BPBD Tangerang Lanjutkan Pendinginan Pasca Kebakaran TPA Jatiwaringin

TANGERANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang melanjutkan operasi pendinginan di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, pada Senin (7/4/2025), ...

BPBD Tangerang Lanjutkan Pendinginan Pasca Kebakaran TPA Jatiwaringin

TANGERANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang melanjutkan operasi pendinginan di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, pada Senin (7/4/2025), setelah proses pemadaman api dinyatakan berhasil oleh tim gabungan. Langkah pendinginan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api tersisa yang berpotensi memicu kebakaran susulan di kawasan pembuangan sampah seluas 25 hektare tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, menegaskan bahwa proses pendinginan difokuskan pada area-area yang sebelumnya menjadi pusat kebakaran. "Kami mengerahkan tiga unit tangki air berkapasitas 5.000 liter untuk menyiram lapisan-lapisan sampah yang masih mengeluarkan asap tipis," ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian. Operasi ini melibatkan 45 personel gabungan dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta relawan pemadam kebakaran setempat.

Kronologi dan Skala Penanganan Kebakaran

Peristiwa kebakaran di TPA Jatiwaringin pertama kali terdeteksi pada Sabtu (5/4/2025) sekitar pukul 14.30 WIB. Berdasarkan laporan yang diterima BPBD, api diduga berasal dari akumulasi gas metana yang terbentuk dari tumpukan sampah organik yang telah menggunung selama bertahun-tahun. Kondisi cuaca terik dengan suhu mencapai 34 derajat Celsius turut mempercepat penyebaran api ke beberapa zona pembuangan.

Proses pemadaman memakan waktu hampir 36 jam sebelum api berhasil dikendalikan sepenuhnya. Sebanyak delapan unit armada pemadam kebakaran dari BPBD Kabupaten Tangerang, dua unit dari kota tetangga, serta satu helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikerahkan untuk memadamkan api yang sempat melahap sekitar 3 hektare area tumpukan sampah.

Kepala DLHK Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan inventarisasi kerusakan. "Kami memperkirakan sekitar 40 persen dari area aktif pembuangan terdampak langsung. Namun, operasional TPA tetap berjalan normal untuk zona yang tidak terdampak," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin pagi.

Teknik Pendinginan dan Mitigasi Lanjutan

Proses pendinginan yang dilakukan tim BPBD tidak sekadar menyiram permukaan tumpukan sampah. Ujat Sudrajat menjelaskan bahwa metode yang digunakan melibatkan teknik injeksi air ke dalam lapisan sampah sedalam dua hingga tiga meter. "Air harus mencapai bagian dalam tumpukan karena bara api sering kali tersembunyi di bawah permukaan yang tampak padam," terangnya.

Selain penyiraman, tim juga membongkar sebagian tumpukan sampah dengan ekskavator untuk memastikan pendinginan merata. Material sampah yang sudah dibongkar kemudian disemprot secara intensif sebelum ditimbun kembali. Prosedur ini, menurut Ujat, memerlukan waktu setidaknya tiga hingga empat hari ke depan untuk menjangkau seluruh area bekas kebakaran.

DLHK Kabupaten Tangerang turut memasang alat pemantau suhu di empat titik strategis untuk mendeteksi potensi kenaikan temperatur yang dapat memicu kebakaran susulan. Alat ini terhubung langsung ke pusat kendali BPBD dan akan memberikan peringatan dini apabila suhu bawah permukaan melebihi ambang batas 60 derajat Celsius.

Dampak dan Langkah Strategis ke Depan

Kebakaran TPA Jatiwaringin menimbulkan dampak berupa polusi asap yang sempat mengganggu aktivitas warga di Kecamatan Mauk dan sekitarnya. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 127 warga mengalami keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama dua hari kebakaran berlangsung. Posko kesehatan darurat yang didirikan di Balai Desa Jatiwaringin masih beroperasi hingga Selasa (8/4/2025) untuk melayani warga yang membutuhkan penanganan medis.

Pemerintah Kabupaten Tangerang, melalui rapat koordinasi yang digelar pada Minggu malam (6/4/2025), memutuskan untuk mempercepat pembangunan sistem pengelolaan gas metana di TPA Jatiwaringin. Bupati Tangerang menegaskan bahwa proyek pemasangan pipa ventilasi gas dan instalasi flare system yang sebelumnya dijadwalkan pada triwulan ketiga 2025 akan dimajukan menjadi Mei 2025. "Kami tidak ingin kejadian serupa terulang. Sistem pengelolaan gas harus menjadi prioritas," tegasnya dalam rapat yang dihadiri seluruh kepala organisasi perangkat daerah terkait.

BPBD Kabupaten Tangerang bersama DLHK juga menetapkan zona penyangga selebar 15 meter di sekeliling area tumpukan aktif sebagai jalur akses darurat dan pemisah api apabila kebakaran terjadi di masa mendatang. Pembuatan embung penampungan air berkapasitas 200 meter kubik di sisi utara TPA juga mulai dikerjakan sebagai cadangan air permanen untuk penanggulangan kebakaran. Langkah-langkah ini dituangkan dalam Keputusan Bupati Tangerang tentang Rencana Aksi Pengelolaan Risiko Kebakaran TPA yang ditetapkan pada Senin (7/4/2025).

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User