Cikini Gold Center di Jalan Cikini, Jakarta Pusat, dikenal sebagai sentra emas dan perhiasan. Namun pada Rabu (7/10/2026), pantauan lapangan menunjukkan bahwa aktivitas usaha di gedung tersebut mencakup lini yang lebih luas, yakni penyediaan seserahan pernikahan dan parcel. Ratusan etalase di lantai satu dan dua menata kotak hantaran berwarna-warni, lengkap dengan layanan dekorasi, penjualan kemasan, hingga skema sewa bagi calon pengantin yang ingin menghemat anggaran acara. Layaknya pusat perbelanjaan khusus, kawasan ini melayani kebutuhan pernikahan dari berbagai kalangan masyarakat ibu kota dan sekitarnya.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, sebagian besar toko di dua lantai tersebut berfokus pada perlengkapan hantaran, mulai dari box akrilik, keranjang rotan, hingga wadah kaca berukiran. Harga yang ditawarkan bervariasi, menyesuaikan bahan, ukuran, dan tingkat kerumitan dekorasi. Para pedagang menyebut meski persaingan semakin ketat, permintaan jasa penyediaan seserahan pernikahan tetap mengalir sepanjang tahun dengan puncaknya pada periode tertentu.
Musim Nikah Jadi Penentu Omzet
Salah satu pengelola toko seserahan di kawasan itu, Yanti (42), menyatakan bahwa bisnis hantaran pernikahan masih memberikan penghasilan yang layak meski tidak seramai beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, jumlah pesanan sangat bergantung pada kalender acara, karena masyarakat umumnya memilih tanggal yang dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan.
"Alhamdulillah masih ada saja, karena orang menikah itu terjadi setiap bulan. Biasanya ramainya jatuh setelah Idul Adha, setelah Idul Fitri, atau pada tanggal-tanggal kembar yang dianggap cantik," ujar Yanti ketika ditemui di toko tempatnya bekerja.
Yanti menjelaskan, periode pasca-Hari Raya Idul Adha dan pasca-Lebaran menjadi musim tersibuk bagi toko-toko seserahan. Permintaan melonjak karena banyak keluarga menyelenggarakan resepsi pernikahan setelah masa mudik dan liburan berakhir. Selain itu, tren memilih tanggal cantik, seperti angka kembar, juga turut mendorong lonjakan pesanan dalam waktu singkat. Kondisi tersebut memaksa toko menyiapkan stok kemasan dan tenaga dekorasi lebih awal agar mampu memenuhi permintaan.
Terkait penurunan kunjungan dibanding tahun-tahun sebelumnya, Yanti menyebut dua faktor utama, yakni menjamurnya usaha rumahan yang menawarkan jasa serupa serta maraknya tutorial dekorasi seserahan di media sosial. Sebagian calon pengantin kini memilih membuat hantaran secara mandiri demi menekan biaya, sementara sebagian lainnya memanfaatkan jasa perorangan yang tidak membuka gerai fisik.
"Agak berkurang ramainya, sebab sekarang banyak juga yang menjalankan usaha dari rumah tanpa membuka toko, hanya melayani pesanan. Namun orang tetap tahu Cikini sebagai tempat seserahan, jadi mereka tetap datang ke sini," katanya.
Strategi Kanal Digital dan Skema Sewa
Untuk mempertahankan pangsa pasarnya, toko yang dikelola Yanti tersebut tidak hanya mengandalkan transaksi di gerai, tetapi juga memanfaatkan perdagangan daring. Salah satunya dengan menggelar siaran langsung di TikTok untuk menjangkau pembeli di luar Jakarta. Strategi ini dilakukan seiring pergeseran perilaku konsumen yang semakin nyaman berbelanja melalui platform digital.
"Kami juga melayani pesanan online, biasanya lewat live TikTok. Ramainya kira-kira sama saja dengan yang datang langsung," ujarnya.
Layanan yang tersedia di toko tersebut mencakup penjualan kemasan sekaligus jasa dekorasi seserahan, serta penyewaan kotak hantaran. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, harga dekorasi dan penjualan kemasan dimulai dari Rp 500 ribu untuk box berbahan akrilik. Sementara itu, pelanggan yang memilih skema sewa dapat memperoleh paket dengan biaya lebih ringan, yakni Rp 300 ribu per set. Satu set terdiri atas tiga box berukuran kecil, sedang, dan besar, sehingga dapat menampung aneka bingkisan seserahan sekaligus.
Pilihan menyewa dinilai semakin diminati, terutama oleh pasangan muda yang ingin tampil maksimal tanpa harus membeli perlengkapan yang hanya dipakai sekali. Skema ini sekaligus menjadi strategi toko untuk menghasilkan pendapatan berulang, mengingat kemasan dapat disewakan kembali kepada pelanggan berikutnya setelah dibersihkan dan dirawat.
Persaingan Usaha yang Semakin Ketat
Geliat usaha seserahan di Cikini Gold Center tidak lepas dari lanskap kompetisi yang berubah. Kehadiran pelaku usaha rumahan, jasa dekorasi freelance, hingga penyedia hantaran daring membuat toko-toko konvensional harus beradaptasi. Beberapa pedagang di kawasan yang sama diketahui mulai menawarkan paket hemat, diskon pembelian dalam jumlah besar, hingga layanan pengantaran ke lokasi acara.
Para pelaku usaha menyadari bahwa keunggulan utama mereka terletak pada reputasi kawasan Cikini sebagai pusat seserahan pernikahan. Reputasi tersebut membuat toko-toko tetap menjadi rujukan utama bagi pembeli yang ingin melihat langsung bahan, warna, dan kualitas dekorasi sebelum memesan. Kelebihan itu sulit ditiru oleh penjual daring yang hanya menampilkan produk melalui layar.
Di sisi lain, sejumlah pengelola toko juga mengakui bahwa tren pernikahan sederhana pasca-pandemi memengaruhi nilai transaksi rata-rata. Pasangan pengantin kini cenderung lebih selektif mengalokasikan dana, sehingga layanan sewa kemasan mendapat porsi lebih besar dibanding pembelian permanent set. Meski demikian, total volume pesanan dinilai masih stabil karena jumlah pelaksanaan pernikahan terus berlangsung.
Dengan strategi kombinasi antara layanan tatap muka, perdagangan daring, dan skema sewa yang terjangkau, toko-toko seserahan di Cikini Gold Center berupaya menjaga kelangsungan usaha. Bagi masyarakat yang sedang merencanakan pernikahan, kawasan ini tetap menjadi alternatif utama untuk memperoleh kemasan hantaran lengkap dengan layanan dekorasi dalam satu tempat, lengkap dengan beragam pilihan harga yang dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Comments (0)