Harga sejumlah komoditas primer bergerak fluktuatif pada Kamis (8/10), dengan tren pelemahan terjadi secara bersamaan pada minyak kelapa sawit sawit mentah (CPO) dan batu bara, sementara dua logam dasar yaitu nikel dan timah justru mencatat penguatan. Pergerakan bervariasi ini mencerminkan tekanan yang berbeda pada tiap sektor, mulai dari kehati-hatian pasar menjelang rilis data stok bulanan hingga isu regulasi tambang di negara produsen.
Minyak Sawit Tertekan Pelemahan Minyak Kedelai
Pada perdagangan Kamis (8/10), harga CPO ditutup di level MYR 4.524 per ton atau melemah 0,79 persen dibanding penutupan sebelumnya. Pelemahan itu menempatkan kontrak berjangka sawit Malaysia terus bergerak di bawah ambang MYR 4.550 per ton dalam beberapa sesi terakhir.
Faktor utama yang menekan sentimen pasar adalah anjloknya harga minyak kedelai di bursa Chicago, yang otomatis menurunkan daya tarik minyak nabati alternatif lain. Pelaku pasar juga memilih menunggu rilis data bulanan Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB), di mana proyeksi menyebut tingkat persediaan berpotensi mencapai puncaknya pada bulan berjalan.
Aspek permintaan ikut memperberat tekanan. Para surveyor kargo memperkirakan ekspor minyak sawit dari Malaysia pada September terkoreksi dalam kisaran 17,1 hingga 28,8 persen secara bulanan, tergantung lembaga pengukur yang digunakan. Proyeksi penurunan permintaan ekspor tersebut menjadi beban tersendiri bagi harga di jangka pendek.
"Kehati-hatian pelaku pasar mewarnai perdagangan menjelang rilis data persediaan, karena pasar membutuhkan kepastian arah pasokan sebelum mengambil posisi baru," ujar analis komoditas di Jakarta, Kamis (8/10).
Batu Bara Melemah Pasca-Keputusan Pengadilan Australia
Situasi serupa terjadi pada pasar batu bara. Harga batu bara melemah 1,28 persen ke USD 150 per ton pada penutupan yang sama. Meski turun, angka tersebut masih berada di dekat level tertingginya sejak September 2023, sehingga pelemahan harian dinilai lebih bersifat koreksi teknis ketimbang pembalikan tren.
Pergerakan harga tidak terlepas dari perkembangan hukum di Australia. Mahkamah Agung Australia menolak gugatan banding yang diajukan Mach Energy Australia terkait rencana perluasan tambang batu bara di wilayah New South Wales (NSW). Dalam putusannya, mahkamah menyatakan otoritas perencanaan tidak menghitung secara memadai emisi yang dihasilkan oleh pembeli yang membakar batu bara dari lokasi tambang tersebut.
Keputusan itu dinilai memperketat persetujuan ekspansi tambang di salah satu wilayah penghasil batu bara terbesar dunia, sekaligus menjaga ekspektasi pasokan jangka panjang tetap terbatas. Kondisi tersebut yang membuat harga bertahan di kisaran tinggi meskipun mengalami penurunan harian.
Nikel dan Timah Menguat di London Metal Exchange
Berbeda dengan dua komoditas energi di atas, logam dasar justru berbalik menguat. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel berada di USD 15.735 per ton, naik 0,34 persen dibanding perdagangan sehari sebelumnya.
Kinerja timah bahkan lebih solid. Harga timah tercatat USD 54.279 per ton atau menguat 0,18 persen. Penguatan terjadi meski pasar global masih dipenuhi ketidakpastian terkait permintaan dari sektor manufaktur.
Penguatan kedua logam tersebut memberi keseimbangan pada kinerja komoditas secara keseluruhan, karena kontribusi sektor logam dasar dalam neraca perdagangan Indonesia relatif signifikan, khususnya untuk nikel yang menjadi bahan baku rantai pasok kendaraan listrik.
Prospek Jangka Pendek Pasar Komoditas
Pergerakan komoditas pekan ini menunjukkan pasar masih terbagi antara tekanan pasokan permintaan di sektor energi dan pertanian, serta dukungan fundamental di sektor logam. Pelaku usaha di dalam negeri perlu memantau dua agenda penting, yakni rilis data persediaan sawit Malaysia dan perkembangan kebijakan energi di negara-negara produsen batu bara.
Bagi eksportir, pelemahan CPO menuntut strategi penjualan yang lebih disiplin agar margin tidak tergerus. Sebaliknya, produsen logam dapat memanfaatkan momentum penguatan untuk mengunci harga melalui kontrak berjangka. Secara keseluruhan, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat mengingat pasar masih menunggu kepastian data resmi maupun perkembangan regulasi di negara-negara penghasil komoditas utama dunia.
Comments (0)