Banyak Pikiran dan Ingin Marah? Psikolog Sarankan Redakan dengan Relaksasi Otot Progresif
Jakarta - Tekanan hidup yang menumpuk seringkali membuat pikiran terasa penuh dan memicu keinginan untuk meluapkan emosi secara agresif, seperti marah-marah. Kondisi ini, jika tidak dikelola dengan tepat, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan hubungan sosial. Menanggapi persoalan tersebut, seorang psikolog klinis membagikan teknik sederhana namun efektif untuk meredam gejolak emosi melalui latihan fisik yang terfokus.
Mengurai Ketegangan di Titik Rawan Stres
Psikolog Klinis Sriana Sihombing, yang akrab disapa Anna, menjelaskan bahwa stres dan kecemasan yang terakumulasi kerap bermanifestasi sebagai ketegangan fisik pada bagian-bagian tubuh tertentu. Untuk melepaskan ketegangan atau 'tension' tersebut, ia merekomendasikan metode Progressive Muscle Relaxation (PMR). Teknik relaksasi otot progresif ini bekerja dengan cara menegangkan dan kemudian melepaskan kelompok otot secara sistematis, mulai dari bahu, lengan, perut, hingga otot-otot di wajah.
"Itu untuk merilis tension, makanya tadi dia harus mengepalkan tangan, angkat bahu. Karena semua tension itu biasanya di bagian tubuh itu tadi," ujar Anna dalam sebuah kesempatan wawancara di kawasan Cinere, Depok, akhir pekan lalu.
"PMR menjadi jembatan untuk menyadari sensasi fisik saat tegang dan saat rileks, sehingga kita lebih mudah mengenali dan meredakan stres sebelum meledak," imbuhnya.
Langkah Praktis Meredam Emosi Tanpa Harus ke Gym
Keunggulan dari Progressive Muscle Relaxation adalah kemudahannya untuk dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa memerlukan peralatan khusus. Ketika perasaan ingin marah mulai muncul, seseorang dapat langsung mengambil waktu sejenak untuk mengepalkan tangan kuat-kuat, merasakan ketegangannya, lalu melepaskannya secara perlahan. Gerakan serupa dapat diterapkan dengan mengangkat bahu setinggi-tingginya menuju telinga, tahan beberapa detik, lalu jatuhkan dengan rileks.
Dengan melakukan siklus tegang-lepas ini, tubuh akan mengirimkan sinyal relaksasi ke otak. Otak kemudian merespons dengan memperlambat detak jantung dan menurunkan tekanan darah yang biasanya melonjak saat emosi memuncak. Metode ini dianggap sangat efektif untuk menstabilkan kondisi psikologis yang labil atau "meledak-ledak", sehingga mencegah terjadinya tindakan agresif yang disesali kemudian.
Selain menangani emosi sesaat, teknik ini juga dapat menjadi rutinitas harian untuk menjaga kebugaran mental. Dengan latihan rutin, tubuh akan lebih tanggap terhadap sinyal stres dan mampu beradaptasi lebih cepat. Hal ini sejalan dengan berbagai riset yang menunjukkan bahwa relaksasi fisik berdampak langsung pada kesehatan jantung dan mental, termasuk menurunkan risiko penyakit kronis akibat tekanan di tempat kerja yang tinggi.
Jadi, ketika beban pikiran terasa berat dan hasrat untuk marah tak terbendung, cobalah redakan sejenak. Alih-alih meluapkan emosi negatif, berikan tubuh kesempatan untuk mengelola stres melalui relaksasi otot yang progresif.
Comments (0)