Iran Ancam Israel: 'Serang Kami, Anda Tak Akan Aman'
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, melontarkan ancaman keras terha
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, melontarkan ancaman keras terhadap Israel. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah pada Senin (10/7/2026), Zolghadr menegaskan bahwa setiap serangan militer terhadap Iran akan dibalas dengan kekuatan penuh, membuat Israel “tak akan merasakan keamanan lagi.”
“Kami telah menyiapkan skenario terburuk. Jika Zionis berani bertindak agresif, mereka tak akan aman dari kami, bahkan di wilayah yang selama ini mereka anggap terlindungi.”— Mohammad Bagher Zolghadr
Pernyataan ini muncul di tengah laporan intelijen bahwa Israel sedang mempertimbangkan serangan udara terhadap instalasi nuklir Iran, menyusul kemajuan pengayaan uranium Teheran yang mendekati tingkat senjata. Zolghadr, yang merupakan salah satu tokoh senior Garda Revolusi, menambahkan bahwa Iran kini memiliki rudal dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer, yang mampu menjangkau seluruh wilayah Israel. “Pertahanan kami bukan hanya rudal; kami punya banyak opsi, termasuk kekuatan proksi di kawasan,” tegasnya.
Eskalasi Retorika dan Perang Proksi
Ketegangan antara Iran dan Israel bukanlah hal baru, namun retorika keras tingkat tinggi kali ini memicu kekhawatiran akan pecahnya konfrontasi langsung. Iran selama ini mendukung milisi Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, serta kelompok bersenjata di Suriah dan Yaman yang kerap melancarkan serangan ke Israel. Analis militer menilai ancaman Zolghadr mengisyaratkan respons multi-front yang dapat mengubah wajah konflik di Timur Tengah.
“Ancaman ini adalah pesan tegas bahwa setiap serangan ke Iran tidak akan berhenti di perbatasan kami. Kami akan membawa perang ke jantung musuh.”— sumber militer Iran
Israel sendiri tidak tinggal diam. Menteri Pertahanan Israel dalam sebuah pernyataan singkat menyebut ancaman itu sebagai “cerminan kepanikan Teheran menghadapi persatuan Israel dan sekutunya.” Amerika Serikat, melalui juru bicara Departemen Luar Negeri, mendesak kedua pihak menahan diri dan menegaskan dukungannya terhadap keamanan Israel, namun juga mendorong diplomasi untuk menghentikan eskalasi.
Sejarah Panjang Permusuhan
Permusuhan Teheran-Tel Aviv telah berlangsung sejak Revolusi Islam 1979, dengan Iran konsisten menolak keberadaan Israel dan menyebutnya sebagai “entitas Zionis.” Dalam dua dekade terakhir, Israel diduga melakukan serangkaian sabotase, serangan siber (seperti virus Stuxnet), dan pembunuhan ilmuwan nuklir Iran. Sementara Iran memperdalam perang bayangan melalui dukungannya pada kelompok militan. Tahun lalu, serangan langsung Iran ke Israel dengan ratusan drone dan rudal—sebagai balasan—membuktikan bahwa Teheran tidak lagi hanya bergerak di balik layar. Zolghadr mengisyaratkan bahwa kali ini respons Iran bisa lebih besar dan lebih cepat.
Dampak Ekonomi dan Keamanan Regional
Ketegangan memanas langsung mengguncang harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent naik 4,2% pasca-ancaman Iran karena khawatir gangguan pasokan dari Selat Hormuz, jalur vital yang dikontrol Iran. Negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan UEA, berusaha meredakan situasi sambil diam-diam meningkatkan kerja sama keamanan dengan Israel. Sementara itu, PBB menjadwalkan sidang darurat Dewan Keamanan pekan ini. Para diplomat memperingatkan bahwa potensi kesalahpahaman sangat tinggi di tengah perang informasi yang intens.
Apa Selanjutnya?
Para pengamat menduga bahwa Iran sengaja mengumbar ancaman untuk menggalang solidaritas domestik sekaligus memberi peringatan ke Barat agar tidak mendukung serangan Israel. Namun, risiko eskalasi tidak disengaja tetap nyata. Kedua negara sama-sama memiliki kapasitas serangan preemptif dan pertahanan rudal yang semakin canggih. Di lapangan, Hizbullah dilaporkan meningkatkan kesiagaan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel, sementara kapal perang AS terus berpatroli di Laut Mediterania.
Warga di Tel Aviv dan Teheran menjalani hari-hari dengan kecemasan yang sama—takut akan dentuman rudal dan sirene peringatan dini. Di tengah saling ancam, suara-suara perdamaian sayup-sayup terdengar namun sejauh ini masih tenggelam oleh gemuruh ancaman perang. “Kami hanya ingin hidup tenang,” kata seorang ibu di Teheran yang enggan disebut namanya. Namun keinginan itu masih jauh dari kenyataan.
Comments (0)