Bahlil Prediksi Gejolak Harga Energi Terjadi Sampai Akhir Tahun
Jakarta, Apaberita.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pandangannya bahwa dinamika dan gejolak harga di sektor energi global diperkirakan akan terus
Jakarta, Apaberita.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pandangannya bahwa dinamika dan gejolak harga di sektor energi global diperkirakan akan terus berlangsung setidaknya hingga penghujung tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan meskipun terdapat perkembangan positif berupa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang semestinya dapat meredakan ketegangan pasar.
Dalam sebuah forum diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (25/6/2026), Bahlil mengaku belum merasakan dampak nyata dari perdamaian tersebut terhadap stabilitas energi. Ia justru melihat situasi masih sangat fluktuatif dan sulit diprediksi, sehingga berpotensi menciptakan ketidakpastian bagi negara-negara konsumen maupun produsen energi.
Menurutnya, meskipun keputusan damai telah diumumkan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sektor energi belum menunjukkan tanda-tanda stabilisasi yang berarti. Bahlil bahkan menyamakan situasi ini dengan kondisi yang tidak jelas arahnya.
"Menyangkut dengan perang, kami pak prof, saya nggak ngerti geopolitik, tapi sampai hari ini kok saya masih merasa sekalipun sudah ada keputusan damai, tapi dari sektor energi saya merasa ini kayak belum ada apa-apa. Karena itu kayak mimpi gitu lho, naik turun-naik turun, besok damai, habis itu tutup lagi. Jadi, saya mulai berpikir bahwa terjelek, sampai dengan Desember dinamika ini masih akan seperti ini terus,"
Pernyataan tersebut merefleksikan kekhawatiran bahwa pergerakan harga minyak dan gas dunia masih akan diwarnai oleh spekulasi dan respons pasar terhadap isu geopolitik yang belum sepenuhnya usai. Fluktuasi harga yang tajam dan berulang kali terjadi dalam waktu singkat diyakini akan menjadi pola yang berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Di tengah ketidakpastian ini, Bahlil menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menjadikan kondisi harga dan dinamika pasar yang ekstrem saat ini sebagai acuan atau patokan utama dalam merumuskan kebijakan pengelolaan energi nasional. Ia lebih memilih untuk bersikap hati-hati dan menunggu sinyal stabilitas yang lebih meyakinkan sebelum mengambil langkah strategis jangka panjang.
Langkah kehati-hatian ini dinilai penting mengingat Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada subsidi energi dan memiliki ketergantungan pada impor, sangat rentan terhadap guncangan harga global. Kebijakan yang terlalu reaktif terhadap gejolak sesaat dikhawatirkan dapat mengganggu fondasi ketahanan energi nasional.
Lebih lanjut, Bahlil menyiratkan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan geopolitik dan pasar komoditas secara ketat dalam beberapa bulan ke depan. Ia memperkirakan bahwa bahkan skenario terburuk, di mana harga terus berayun liar tanpa keseimbangan yang jelas, masih mungkin terjadi hingga Desember 2026. Dengan demikian, seluruh pemangku kepentingan sektor energi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan fleksibilitas dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi hingga akhir tahun.
Comments (0)