JAKARTA — Pemerintah Indonesia dan India resmi memulai kerja sama restorasi Candi Prambanan, yang diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (22/7). Dalam keterangan pers bersama, Modi mengungkapkan keyakinannya bahwa proyek ini tidak sekadar merevitalisasi warisan budaya, tetapi juga membuka pintu lebar bagi lonjakan kunjungan wisatawan, terutama umat Hindu India, ke Indonesia. Kerja sama ini menandai babak baru konservasi candi Hindu terbesar di Indonesia yang memiliki nilai spiritual mendalam bagi pemeluk Hindu di seluruh dunia.
Candi Prambanan, yang juga dikenal sebagai kompleks Roro Jonggrang, menjadi simbol kejayaan Hindu dan peradaban Mataram Kuno. Proyek restorasi bersama ini akan fokus pada tiga zona utama: pemulihan struktur batu candi perwara Brahma, penguatan fondasi di sektor utara yang terdampak pelapukan batuan vulkanik, dan pemasangan sistem drainase baru untuk mengurangi risiko genangan air hujan yang selama ini mempercepat degradasi. Teknisi dari Archaeological Survey of India (ASI) bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X akan bekerja secara paralel dalam tiga tahap, dimulai Maret 2026 dengan estimasi rampung pada Desember 2027. Total pendanaan yang dialokasikan mencapai
Rp 186 miliar (USD 12 juta), dengan porsi India sekitar 60 persen melalui skema Indian Funding for International Cultural Heritage.
PM Modi dalam sambutannya menekankan bahwa Candi Prambanan bukan sekadar situs arkeologi. “Tempat ini adalah perekat hubungan peradaban kita. Umat Hindu di India selalu memandang Prambanan sebagai destinasi suci yang menyatukan dua bangsa,” ujarnya. Pernyataan itu diamini Presiden Prabowo yang menilai kerja sama ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dalam memperkuat diplomasi budaya.
Prambanan sebagai “Living Monument” dan Potensi Pariwisata Religius
Keputusan India terlibat langsung dalam restorasi bersifat strategis. Candi Prambanan termasuk dalam rute Ramayana Trail yang menghubungkan India, Sri Lanka, dan Asia Tenggara. Trail ini menjadi paket wisata premium bagi warga India kelas menengah-atas dengan pengeluaran perjalanan rata-rata
USD 3.500 per orang. Saat ini, jumlah wisatawan India ke Indonesia masih bertumpu pada Bali sebagai destinasi utama, dengan Prambanan hanya dikunjungi kurang dari
8 persen total kedatangan. Dengan rampungnya restorasi dan penguatan narasi “Prambanan Sacred Journey”, Kementerian Pariwisata memproyeksikan kenaikan signifikan.
“Restorasi candi yang melibatkan India akan menciptakan resonansi emosional dan spiritual. Ini semacam endorsement tidak langsung bahwa di Indonesia ada tempat suci Hindu yang diakui dan dirawat bersama. Saya perkirakan ada potensi lonjakan kunjungan wisatawan India minimal 40 persen dalam lima tahun setelah restorasi tuntas,” kata Dr. Andi Soekarno, Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia yang lama meneliti pola wisata heritage.
Untuk menyambut potensi itu, Kementerian BUMN melalui PT Taman Wisata Candi (TWC) telah menyiapkan penambahan audio guide berbahasa Hindi, Tamil, dan Sanskerta, serta pelatihan bagi 150 pemandu lokal khusus rute kisah Ramayana yang terpahat di relief candi. Selain itu, penerbangan langsung Chennai–Yogyakarta yang diinisiasi maskapai India dijadwalkan mulai beroperasi semester I 2026, memangkas waktu tempuh yang sebelumnya harus transit di Jakarta atau Kuala Lumpur.
Perbandingan Data Kunjungan dan Proyeksi Pascarestorasi
Tabel berikut menampilkan data historis dan proyeksi kunjungan wisatawan asal India ke kawasan Candi Prambanan, yang disusun berdasarkan laporan PT TWC dan Badan Pusat Statistik (BPS), serta proyeksi Kemenparekraf.
| Tahun |
Jumlah Wisatawan India (Prambanan) |
Pertumbuhan Tahunan |
Keterangan |
| 2022 |
12.450 |
— |
Pascapandemi, pembatasan penerbangan |
| 2023 |
44.600 |
258% |
Pelonggaran visa, pemulihan sektor |
| 2024 |
68.200 |
53% |
Penerbangan langsung Mumbai-Denpasar |
| 2025 (proyeksi) |
95.000 |
39% |
Efek awal publikasi restorasi |
| 2027 (target pascarestorasi) |
180.000 |
89% dari 2025 |
Rampung restorasi, rute Ramayana Trail |
Sumber: Data PT TWC dan BPS 2022-2024; proyeksi Kemenparekraf 2025-2027.
Analisis Dampak: Dari Batu ke Ekonomi
Angka target 180.000 wisatawan India per tahun ke Prambanan bukan sekadar ambisi statistik. Jika terealisasi, dengan rerata pengeluaran
USD 320 per kunjungan (mencakup tiket, pemandu, kuliner, dan suvenir), kawasan Prambanan akan memperoleh pemasukan sebesar
USD 57,6 juta (sekitar Rp 900 miliar). Angka itu hanya dari wisatawan India, belum termasuk multiplier effect ke hotel, transportasi, dan UMKM kerajinan batu candi di sekitar Klaten. Dalam skala yang lebih luas, keberhasilan restorasi ini bisa menjadi benchmark kerja sama konservasi candi-candi Hindu lain di Indonesia, seperti Candi Dieng yang juga menarik minat tim ASI.
Kerja sama restorasi ini juga berdimensi geopolitik. Indonesia dan India tahun ini merayakan
75 tahun hubungan diplomatik. Di tengah persaingan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik, diplomasi budaya menjadi alat lunak yang efektif. Restorasi Prambanan menempatkan Indonesia sebagai jembatan peradaban Hindu-Buddha di Asia Tenggara, sekaligus membuka akses investasi India ke sektor hospitality di Yogyakarta. Pemerintah pun menyambutnya: Menko PMK dan Menteri Kebudayaan telah menginstruksikan percepatan penetapan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Yogyakarta-Solo dengan titik sentral Prambanan sebagai destinasi religi kelas dunia.
Bagi masyarakat lokal, dampak langsungnya adalah penciptaan lapangan kerja. Selama proyek restorasi berlangsung, sedikitnya
400 tenaga kerja terampil akan direkrut, 70 persen di antaranya warga Klaten dan Sleman. Pemerintah Kabupaten Klaten juga tengah menyusun Peraturan Bupati tentang zonasi cagar budaya untuk melindungi kawasan penyangga candi dari alih fungsi lahan yang tak terkendali.
Dengan momentum ini, optimisme PM Modi bahwa “restorasi Prambanan bakal mendongkrak turis India ke Indonesia” bukan isapan jempol. Fondasinya jelas: data historis yang menunjukkan tren naik, dukungan kebijakan lintas kementerian, dan ikatan emosional peradaban yang kian diperkuat oleh proyek restorasi otentik. Kini tantangannya adalah memastikan eksekusi lapangan tepat waktu, tepat mutu, dan tetap menghormati nilai sakral candi yang telah berdiri sejak abad ke-9 Masehi.
Comments (0)