Guangxi Berduka: Waduk Jebol Tewaskan 39 Jiwa, Desa Tertimbun Lumpur
Desa Gantang, Guangxi, berubah menjadi lautan lumpur cokelat pekat. Sisa-sisa perabotan rumah tangga, puing kayu, dan kendaraan yang ringsek berserakan di
Desa Gantang, Guangxi, berubah menjadi lautan lumpur cokelat pekat. Sisa-sisa perabotan rumah tangga, puing kayu, dan kendaraan yang ringsek berserakan di antara genangan air keruh. Inilah pemandangan memilukan yang tersisa setelah Waduk Gantang jebol pada Sabtu dini hari (8/7/2026), menewaskan sedikitnya 39 warga dan meluluhlantakkan permukiman yang semula asri.
Bencana dahsyat itu dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan Guangxi selama tiga hari berturut-turut. Intensitas curah hujan yang mencapai 280 milimeter dalam 24 jam terakhir membuat volume air waduk melonjak drastis melampaui kapasitas tampung. Sekitar pukul 02.30 waktu setempat, tanggul utama waduk yang dibangun pada 1978 itu tak sanggup menahan tekanan dan akhirnya ambrol. Air bah setinggi enam meter menghantam Desa Gantang yang berada di lembah di bawahnya, membawa serta lumpur, batu, dan material bangunan waduk.
Kronologi Mencekam
Sejumlah saksi mata yang selamat menuturkan detik-detik mengerikan itu. “Saya mendengar suara gemuruh seperti guntur, lalu lampu padam. Ketika keluar, air sudah setinggi dada dan menghanyutkan rumah-rumah tetangga,” ucap Li Wei (45), seorang petani yang kehilangan istri dan dua anaknya. Ia kini mengungsi di tenda darurat yang didirikan tim SAR.
“Saya mendengar suara gemuruh seperti guntur, lalu lampu padam. Ketika keluar, air sudah setinggi dada dan menghanyutkan rumah-rumah tetangga.”— Li Wei, penyintas
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional Tiongkok, hingga Senin (10/7) pukul 16.00, tim SAR telah menemukan 39 jenazah, sementara 17 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 128 warga berhasil dievakuasi dalam kondisi luka-luka dan dirawat di rumah sakit lapangan. Lumpur tebal yang mencapai kedalaman dua meter di beberapa titik menyulitkan upaya pencarian. Alat berat dikerahkan untuk mengeruk lumpur, namun hujan susulan masih mengancam.
Duka dan Bantuan
Warga yang selamat tampak syok dan berusaha menyelamatkan apa pun yang tersisa. Seorang ibu paruh baya, Zhang Xiuying, terisak saat menemukan album foto keluarganya yang rusak. Total 234 rumah dilaporkan hancur atau rusak berat, sementara 1.200 warga kehilangan tempat tinggal. Pemerintah daerah telah membuka tiga posko pengungsian dan mengirimkan bantuan logistik berupa beras, selimut, air bersih, dan obat-obatan.
“Ini bencana terburuk dalam 30 tahun terakhir di wilayah kami. Kami fokus pada pencarian korban dan pemulihan awal.”— Wang Tao, Kepala Dinas Darurat Guangxi
Presiden Tiongkok telah memerintahkan investigasi menyeluruh untuk mengusut penyebab jebolnya waduk. Diduga kuat faktor usia infrastruktur dan kurangnya perawatan membuat tanggul rentan. Sejumlah ahli hidrologi menyebut sistem drainase waduk yang tersumbat sampah dan sedimen memperparah keadaan. Pemerintah pusat menjanjikan kompensasi bagi keluarga korban serta percepatan pembangunan hunian sementara.
Kekhawatiran Berlanjut
Hingga kini, petugas masih memantau kondisi tiga waduk lain di sekitar Guangxi yang dilaporkan mengalami peningkatan debit air. Warga yang tinggal di bantaran sungai diminta waspada dan siap mengungsi jika terjadi banjir susulan. Sementara itu, tim forensik terus bekerja mengidentifikasi korban yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
Bencana ini menambah daftar panjang kegagalan infrastruktur di Tiongkok yang sering kali menimbulkan korban jiwa. Organisasi lingkungan menyerukan audit nasional terhadap bendungan-bendungan tua. Di Gantang, duka mendalam menyelimuti desa; satu per satu jenazah dimakamkan di pemakaman darurat di perbukitan, sementara tangis keluarga masih membelah sunyi malam.
Comments (0)