Bapanas Gandeng Importir Perkuat Pasokan Bawang Putih Wilayah Timur
Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah perusahaan importir dan distributor bawang putih untuk memperkuat rantai pasok ke wilayah Indonesia bagian timur. Kep...
Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah perusahaan importir dan distributor bawang putih untuk memperkuat rantai pasok ke wilayah Indonesia bagian timur. Keputusan ini ditetapkan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Pasokan dan Harga Pangan di Kantor Bapanas, Jakarta, Senin (14/7/2025). Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi fluktuasi harga komoditas strategis di triwulan kedua yang menunjukkan disparitas antara Jawa dan kawasan timur. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan menjamin ketersediaan bawang putih secara merata sekaligus menekan selisih harga.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, rata-rata harga bawang putih di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur pada pekan lalu masih bertengger di level Rp48.000—Rp52.000 per kilogram, sementara di pasar induk Jakarta sudah stabil di kisaran Rp36.000—Rp38.000. “Kami tidak bisa membiarkan kesenjangan ini berlarut-larut. Pasokan ke timur harus diprioritaskan agar konsumen di sana tidak terus-menerus menanggung biaya logistik yang membebani harga jual,” ujar Arief Prasetyo Adi. Ia menambahkan, Bapanas telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 12/TS.04.02/K/7/2025 tentang Pedoman Distribusi Bawang Putih yang menginstruksikan importir mengalokasikan paling sedikit 8 persen dari total volume impor bulanan untuk provinsi kepulauan dan daerah terpencil.
Penandatanganan Komitmen Bersama Importir
Dalam forum yang sama, enam perusahaan importir terbesar — PT Sumber Pangan Nusantara, PT Agro Segar Makmur, CV Mitra Tani Sejahtera, PT Bumi Rempah Internasional, PT Pangan Sentosa Abadi, dan PT Prima Komoditi Indonesia — menandatangani pakta integritas distribusi. Para pihak menyatakan kesiapan menyediakan stok tambahan di gudang penyangga di Surabaya dan Makassar paling lambat 21 Juli 2025. Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, memaparkan bahwa realisasi impor bawang putih per Juni 2025 mencapai 484.320 ton dari total kuota tahunan 645.000 ton. Dari angka tersebut, baru sekitar 6,3 persen yang terdistribusi ke Indonesia timur. “Kami targetkan porsi distribusi ke timur naik menjadi minimal 10 persen per Agustus 2025,” kata Maino. Ia menekankan, keterlambatan pengiriman ke timur sering disebabkan oleh minimnya armada kapal dan terbatasnya frekuensi pelayaran, sehingga importir perlu bekerja sama dengan perusahaan pelayaran nasional untuk membuka trayek langsung.
Direktur Utama PT Sumber Pangan Nusantara, Henry Tanuwijaya, mengungkapkan pihaknya mengalokasikan 2.500 ton bawang putih khusus untuk Kupang, Ambon, dan Jayapura. “Kami sudah menyiapkan kontainer berpendingin dan menjadwalkan pengiriman pada 18 Juli. Harapannya, barang sudah tiba di gudang distributor lokal paling lambat 28 Juli,” ucap Henry. Para importir lainnya menyatakan komitmen serupa dengan volume yang disesuaikan berdasarkan kapasitas masing-masing. Bapanas akan melakukan monitoring real-time menggunakan sistem digital Neraca Bahan Makanan untuk memantau pergerakan stok di setiap provinsi.
Distribusi Prioritas ke Indonesia Timur
Selama ini, jalur distribusi bawang putih ke Indonesia bagian timur bergantung pada skema hub-and-spoke melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Model tersebut mengakibatkan biaya tambahan untuk bongkar muat dan transportasi lanjutan yang menyumbang 15—25 persen dari harga akhir. Untuk menekan biaya, Bapanas mendorong importir memanfaatkan fasilitas tol laut yang dioperasikan Kementerian Perhubungan, khususnya trayek T-14 (Surabaya–Kupang), T-15 (Surabaya–Ambon), dan T-18 (Surabaya–Jayapura). Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub, Capt. Hendri Ginting, berkomitmen memprioritaskan muatan bawang putih dalam jadwal keberangkatan kapal tol laut pekan depan.
Selain itu, Bapanas berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan Dinas Perdagangan setempat untuk menyiapkan tempat penyimpanan sementara. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat, melalui keterangan tertulis menyambut baik inisiatif nasional ini dan memastikan Gudang Sistem Resi Gudang milik Pemprov di Kupang siap menampung kedatangan stok tambahan. “Kami berharap dengan masuknya pasokan dari importir besar, harga di tingkat konsumen bisa turun di bawah Rp42.000 seiring normalisasi suplai,” ujar Laiskodat. Data Bapanas menunjukkan, konsumsi bawang putih di NTT rata-rata 950 ton per bulan, namun pasokan lokal hanya mampu memenuhi 20 persen, sisanya bergantung pada kiriman dari Jawa.
Jaminan Stabilitas Harga
Penguatan pasokan ini dilekatkan dengan pengawasan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp36.000 per kilogram untuk wilayah barat dan Rp42.000 per kilogram untuk wilayah timur. Satuan Tugas Pangan akan menindak tegas distributor atau pengecer yang menjual di atas HET tanpa alasan transportasi yang wajar. Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komjen Pol. Wahyu Widada, menyatakan mendukung penuh operasi pasar murah yang akan digelar serentak di 14 kabupaten/kota prioritas selama Agustus mendatang. “Kami tidak akan ragu menyita barang dan menutup usaha bagi spekulan yang sengaja menimbun saat distribusi sudah lancar,” tegas Wahyu Widada.
Arief Prasetyo Adi menambahkan, evaluasi akan dilakukan setiap dua pekan untuk menilai efektivitas skema ini. Apabila disparitas belum berkurang signifikan dalam 45 hari, Bapanas akan merekomendasikan penugasan khusus kepada BUMN pangan untuk mengambil alih pasokan di provinsi yang masih mengalami defisit. Pemerintah juga tengah mengkaji insentif bagi importir yang patuh, berupa percepatan verifikasi izin impor dan prioritas alokasi kuota tahun berikutnya. Dengan konsolidasi ini, Bapanas optimistis gejolak harga bawang putih di kawasan timur dapat diredam dan stabilitas pangan nasional kian terjamin.
Comments (0)