Bank Mulai Jual Dolar AS di Atas Rp 18.000, Rupiah Kembali Tertekan
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mendapatkan tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sejumlah bank nasional mulai menawarkan mata uang Paman Sam di atas level psikologis Rp 18.000 pada per
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mendapatkan tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sejumlah bank nasional mulai menawarkan mata uang Paman Sam di atas level psikologis Rp 18.000 pada perdagangan hari ini, Jumat (26/6/2026), melanjutkan tren yang sudah terlihat sejak kemarin. Data perdagangan yang dihimpun Apaberita.com menunjukkan penguatan dolar secara bertahap sejak pembukaan pasar pagi tadi, yang berdampak langsung pada penyesuaian harga jual di sektor perbankan.
Pasar Spot dan Data Bloomberg
Berdasarkan data Bloomberg yang dipantau Apaberita.com, dolar AS diperdagangkan pada level Rp 17.978 pada sesi hari ini. Mata uang global tersebut menunjukkan tren menguat sejak awal sesi, menandakan adanya pergerakan modal yang mendorong permintaan terhadap aset berdenominasi dolar. Meskipun masih berada di bawah level Rp 18.000 di pasar spot, pergerakan ini cukup signifikan untuk memicu respons dari perbankan yang mulai menyesuaikan kurs jual mereka.
"Pergerakan dolar AS terhadap rupiah cenderung menguat sepanjang sesi pagi ini, mencerminkan kondisi eksternal yang mendukung aliran dana ke aset safe haven," demikian data Bloomberg yang dikutip Apaberita.com.
Langkah Perbankan Nasional
Sejumlah bank telah mengambil langkah antisipatif dengan menaikkan harga jual dolar AS, bahkan melampaui batas Rp 18.000. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menjadi salah satu bank yang mencatat penyesuaian tersebut. Berdasarkan laporan Apaberita.com dari laman resmi BRI, untuk layanan counter per tanggal 25 Juni 2026, bank pelat merah itu mematok harga jual dolar AS di Rp 18.100 per dolar, sementara harga beli ditetapkan di Rp 17.800. Selisih yang cukup lebar ini mencerminkan kehati-hatian bank dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar yang meningkat.
Penetapan harga jual di atas Rp 18.000 oleh bank seperti BRI menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Langkah ini bukanlah yang pertama kali terjadi; pada periode-periode sebelumnya, level serupa pernah disentuh saat terjadi gejolak eksternal yang mempengaruhi aliran modal keluar dari Indonesia. Konsistensi kenaikan ini perlu dicermati karena dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari biaya impor, pembayaran utang luar negeri berdenominasi dolar, hingga harga barang konsumsi.
Analis yang dihubungi Apaberita.com menyebutkan bahwa faktor eksternal, seperti arah kebijakan moneter global dan ketidakpastian geopolitik, turut memainkan peran dalam mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah. Bank sentral diharapkan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas dan mencegah pelemahan yang terlalu dalam.
Comments (0)