Bekasi — Limbah jeans bekas dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, kini diolah menjadi produk bernilai tinggi dan sukses menembus pasar ekspor. Inisiatif yang digagas sejak
awal 2023 ini mengubah gunungan sampah tekstil menjadi aneka tas, dompet, dan aksesori fesyen yang diminati konsumen di
tiga benua. Program ini merupakan kolaborasi antara komunitas pemulung setempat, perusahaan rintisan sosial “DenimLoop”, dan dukungan pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi.
Menurut data yang dihimpun Apaberita, setiap bulan sekitar
5,2 ton jeans bekas berhasil dipilah dari total kiriman sampah tekstil Bantargebang yang mencapai
27 ton per hari. Jeans-jeans itu kemudian dicuci dengan sistem daur ulang air, dipotong, dan dijahit oleh
62 orang tenaga kerja lokal yang mayoritas sebelumnya berprofesi sebagai pemulung. Produk akhir dijual secara daring melalui platform e-commerce global dan mengantongi omzet ekspor tahunan sebesar
Rp1,2 miliar pada 2025. Negara tujuan utama ekspor meliputi
Belanda, Jerman, dan
Jepang, dengan permintaan yang terus meningkat rata-rata
18% per kuartal.
Direktur DenimLoop, Rina Hartati, menjelaskan bahwa kunci penetrasi pasar ekspor terletak pada desain kontemporer dan sertifikasi daur ulang yang diakui secara internasional. “Kami mengantongi sertifikasi Global Recycled Standard (GRS) sehingga produk kami bisa bersaing di pasar Eropa yang sangat ketat soal isu keberlanjutan,” ujarnya di sela pameran INACRAFT, Kamis (12/6/2025). Harga jual produk bervariasi mulai dari
Rp85.000 untuk dompet kecil hingga
Rp450.000 untuk tas selempang edisi terbatas. Setiap
1 kilogram jeans bekas dapat disulap menjadi
3–4 unit produk dengan total nilai jual rata-rata
Rp320.000, menciptakan nilai tambah sebesar
2.700% dari harga material limbah yang semula nyaris nol. Selain itu, proses produksi menerapkan sistem zero waste: sisa potongan kain diolah menjadi isian bantal atau media tanam hidroponik.
Analisis Dampak Ekonomi Sirkular
Konversi limbah jeans Bantargebang menjadi komoditas ekspor memperlihatkan model ekonomi sirkular yang bekerja dari hilir ke hulu. Pasokan bahan baku yang melimpah dan berbiaya rendah menjadi fondasi daya saing, sementara sentuhan desain dan pemasaran digital mengerek margin keuntungan. Keberadaan program ini juga mengurangi laju penumpukan sampah tekstil di TPA yang berkontribusi sekitar
9% dari total sampah Bantargebang.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini berhasil menaikkan pendapatan bulanan para pekerja dari semula rata-rata
Rp1,1 juta sebagai pemulung menjadi
Rp3,8 juta sebagai perajin daur ulang, plus akses ke BPJS Ketenagakerjaan. Kenaikan pendapatan tersebut berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan rumah tangga di sekitar TPA.
| Indikator | Sebelum Program (2022) | Setelah Program (2025) |
| Volume jeans terbuang | 5,2 ton/bulan tertimbun | 5,2 ton/bulan terolah penuh |
| Omzet ekspor tahunan | Rp0 | Rp1,2 miliar |
| Rata-rata pendapatan pekerja | Rp1,1 juta/bulan | Rp3,8 juta/bulan |
| Mitra ritel global | 0 | 7 negara |
Dr. Andi Prasetyo, peneliti ekonomi lingkungan dari Universitas Indonesia, menilai lonjakan nilai tambah ini sebagai fenomena langka yang layak direplikasi.
“Program ini membuktikan bahwa sampah tekstil bisa menjadi komoditas ekspor andalan jika dikombinasikan dengan desain tepat dan akses rantai pasok internasional. Pemerintah perlu segera menstandarkan skema serupa untuk jenis limbah lain seperti plastik keras dan ban bekas,” tuturnya. Prasetyo menyoroti perlunya insentif fiskal bagi industri daur ulang agar biaya sertifikasi dan logistik ekspor bisa ditekan, sehingga lebih banyak usaha mikro mampu menembus pasar global.
Dengan permintaan yang terus bertumbuh, DenimLoop menargetkan peningkatan kapasitas produksi menjadi
10 ton jeans bekas per bulan pada akhir 2026, serta menjajaki pasar Amerika Serikat dan Korea Selatan. Pemkot Bekasi melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan menjanjikan dukungan perluasan gudang produksi serta pelatihan pemasaran digital bagi para perajin. Jika ekspansi ini berjalan mulus, potensi omzet ekspor diperkirakan melonjak ke angka
Rp3,5 miliar per tahun.
Comments (0)