Bank Sentral Inggris: AI Ancam Stabilitas Keuangan Global

LONDON – Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) secara resmi mengeluarkan peringatan keras bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat be

Bank Sentral Inggris: AI Ancam Stabilitas Keuangan Global

LONDON – Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) secara resmi mengeluarkan peringatan keras bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat berpotensi mengancam stabilitas sistem keuangan global. Peringatan ini disampaikan dalam laporan terbaru Komite Kebijakan Keuangan (FPC) yang dirilis pada 25 Maret 2026, menandai eskalasi kekhawatiran regulator terhadap penetrasi AI di sektor perbankan dan pasar modal.

Laporan tersebut menyoroti bahwa adopsi massal model AI oleh bank-bank besar, perusahaan asuransi, dan manajer investasi dapat menciptakan risiko sistemik yang sulit dikendalikan. “Teknologi AI mampu mempercepat dan memperkuat guncangan di pasar keuangan,” ujar Gubernur BoE Andrew Bailey dalam konferensi pers virtual yang digelar bersamaan dengan rilis laporan.

Kronologi Kekhawatiran AI di Sektor Keuangan

  1. 25 Maret 2026: Bank Sentral Inggris menerbitkan laporan FPC yang secara eksplisit menyebut AI sebagai ancaman terhadap stabilitas keuangan. FPC mencatat bahwa model AI generatif dapat menghasilkan rekomendasi investasi yang seragam, memicu aksi jual atau beli massal yang mempertajam volatilitas.
  2. Februari 2026: Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa integrasi AI tanpa kerangka regulasi memadai dapat memperbesar risiko guncangan makroekonomi, terutama di negara berkembang yang sistem keuangannya rapuh.
  3. November 2025: Otoritas Jasa Keuangan Eropa (ESMA) merilis studi yang menemukan bahwa 60% transaksi algoritmik di bursa Eropa melibatkan komponen AI, naik dari 32% pada 2022.
  4. 2024–2025: Serangkaian insiden “flash crash” di pasar obligasi dan saham diyakini terkait dengan model AI yang bereaksi serentak terhadap berita ekonomi, memperparah penurunan dalam hitungan detik.
  5. Langkah terbaru: G7 Finance Ministers’ Meeting pada awal Maret 2026 sepakat membentuk gugus tugas khusus untuk menyusun standar keamanan AI di sektor keuangan sebelum KTT G7 Juni mendatang.

Laporan BoE menekankan bahwa selain risiko perilaku kawanan (herd behavior), AI membuka celah serangan siber yang jauh lebih canggih. “Penjahat siber kini dapat menggunakan AI untuk meretas sistem perbankan dengan lebih presisi dan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tambah Bailey. Data menunjukkan insiden siber di bank global meningkat 78% sepanjang 2025, dengan 12% di antaranya melibatkan rekayasa AI.

“Kami tidak anti-AI, tetapi harus ada pagar pembatas yang jelas. Stabilitas keuangan adalah fondasi ekonomi, dan kami tidak bisa membiarkannya terguncang oleh teknologi yang belum teruji secara memadai.” — Andrew Bailey, Gubernur Bank of England.

Di sisi lain, bank sentral juga mengakui potensi positif AI dalam meningkatkan efisiensi operasional dan deteksi penipuan. Meski demikian, FPC merekomendasikan agar seluruh lembaga keuangan menjalani stress test ketahanan AI mulai 2027, serupa dengan stress test modal yang sudah berjalan.

Pelaku pasar merespons beragam. Indeks saham teknologi global sempat terkoreksi 1,8% setelah pernyataan BoE, tetapi pulih di sesi berikutnya. Analis menilai investor masih mencermati apakah peringatan ini akan diikuti regulasi konkret yang dapat membatasi penggunaan AI di sektor keuangan.

[SOCIAL_TWEET]: Keras! Bank Sentral Inggris peringatkan AI bisa bikin guncangan sistem keuangan global. Herd behavior & serangan siber makin canggih bakal jadi ancaman nyata. #BankOfEngland #AI #FinancialStability[SOCIAL_TG]: 🚨 Bank Sentral Inggris: AI Ancam Stabilitas Keuangan Global! Kenapa model AI bisa picu krisis? Simak selengkapnya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User