Bahasa Daerah Denyut Identitas yang Kian Terdesak Zaman

JAKARTA — Bahasa daerah berfungsi jauh melampaui sekadar alat tutur. Ia merupakan urat nadi yang menghidupkan kesadaran kolektif, pembeda identitas, dan wahana pewarisan nilai lintas generasi. Fakta...

Jul 13, 2026 - 11:55
0 0
Bahasa Daerah Denyut Identitas yang Kian Terdesak Zaman

JAKARTA — Bahasa daerah berfungsi jauh melampaui sekadar alat tutur. Ia merupakan urat nadi yang menghidupkan kesadaran kolektif, pembeda identitas, dan wahana pewarisan nilai lintas generasi. Fakta itu kembali mengemuka dalam diskusi kebudayaan yang digelar para peneliti sosiolinguistik di Jakarta, Kamis (15/5). Mereka menyatakan, di tengah arus globalisasi, bahasa-bahasa etnis justru menjadi benteng terakhir yang menjaga batas-batas komunitas.

“Bahasa bukan instrumen netral. Ia memuat cara pandang, ingatan, dan solidaritas yang hanya bisa dipahami oleh penutur aslinya,” ujar Dr. Andi Prasetyo, pakar linguistik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pernyataan itu menegaskan bahwa setiap kali sebuah bahasa etnis dituturkan—baik dalam upacara adat, doa, maupun percakapan harian—identitas kelompok langsung dihidupkan kembali.

Simbol yang Melampaui Komunikasi

Riset mutakhir yang dirujuk dalam forum tersebut, termasuk studi klasik Joshua Fishman (1991), menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai penanda utama batas etnis. Pilihan kata, dialek, aksen, hingga ungkapan khas menciptakan rasa “kita” yang eksklusif. Hal serupa diperkuat oleh temuan Monica Heller (2007) yang menyoroti bagaimana bahasa dalam ritual budaya bukan hanya menyampaikan makna, melainkan menjadi peristiwa yang mempertegas keanggotaan seseorang dalam kelompok.

“Dalam berbagai masyarakat adat, seseorang dikenali bukan semata dari daerah asal, tetapi dari cara ia berbicara,” jelas Andi. Di sinilah bahasa bekerja sebagai jangkar sosial yang mengikat individu pada komunitas etnisnya, melampaui fungsi komunikatif biasa.

Memori Kolektif yang Hidup dalam Tutur

Para peneliti menekankan dimensi emosional dan simbolik dari bahasa etnis. Ketika pantun, syair, doa, dan cerita rakyat dituturkan, yang terjadi bukan sekadar transmisi informasi, melainkan penghidupan kembali ingatan kolektif. Nilai-nilai leluhur, filosofi hidup, dan pengalaman sejarah suatu etnis mengalir melalui kata-kata yang diucapkan berulang. Karena itu, setiap bahasa daerah adalah arsip hidup yang menyimpan pengetahuan lokal selama berabad-abad.

“Kehilangan satu bahasa sama dengan hilangnya satu perpustakaan pengetahuan manusia,” tegas Andi. Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat, dari sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia, lebih dari selusin telah punah dan puluhan lainnya berstatus kritis. Ancaman itu tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga menjadi guncangan bagi fondasi identitas etnis yang bersangkutan.

Globalisasi dan Perjuangan di Persimpangan

Arus mobilitas penduduk dan penetrasi media digital mempercepat proses pergeseran bahasa. Generasi muda kian akrab dengan bahasa nasional dan asing, sementara ruang publik bagi bahasa etnis semakin menyempit. Fenomena tersebut, menurut peserta diskusi, menuntut intervensi kebijakan yang sistematis. Beberapa pemerintah daerah telah menetapkan muatan lokal wajib di sekolah, namun implementasinya masih menghadapi kendala, mulai dari minimnya guru hingga kurangnya bahan ajar.

Di sisi lain, komunitas-komunitas adat mulai menggagas revitalisasi melalui festival tutur, perekaman bahasa, dan platform digital. Inisiatif tersebut bertujuan agar bahasa etnis tidak hanya menjadi objek dokumentasi, melainkan tetap hidup sebagai alat interaksi sehari-hari. “Selama masih ada yang menuturkan, identitas itu belum mati,” pungkas Andi.

Para peneliti sepakat bahwa nasib bahasa daerah adalah cermin ketahanan budaya bangsa. Karena itu, menjaga denyut bahasa berarti merawat keberagaman yang menjadi fondasi Indonesia, sekaligus memastikan bahwa setiap etnis tetap memiliki suara dalam peta peradaban.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User