Bangladesh — Pria Tewas Akibat Ribut dengan Pendukung Argentina Gara-gara Penalti Messi
Malam itu, langit Syedpur di barat laut Bangladesh mulai gerimis kecil. Di sebuah kedai teh yang hanya diterangi lampu temaram, puluhan pasang mata menempe
Malam itu, langit Syedpur di barat laut Bangladesh mulai gerimis kecil. Di sebuah kedai teh yang hanya diterangi lampu temaram, puluhan pasang mata menempel ke layar televisi 14 inci. Argentina melawan Mesir dalam partai persahabatan internasional sudah memasuki babak kedua. Ketika wasit menunjuk titik putih, semua menahan napas. Lionel Messi maju sebagai algojo. Namun, tembakan kaki kirinya melambung tipis di atas mistar. Jeritan kecewa membelah udara, dan dalam hitungan menit suasana berubah menjadi gelap. Seorang pria yang ikut menyaksikan pertandingan itu kini terbujur kaku di rumah sakit terdekat. Ia tewas setelah ribut dengan pendukung fanatik tim Tango.
Insiden ini menambah daftar kelam kekerasan bermotif sepak bola di Asia Selatan, tempat popularitas klub-klub Eropa dan tim-tim nasional Amerika Latin sering mengalahkan logika. Korban, yang belakangan diidentifikasi bernama Alim Hossain, 36 tahun, bukanlah pendukung Mesir. Ia hanya seorang penonton biasa yang ikut nimbrung di kedai itu, tapi komentarnya tentang kegagalan penalti Messi menyulut api kemarahan yang tak terkendali.
Insiden Mematikan di Syedpur
Menurut keterangan polisi setempat, insiden bermula sekitar pukul 21.30 waktu Bangladesh. Alim Hossain, seorang buruh pabrik garmen, menghampiri kedai teh setelah shift malam. Di sana sudah berkumpul sekitar 20 orang, mayoritas pendukung Argentina yang biasa memakai jersey biru-putih. Ketika Messi gagal mengeksekusi penalti, Alim berbisik kepada teman di sebelahnya: “Dia memang bukan pemain penalti yang hebat.” Bisikan itu didengar oleh seorang suporter keras yang sudah dipicu alkohol murahan. Dalam sekejap, mulut-mulut panas saling lempar ejekan.
“Saya melihat mereka saling dorong. Awalnya hanya adu mulut, tapi tiba-tiba tiga orang mengepung Alim. Satu orang mengambil bangku kayu dan memukulkannya ke kepala korban. Kami semua panik,” ujar Mohammad Sajib, saksi mata yang juga berada di kedai itu, dengan suara bergetar saat ditemui di depan pabrik tempatnya bekerja.
Alim terjatuh dengan luka parah di bagian belakang kepala. Ia sempat dilarikan ke Syedpur General Hospital, namun nyawanya tidak tertolong. Hasil visum sementara menunjukkan pendarahan otak akibat benturan keras. Kepolisian distrik Nilphamari langsung memburu para pelaku yang kabur sesaat setelah kejadian. Tiga orang telah diamankan, sementara dua lainnya masih buron.
Emosi Suporter yang Tak Terkendali
Bangladesh dikenal sebagai salah satu negara dengan basis pendukung timnas Argentina paling fanatik di dunia, jauh dari Buenos Aires. Selama Piala Dunia, jalan-jalan di Dhaka dan kota-kota kecil dipenuhi bendera Argentina, mural Messi, dan prosesi kemenangan yang gemerlap. Namun, di balik atmosfer pesta rakyat itu tersimpan sisi gelap: rivalitas yang bisa berubah menjadi petaka hanya karena satu tendangan gagal. Insiden di Syedpur bukanlah yang pertama. Pada 2018, seorang remaja tewas ditikam setelah merayakan kemenangan tim lain, dan di 2022 seorang pria koma akibat dipukuli saat perdebatan tentang Maradona versus Messi.
Kegagalan penalti Messi pada laga itu seolah menjadi katalis bagi akumulasi stres dan fanatisme buta. Menurut psikolog sosial Dr. Fahmida Akhter dari Universitas Dhaka, fenomena ini berkaitan dengan pelarian masyarakat dari tekanan ekonomi dan ketidakpastian hidup. Sepak bola menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan yang bisa mereka pegang. “Ketika idola mereka gagal, yang runtuh bukan sekadar harapan menonton, tapi seluruh bangunan identitas yang mereka bangun di atas pemain itu,” jelasnya. Pendekatan emosional semacam ini kerap berujung agresi, terutama di lingkungan yang longgar pengawasan dan mudah dipicu alkohol atau narkoba ringan.
Respons Otoritas dan Seruan Kedamaian
Polisi setempat telah menetapkan insiden ini sebagai pembunuhan. Komisaris Polisi Abdul Hamid mengatakan pihaknya akan memproses para pelaku dengan Pasal 302 KUHP Bangladesh yang mengancam hukuman mati. “Kami tidak akan mentoleransi kekerasan jenis apa pun, apalagi yang dipicu hanya oleh pertandingan sepak bola yang tidak ada hubungannya dengan negara kita,” tegasnya dalam jumpa pers di Mapolres Nilphamari.
“Ini pembunuhan keji yang tidak bisa dimaafkan. Saya berharap masyarakat bisa belajar: tidak ada tendangan penalti yang sebanding dengan nyawa manusia,” ujar Hamid lagi.
Di sisi lain, komunitas penggemar Argentina di Bangladesh melalui laman media sosial mereka turut menyampaikan belasungkawa. Mereka mengecam aksi brutal tersebut dan menyebut bahwa pelaku adalah segelintir oknum yang telah mencoreng kecintaan terhadap Albiceleste. Namun, insiden ini tetap meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga Alim Hossain—yang kini harus menerima kenyataan bahwa kepala keluarga mereka pergi selamanya—tetapi juga bagi citra pendukung sepak bola di negara itu.
Sementara itu, berita kematian Alim Hossain menyebar cepat di media sosial Bangladesh, mendorong tagar #JusticeForAlim menjadi trending di Twitter lokal. Banyak warganet yang menghubungkan peristiwa ini dengan perlunya edukasi emosi dalam mendukung tim olahraga. “Jangan sampai cinta buta pada seorang pemain membuat kita buta mata hati dan menghilangkan nyawa manusia lain,” tulis salah satu pengguna Facebook yang membagikan potret korban bersama dua anaknya yang masih kecil.
Kejadian ini menegaskan kembali bahwa sepak bola, yang seharusnya menjadi pemersatu, bisa berubah menjadi alat pemisah dan penghancur ketika fanatisme sudah melampaui batas. Di Syedpur, kursi-kursi di kedai teh itu mungkin sudah disingkirkan, tapi ingatan akan malam berdarah yang dipicu satu penalti gagal akan terus menghantui.
[SOCIAL_TWEET]: Seorang buruh pabrik di Bangladesh tewas dianiaya setelah ribut dengan fans Argentina karena Lionel Messi gagal penalti. Polisi buru pelaku. #JusticeForAlim[SOCIAL_TG]: ⚡️ BANGLADESH — Lagi, fanatisme sepak bola memakan korban jiwa. Seorang pria tewas setelah diejek akibat komentarnya tentang kegagalan penalti Messi. Pelaku pendukung Argentina yang emosi langsung mengamuk. Polisi sudah ringkus tiga tersangka.
Comments (0)