Ancaman Bom via WhatsApp di Hari Pertama Sekolah, Gegana Sisir SDN Jaksel

Suasana hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, mendadak berubah mencekam pada Senin (14/7) pagi. ...

Jul 13, 2026 - 13:31
0 0
Ancaman Bom via WhatsApp di Hari Pertama Sekolah, Gegana Sisir SDN Jaksel

Suasana hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, mendadak berubah mencekam pada Senin (14/7) pagi. Sebuah pesan ancaman bom yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp mengguncang sekolah tersebut, memaksa pihak kepolisian menerjunkan tim penjinak bom (Gegana) untuk melakukan penyisiran menyeluruh.

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa ancaman tersebut diterima oleh salah satu guru sekitar pukul 07.30 WIB, sesaat sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Pesan tersebut berisi peringatan bahwa sebuah bahan peledak telah diletakkan di area sekolah dan akan meledak pada waktu tertentu. Ratusan siswa yang telah memadati halaman sekolah untuk mengikuti upacara bendera pembukaan tahun ajaran baru langsung dievakuasi ke titik kumpul yang aman di luar lingkungan sekolah.

Kronologi Kejadian

Kepala SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Dra. Ratna Sari Dewi, saat ditemui di lokasi menuturkan bahwa insiden bermula ketika telepon seluler milik salah satu staf tata usaha menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. “Pesan itu masuk sekitar pukul 07.30 WIB. Isinya mengaku telah menanam bom di sekolah. Kami langsung menghubungi pihak kepolisian dan menarik seluruh siswa dari kelas,” ujarnya dengan raut wajah masih terlihat tegang.

Berdasarkan pantauan di lokasi, evakuasi berlangsung tertib meski diwarnai isak tangis siswa kelas rendah. Para guru segera mengarahkan siswa menuju lapangan terbuka di sekitar permukiman warga. Sejumlah orang tua yang mengantar anaknya juga histeris dan berusaha masuk ke lingkungan sekolah. Namun, polisi yang tiba kurang dari sepuluh menit setelah laporan langsung memasang garis pengaman dan mensterilkan area.

Tim Gegana dari Satuan Brimob Polda Metro Jaya tiba di lokasi pukul 08.15 WIB. Mengenakan perlengkapan pelindung tebal, mereka melakukan penyisiran di seluruh sudut sekolah, mulai dari ruang kelas, toilet, aula, hingga taman. Setiap tas dan barang mencurigakan diperiksa menggunakan detektor logam dan peralatan pendeteksi bahan peledak canggih.

Respons Kepolisian dan Gegana

Kapolsek Jagakarsa, Komisaris Polisi Hendra Gunawan, S.H., yang memimpin langsung pengamanan di lokasi, menegaskan bahwa pihaknya menerima laporan pada pukul 07.42 WIB dan langsung merespons dengan mengerahkan seluruh kekuatan, termasuk tim Gegana dan unit K9. “Kami tidak menangani ancaman ini dengan setengah hati. Kami terjunkan tim Gegana dan anjing pelacak untuk memastikan tidak ada satu pun benda mencurigakan yang terlewat,” tegasnya di depan para wartawan.

Penyisiran berlangsung selama hampir dua jam. Hasilnya, tidak ditemukan satu pun bahan peledak atau benda berbahaya lainnya. Kompol Hendra menyatakan bahwa status ancaman tersebut adalah hoaks. “Berdasarkan hasil olah tempat kejadian, tidak ada bukti fisik adanya bom. Namun, kami tetap memproses ancaman ini sebagai tindak pidana karena telah menyebabkan ketakutan publik dan mengganggu aktivitas pendidikan,” jelasnya.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Polisi Ahmad Suharto, menambahkan bahwa pihaknya sedang melacak pemilik nomor telepon yang mengirim pesan ancaman tersebut. “Kami sudah berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya untuk meminta data dari penyedia layanan. Tim siber juga sedang bekerja. Kami yakin pelaku dapat segera teridentifikasi,” kata AKBP Ahmad. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), pelaku terancam pidana penjara maksimal enam tahun dan denda hingga satu miliar rupiah.

Tindak Lanjut dan Keamanan Sekolah

Setelah dinyatakan aman sekitar pukul 10.15 WIB, aktivitas belajar mengajar di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi diputuskan untuk dilanjutkan secara terbatas. Namun, Kepala Sekolah Ratna menyatakan bahwa kegiatan diisi dengan sesi trauma healing dan pengenalan guru tanpa materi pelajaran berat. “Kami fokus menenangkan anak-anak dulu. Orang tua kami perbolehkan mendampingi sepanjang hari ini,” ujarnya.

Dinas Pendidikan DKI Jakarta, melalui Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Drs. Bambang Setiadi, M.Pd., menyayangkan kejadian ini dan meminta seluruh satuan pendidikan meningkatkan kewaspadaan. “Ini adalah serangan terhadap dunia pendidikan. Kami akan memperkuat protokol keamanan di semua sekolah, termasuk melakukan sosialisasi penanganan ancaman bom dan meningkatkan sistem pengawasan,” katanya. Ia juga mengimbau agar guru dan kepala sekolah tidak ragu melapor setiap ancaman serupa.

Peristiwa ini memicu diskusi mengenai kerentanan sekolah terhadap teror psikologis di era digital. Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Arief Rachman, menilai bahwa kejadian ini menunjukkan pentingnya pendidikan keamanan digital dan pembentukan satuan tugas keamanan sekolah. “Saat ini ancaman tidak hanya fisik, tapi juga melalui teknologi. Sekolah harus siap dengan protokol tanggap darurat yang terintegrasi,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Hingga berita ini ditulis, situasi di sekitar SDN Srengseng Sawah 15 Pagi telah kondusif. Pihak kepolisian masih berjaga di lokasi dan melakukan pengecekan rutin. Masyarakat, khususnya orang tua, diminta tidak terpancing dengan isu-isu tidak bertanggung jawab dan segera melaporkan hal mencurigakan kepada pihak berwajib.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User