi penyebab utama keraguannya untuk melanjutkan karier. Ia mengaku sempat menyerah sebelum akhirnya memperoleh dukungan dari orang tua dan orang-orang terdekatnya.
"Tidak ada atlet yang tidak merasa takut menghadapi meja operasi. Saat itu saya nyaris memilih berhenti bermain daripada menjalani tindakan medis," ujar Alfira usai mengamankan tiket final.
Dukungan kedua orang tuanya menjadi pilar utama dalam masa-masa sulit tersebut. Mereka terus meyakinkan Alfira bahwa cedera bukan akhir dari segalanya dan bahwa pemulihan adalah bagian dari perjalanan seorang atlet profesional. Perlahan, Alfira bangkit kembali. Motivasi datang pula dari rekan-rekan yang pernah mengalami cedera serupa; sebagian dari mereka bahkan mampu kembali bertanding hingga menembus level pelatnas. Kisah-kisah itu menguatkan keyakinannya untuk tidak menyerah pada keadaan.
Bangkit Setelah Operasi
Alfira akhirnya naik ke meja operasi dan menjalani masa pemulihan selama hampir satu tahun. Keputusan itu berbuah manis. Pascaoperasi, kariernya justru melesat. Ia berani melompat ke kelompok tunggal putri dewasa dan mendulang hasil positif di berbagai turnamen.
Podium demi podium berhasil diraihnya hingga peringkatnya terus menanjak. Kini ia bertengger di posisi kelima ranking nasional PBSI untuk nomor tunggal putri, pencapaian yang berada di luar perkiraannya sendiri. Setiap turnamen yang diikutinya dijadikan ajang menguji ketahanan fisik dan mental pascaoperasi. Hasilnya, nama Alfira mulai diperhitungkan di level nasional.
"Saya sejatinya hanya menjalani setiap pertandingan dengan santai tanpa target muluk. Tidak pernah menyangka bisa terus meraih podium sampai akhirnya menembus peringkat kelima ranking nasional. Saya sendiri tidak berekspektasi," tutur Alfira.
Raihan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kerja keras dan kesabaran selama masa pemulihan tidak sia-sia. Alfira menilai proses rehabilitasi yang dijalaninya selama berbulan-bulan justru membentuk mentalnya menjadi lebih kuat dan lebih tenang dalam menghadapi tekanan pertandingan.
Babak Baru di Kampus
Di tengah karier yang menanjak, Alfira membuka babak baru dalam kehidupannya. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia dan tengah menempuh pendidikan sarjana di Yogyakarta. Ia bertekad membagi waktu antara latihan, kompetisi, dan perkuliahan.
Keikutsertaannya dalam Campus League Badminton Regional Semarang menjadi wujud nyata komitmen tersebut. Kejuaraan antarperguruan tinggi ini menjadi wadah bagi atlet pelajar dan mahasiswa untuk tetap berkompetisi tanpa meninggalkan pendidikan. Melalui ajang ini, ia ingin menunjukkan bahwa kompetisi kampus dapat menjadi batu loncatan menuju karier profesional di masa depan sekaligus panggung untuk menebar mimpi bagi generasi muda yang ingin menekuni bulu tangkis.
Ia berharap pencapaiannya dapat menjadi inspirasi bagi atlet muda lain, khususnya mereka yang tengah berjuang pulih dari cedera. Menurutnya, keterpurukan bukan akhir dari segalanya selama masih ada kemauan untuk bangkit dan kembali berlatih. Ia pun kerap berbagi pengalaman kepada rekan-rekan mahasiswa yang bercita-cita menjadi atlet, bahwa konsistensi dan kesabaran adalah kunci utama meraih prestasi.
Di kampus, Alfira juga bertekad menjaga konsistensi penampilannya di level nasional. Ia ingin membuktikan bahwa seorang atlet tetap dapat menempuh pendidikan tinggi sambil mengukir prestasi di pentas bulu tangkis nasional. Melalui perjuangannya, Alfira membuktikan bahwa mimpi tidak pernah berakhir pada satu kegagalan selama ada disiplin, dukungan keluarga, dan keberanian mengambil keputusan besar.
Comments (0)