Bahlil Minta Proyek Masela Tetap Hormati Hak Kesulungan Tanimbar

Jakarta — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pengembangan proyek strategis nasional LNG (Liquefied Natural Gas

Jul 17, 2026 - 07:04
0 0
Bahlil Minta Proyek Masela Tetap Hormati Hak Kesulungan Tanimbar

Jakarta — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pengembangan proyek strategis nasional LNG (Liquefied Natural Gas) Masela di Blok Abadi, Laut Arafuru, Maluku, harus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tidak mengabaikan hak-hak kesulungan masyarakat adat Tanimbar. Pernyataan ini disampaikan Bahlil dalam kunjungannya ke Saumlaki, ibukota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, beberapa waktu lalu.

Proyek Masela sendiri merupakan salah satu investasi energi terbesar di Indonesia dengan estimasi nilai mencapai USD 19,3 miliar atau sekitar Rp300 triliun. Cadangan gas bumi di Blok Abadi tersebut ditaksir mencapai 6,16 triliun kaki kubik (TCF), menjadikannya salah satu lapangan gas terbesar di kawasan Asia Tenggara. Skala proyek ini dinilai akan mengubah peta ekonomi regional Maluku secara fundamental.

Komitmen Pemerintah pada Prinsip Kebermanfaatan Bersama

Bahlil menekankan bahwa setiap proyek strategis nasional wajib memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar menjadi sumber pendapatan negara. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan, termasuk investor dan operator, untuk memastikan bahwa kehadiran proyek tidak merusak tatanan sosial dan budaya masyarakat Tanimbar.

"Kita bangun Masela untuk kemakmuran bersama, tapi jangan pernah melupakan bahwa di atas tanah dan laut ini ada hak-hak kesulungan yang sudah hidup ratusan tahun. Masyarakat Tanimbar harus menjadi tuan di rumahnya sendiri," ujar Bahlil dalam keterangan persnya.

Hak kesulungan atau yang dikenal dengan istilah hak ulayat laut merujuk pada sistem hukum adat yang mengakui hak prerogatif tertentu kepada masyarakat hukum adat atas wilayah perairan dan sumber daya di dalamnya. Dalam konteks Tanimbar, hak ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya lokal.

Potensi Ekonomi dan Tantangan Sosial

Jika berjalan sesuai rencana, proyek Masela diproyeksikan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun dan 35.000 barel kondensat per hari. Kapasitas produksi sebesar ini menjadikan Masela sebagai pilar penting dalam transisi energi Indonesia, sekaligus penopang ekspor gas nasional di tengah meningkatnya permintaan global.

Namun di balik potensi ekonomi yang besar, terdapat tantangan sosial yang tidak kalah kompleks. Sejumlah catatan kritis muncul dari berbagai pihak, mulai dari potensi dampak lingkungan terhadap ekosistem laut Arafuru, isu relokasi pemukiman, hingga mekanisme distribusi manfaat ekonomi yang dianggap belum transparan.

Peta Pemangku Kepentingan Proyek Masela

PihakPeranKeterangan
Pemerintah PusatRegulator & Pemegang SahamMelalui KKKS Pertamina
Inpex (Jepang)Operator & InvestorKontrak kerja sejak 1998
Pemerintah DaerahPenerima ManfaatKabupaten Kepulauan Tanimbar
Masyarakat AdatPemilik Hak Kesulungan16 negeri adat di Tanimbar

Respons Tokoh Adat dan Akademisi

Pakar hukum adat dari Universitas Pattimura, Dr. Pieter Sahetapy, menilai bahwa pernyataan Bahlil merupakan sinyal positif yang sudah lama ditunggu-tunggu masyarakat Tanimbar. Menurutnya, integrasi antara investasi modern dan kearifan lokal bukan hal mustahil jika ada kemauan politik yang kuat.

"Hak kesulungan bukan penghalang investasi, melainkan fondasi sosial yang menjamin keberlanjutan proyek. Ketika masyarakat merasa dihormati, mereka akan menjadi mitra, bukan lawan," jelas Pieter dalam diskusi publik yang digelar pekan lalu.

Sementara itu, tokoh pemuda Tanimbar, Ones Semmy, menyambut baik komitmen tersebut namun meminta agar ditindaklanjuti dengan dokumen perjanjian yang mengikat. "Kami tidak ingin kata-kata manis saja. Harus ada payung hukum yang melindungi hak kami secara permanen," tegasnya.

Implikasi Kebijakan dan Tahapan Proyek

Pengembangan proyek Masela saat ini tengah memasuki fase front-end engineering design (FEED) dengan target keputusan final investasi atau Final Investment Decision (FID) pada tahun 2027. Tahapan ini menjadi krusial karena akan menentukan kelanjutan proyek selama puluhan tahun ke depan.

Bahlil memastikan bahwa Kementerian ESDM akan terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat sipil untuk merumuskan mekanisme benefit sharing yang adil. Skema ini diharapkan mampu menjawab kekhawatiran berbagai pihak terkait distribusi dampak ekonomi proyek.

Dengan total investasi yang fantastis dan jangka waktu operasional yang panjang, keberhasilan proyek Masela tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis dan finansial, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak untuk membangun trust dan social license to operate yang kuat. Komitmen Bahlil untuk tidak melupakan hak kesulungan Tanimbar menjadi modal awal yang penting dalam perjalanan panjang tersebut.

Ke depan, transparansi, dialog terbuka, dan penghormatan terhadap kearifan lokal akan menjadi kunci apakah proyek ini benar-benar mampu membawa kemakmuran bagi seluruh pihak, atau justru menjadi sumber konflik baru di ujung timur Indonesia.

[SOCIAL_TWEET]: Bahlil tegaskan proyek Masela USD 19,3 miliar harus hormati hak kesulungan masyarakat Tanimbar. Komitmen ini jadi modal sosial penting menjelang FID 2027. #Masela #Tanimbar #ESDM #EnergiIndonesia [SOCIAL_TG]: 🔥 Bahlil: Bangun Masela, jangan lupakan Tanimbar! 🇮🇩⚓ Proyek Rp300 triliun ini bakal jadi game changer energi Indonesia. Tapi hak kesulungan tetap nomor satu! 💪

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User