Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate 5,75 Persen di Tengah Gejolak Global
JAKARTA — Bank Indonesia resmi mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 yang digelar di Jakarta. Keputusan tersebut ditetapkan d...
JAKARTA — Bank Indonesia resmi mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 yang digelar di Jakarta. Keputusan tersebut ditetapkan di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global menyusul memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026.
Selain mempertahankan BI-Rate, bank sentral juga menetapkan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 5,00 persen dan suku bunga Lending Facility pada level 6,50 persen. Keputusan itu diambil setelah dewan gubernur menilai keseluruhan dinamika ekonomi global maupun domestik dalam rapat yang berlangsung dua hari tersebut.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak peningkatan ketidakpastian global, sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta.
Konflik Timur Tengah Tekan Jalur Energi Dunia
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat pada awal Juli 2026 dilaporkan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Gangguan pada jalur tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah serta sejumlah komoditas global lainnya.
Kenaikan harga komoditas energi itu pada gilirannya memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara. Sejumlah otoritas moneter dunia pun harus meninjau ulang arah kebijakan suku bunga masing-masing guna meredam dampak lonjakan harga.
Pada saat bersamaan, bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam jangka waktu lebih panjang dari proyeksi semula. Kondisi itu tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap mayoritas mata uang dunia.
Akibatnya, sebagian arus modal global bergerak kembali menuju aset-aset yang dinilai lebih aman. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, pergerakan tersebut berpotensi memengaruhi nilai tukar, arus modal asing, biaya pembiayaan, hingga stabilitas perekonomian domestik secara keseluruhan.
Stabilitas Rupiah Jadi Fokus Utama
Bank Indonesia menegaskan bahwa keputusan menahan suku bunga acuan bukan berarti bank sentral bersikap pasif menghadapi gejolak. Menurut Perry, konsistensi arah kebijakan justru menjadi kunci dalam situasi ketidakpastian yang tinggi.
"Dalam kondisi ketidakpastian global yang meningkat, konsistensi arah kebijakan menjadi sangat penting. Penyesuaian kebijakan yang tergesa-gesa justru berisiko menimbulkan guncangan baru bagi perekonomian," kata Perry.
Dia menyatakan langkah mempertahankan suku bunga acuan merupakan hasil penilaian mendalam terhadap keseimbangan antara kebutuhan menjaga stabilitas dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank sentral menilai stance kebijakan moneter saat ini masih memadai untuk mengantisipasi dampak rambatan gejolak global terhadap perekonomian nasional.
Bauran Kebijakan Perkuat Ketahanan Ekonomi
Guna menindaklanjuti keputusan RDG, Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan melalui sejumlah instrumen. Pertama, stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik pasar spot maupun transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder sesuai kebutuhan.
Kedua, melanjutkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif dengan memperkuat insentif likuiditas makroprudensial guna mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas. Ketiga, mempercepat digitalisasi sistem pembayaran untuk memperkuat efisiensi transaksi ekonomi dan keuangan nasional.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan koordinasi dengan pemerintah juga terus diperkuat, khususnya dalam pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah.
"Koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran, serta memastikan ketahanan perekonomian nasional menghadapi berbagai risiko global," ujar Ramdan.
Arah Kebijakan Moneter ke Depan
Bank Indonesia menyatakan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik secara seksama. Ruang penyesuaian kebijakan moneter tetap terbuka dengan berpedoman pada data serta proyeksi ekonomi terkini.
Bank sentral memproyeksikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional diprakirakan tetap solid ditopang konsumsi domestik, investasi, serta belanja pemerintah.
Perry menegaskan seluruh instrumen kebijakan akan dioptimalkan demi menjaga stabilitas makroekonomi. "Bank Indonesia akan terus memperkuat respons kebijakan secara terukur agar stabilitas perekonomian tetap terjaga dan momentum pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," tegasnya.
Comments (0)