Oct 05, 2026
Politik

Desain Xforce Kerap Dikira Mobil Listrik

JAKARTA – Tampilan futuristik yang diusung oleh Mitsubishi Xforce kerap menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat terkait jenis penggerak kendaraan tersebut. Berdasarkan pengalaman Adi Kamer...

Desain Xforce Kerap Dikira Mobil Listrik

JAKARTA – Tampilan futuristik yang diusung oleh Mitsubishi Xforce kerap menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat terkait jenis penggerak kendaraan tersebut. Berdasarkan pengalaman Adi Kamer Putra, pemilik Mitsubishi Xforce tipe Ultimate yang berdomisili di Jakarta Selatan, sejumlah orang yang pertama kali melihat maupun menumpangi SUV kompak tersebut sempat beranggapan bahwa kendaraan ini merupakan kendaraan listrik murni, padahal Xforce menggunakan mesin bensin.

Kesalahpahaman tersebut kerap terjadi di berbagai kesempatan, termasuk saat Adi pertama kali membawa kendaraannya ke area perkantoran. “Teman-teman kantor saya awalnya mengira Mitsubishi Xforce adalah mobil listrik karena modelnya sporty, futuristik, modern, dan elegan seperti mobil EV kebanyakan,” kata Adi Kamer Putra. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kesan visual kendaraan dapat menjadi faktor utama yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap teknologi penggerak yang digunakan oleh sebuah SUV kompak.

Faktor Visual yang Memicu Persepsi

Salah satu faktor yang berperan besar terhadap persepsi tersebut adalah bahasa desain yang diterapkan pada Mitsubishi Xforce. SUV kompak ini mengusung evolusi dari desain Dynamic Shield yang menjadi ciri khas Mitsubishi Motors. Desain tersebut menghasilkan garis bodi yang tegas, lekukan yang aerodinamis, serta pencahayaan depan dan belakang yang terkesan modern. Kombinasi elemen tersebut kerap diasosiasikan oleh masyarakat dengan kendaraan listrik murni, yang umumnya menonjolkan tampilan minimalis dan futuristik sebagai bagian dari identitas produknya.

Persepsi tersebut tidak terlepas dari perkembangan pasar otomotif Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya jumlah kendaraan listrik murni yang beredar, baik melalui peluncuran resmi maupun paparan di ruang publik, turut membentuk ekspektasi visual masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan. Akibatnya, kendaraan dengan desain yang mengadopsi pendekatan futuristik dapat dengan mudah dikaitkan dengan teknologi baterai, meski masih menggunakan mesin pembakaran internal.

Alasan Pemilihan Kendaraan

Terlepas dari kesalahpahaman yang kerap dialaminya, Adi Kamer Putra menjelaskan bahwa pemilihan Mitsubishi Xforce didasarkan pada sejumlah pertimbangan yang berkaitan dengan kebutuhan mobilitas jangka panjang. Bagi dirinya, kendaraan ini diposisikan sebagai sarana operasional harian yang mampu menunjang berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan di perkotaan hingga perjalanan jauh antarprovinsi. “Mitsubishi Xforce memiliki tampilan yang modern, gagah, premium, dan cocok untuk saya yang menginginkan SUV dengan karakter kuat,” ungkap Adi Kamer Putra.

Beberapa pertimbangan teknis turut menjadi landasan dalam keputusan tersebut. Adi mencatat bahwa efisiensi dari mesin bensin 4A91 1,5 liter DOHC MIVEC yang digunakan pada kendaraan ini menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan. Selain itu, keterjangkauan biaya perawatan serta luasnya jaringan bengkel resmi Mitsubishi Motors di seluruh Indonesia turut menjadi pertimbangan penting, khususnya bagi pemilik yang kerap melakukan perjalanan lintas provinsi. Faktor-faktor tersebut dinilai selaras dengan kebutuhan mobilitas yang tidak hanya berfokus pada jarak tempuh harian, tetapi juga pada ketersediaan layanan purna jual di lokasi yang beragam.

Penggunaan untuk Mobilitas Jangka Panjang

Sejak digunakan, Mitsubishi Xforce milik Adi Kamer Putra telah menempuh jarak sejauh 26.663 kilometer. Jarak tempuh tersebut mencerminkan penggunaan kendaraan secara intensif untuk berbagai keperluan. Kendaraan ini diandalkan untuk menunjang mobilitas harian di Jakarta Selatan, perjalanan mudik dengan rute Jakarta menuju Padang, serta agenda touring lintas provinsi bersama komunitas Xforce Owner Club (XFOC) Indonesia. Penggunaan dengan cakupan geografis yang luas tersebut menjadi salah satu tolok ukur bagi Adi dalam menilai keandalan kendaraan yang dipilihnya.

Pengalaman tersebut turut menegaskan bahwa kebutuhan mobilitas di Indonesia tidak selalu berpusat pada satu jenis teknologi penggerak. Bagi sebagian pemilik, faktor keandalan, jangkauan layanan, efisiensi operasional dan kesesuaian dengan karakter kendaraan dapat menjadi prioritas yang lebih besar dibandingkan dengan persepsi terhadap jenis tenaga penggerak. Hal ini terlihat dari bagaimana kendaraan yang kerap dikira sebagai mobil listrik justru dipilih berdasarkan pertimbangan yang berkaitan dengan penggunaan mesin bensin untuk mendukung mobilitas jangka panjang.

Persepsi dan Realitas Pasar

Fenomena kesalahpahaman yang dialami oleh Adi Kamer Putra menjadi cerminan dari dinamika persepsi konsumen terhadap desain otomotif di Indonesia. Saat desain suatu kendaraan berhasil menyampaikan kesan futuristik, masyarakat cenderung mengaitkannya dengan teknologi terkini, termasuk kendaraan listrik murni. Namun, realitas penggunaan menunjukkan bahwa kendaraan tersebut tetap beroperasi dengan mesin bensin yang disesuaikan untuk kebutuhan efisiensi dan mobilitas luas.

Dengan jarak tempuh yang telah melampaui puluhan ribu kilometer serta penggunaan lintas provinsi yang berkelanjutan, pengalaman pemilik seperti Adi Kamer Putra memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah SUV kompak dapat memenuhi kebutuhan operasional harian, tanpa bergantung pada persepsi awal masyarakat terhadap jenis penggeraknya. Kesalahpahaman visual, pada akhirnya, tidak mengurangi fungsi kendaraan tersebut sebagai sarana mobilitas yang andal bagi pemiliknya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User