BEC 2026 Usung Tema 'Perang Bayu'

Banyuwangi, Jawa Timur – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara resmi menetapkan tema 'Perang Bayu' untuk gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tahun 2026 yang diselenggarakan pada 18 Juli 2026. P...

Jul 19, 2026 - 13:55
0 0
BEC 2026 Usung Tema 'Perang Bayu'

Banyuwangi, Jawa Timur – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara resmi menetapkan tema 'Perang Bayu' untuk gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tahun 2026 yang diselenggarakan pada 18 Juli 2026. Perhelatan akbar tahunan ini kembali menghadirkan parade kostum spektakuler dan pertunjukan budaya di sepanjang Jalan Nasional Banyuwangi – Glenmore, menarik ribuan penonton dari berbagai daerah.

Acara yang telah memasuki edisi ke-16 ini dibuka oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang menegaskan bahwa BEC merupakan wujud nyata komitmen daerah dalam melestarikan warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. "BEC 2026 bukan sekadar pertunjukan, tetapi merupakan ekspresi identitas kita yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan," ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Makna Historis Tema 'Perang Bayu'

Tema 'Perang Bayu' dipilih berdasarkan kajian mendalam oleh tim kurator budaya Kabupaten Banyuwangi. Tema ini merujuk pada peristiwa historis pada abad ke-18 yang berkaitan dengan legenda rakyat tentang pertempuran sengit yang melibatkan unsur alam dan kekuatan spiritual. Ketua Komisi Pariwisata DPRD Kabupaten Banyuwangi, Dawud Daulay, menyatakan bahwa pemilihan tema ini ditetapkan melalui serangkaian rapat koordinasi dengan para budayawan dan akademisi untuk memastikan akurasi historis dan nilai edukasinya.

Dalam konferensi pers prakilas pada 15 Juli 2026, Ketua Panitia Pelaksana BEC 2026, Gusti Bagus Alit Putra, menjelaskan bahwa tema ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami kearifan lokal. "Kami menegaskan bahwa setiap kostum dan koreografi dalam parade tahun ini merupakan interpretasi artistik yang berlandaskan fakta sejarah," katanya. Proses kurasi melibatkan sejarawan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur untuk memverifikasi setiap elemen visual yang ditampilkan.

Parade Kostum dan Pertunjukan Budaya

Puncak acara berupa parade yang diikuti oleh 2.500 peserta dari 30 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Para peserta mengenakan kostum megah yang dirancang oleh desainer lokal berbakat, menggabungkan material tradisional seperti kulit kerang, rotan, dan kain tenun ikat dengan sentuhan elemen fashion global berupa siluet modern dan teknik konstruksi kostum kontemporer. Kostum-kostum ini memakan waktu rata-rata tiga bulan dalam proses pembuatannya.

Pertunjukan dibagi menjadi lima babak yang menceritakan kronologi kisah 'Perang Bayu'. Babak pembuka menggambarkan suasana damai pedesaan, dilanjutkan dengan konflik, klimaks pertempuran, hingga penyelesaian dan harapan. Direktur Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Made Cahya Purnama, menindaklanjuti dengan menyatakan bahwa koreografi tahun ini melibatkan 200 penari dan 50 musisi yang memainkan gamelan tradisional banyuwangian secara langsung sepanjang rute parade sepanjang 2,3 kilometer.

Salah satu penampil yang menarik perhatian adalah kelompok dari Kecamatan Pesanggaran yang menampilkan kostum megah setinggi 3 meter dengan elemen sayap yang dapat digerakkan. "Desain kami terinspirasi dari artefak batu yang ditemukan di situs purbakala daerah kami," ujar Kepala Desa Sumberagung, Muhadi, yang memimpin rombongan. Ia menambahkan bahwa seluruh biaya pengadaan kostum ditanggung melalui dana desa dan donasi dari masyarakat, menunjukkan partisipasi aktif warga dalam pelestarian budaya.

Dampak Ekonomi dan Sambutan Publik

Dampak Ekonomi dan Sambutan Publik

Dampak Ekonomi dan Sambutan Publik

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, BEC 2026 diprediksi mendatangkan sekitar 100.000 pengunjung dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp 45 miliar selama masa pelaksanaan. Hotel dan penginapan di sekitar lokasi acara dilaporkan mencapai tingkat hunian hampir 90 persen sejak sepekan menjelang gelaran. Bupati Ipuk dalam rapat evaluasi pasca-acara pada 20 Juli 2026 menyatakan bahwa capaian ini melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.

Sambutan positif datang dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menyatakan dukungan penuh agar BEC dapat menjadi kalender event pariwisata nasional. Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Bayu Airlangga, menegaskan dalam surat resminya bahwa keberhasilan BEC 2026 menjadi rujukan bagi daerah lain dalam menghelat even budaya berskala besar. Ia menindaklanjuti dengan mengusulkan agar koordinasi antar-daerah diperkuat untuk promosi bersama.

Masyarakat setempat, para pengunjung, dan peserta dari luar daerah memberikan respons yang sangat antusias melalui berbagai platform media sosial. Fraksi-fraksi di DPRD Kabupaten Banyuwangi juga menyatakan apresiasi dalam rapat paripurna yang digelar pada 22 Juli 2026. Beberapa anggota dewan menegaskan perlunya alokasi anggaran yang lebih besar untuk pelestarian budaya berbasis komunitas di tahun-tahun mendatang. Keberhasilan BEC 2026 dengan tema 'Perang Bayu' kembali membuktikan bahwa integrasi nilai historis, budaya lokal, dan presentasi global dapat menghasilkan sebuah perhelatan yang bukan hanya memukau secara visual, tetapi juga bermakna secara filosofis dan menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat Banyuwangi secara luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User