Alwi Farhan Sedih Ronaldo Tersingkir di Piala Dunia: Buat Saya Tetap GOAT

Hari Rabu yang sendu menyelimuti Pelatnas PBSI di Cipayung. Di tengah rutinitas latihan yang ketat, tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, tak kuasa menahan

Jul 09, 2026 - 01:29
0 0
Alwi Farhan Sedih Ronaldo Tersingkir di Piala Dunia: Buat Saya Tetap GOAT

Hari Rabu yang sendu menyelimuti Pelatnas PBSI di Cipayung. Di tengah rutinitas latihan yang ketat, tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, tak kuasa menahan kecewa. Layar ponselnya baru saja menayangkan momen paling pedih bagi para penggemar sepak bola: Cristiano Ronaldo tersingkir dari Piala Dunia 2026, mengakhiri perjalanan Portugal di babak 16 besar. Kekalahan itu bukan sekadar gugurnya sebuah tim, melainkan runtuhnya satu harapan besar—harapan menyaksikan sang megabintang mengangkat trofi yang tak pernah ia rengkuh sepanjang karier.

Ronaldo tertunduk di lapangan, air matanya tumpah. Bagi sebagian penonton, itu adalah drama olahraga biasa. Tapi bagi Alwi, adegan itu terasa begitu dekat, begitu personal. Sedih banget, batinnya. Ia yang sehari-hari bergelut dengan shuttlecock dan net, merasakan getir yang sama. Idolanya, panutannya, harus pulang dengan tangan hampa lagi.

Tangis di Layar, Duka di Hati

Alwi tak malu mengakui ada ikatan emosional yang kuat dengan Ronaldo. Sejak kecil, ia mengidolakan pemain asal Portugal itu—bukan hanya karena gol-gol spektakuler, melainkan juga karena etos kerja tanpa henti. Ketika Ronaldo jatuh, bangkit, dan terus mencetak rekor di usia yang tak lagi muda, Alwi melihat cermin semangat yang juga ia butuhkan di dunia bulutangkis. Jadi ketika momen pahit itu tiba di Piala Dunia 2026, rasanya seperti melihat pahlawan yang gagal di medan perang terakhirnya.

"Sedih banget sih saya. Jujur saya sedih banget, kayak kasihan lah. Dari kemarin mungkin ya banyak pressure yang especially Ronaldo hadapi," ujar Alwi saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Rabu (8/7/2026).

Tekanan itu bukan isapan jempol. Ronaldo menanggung ekspektasi 218 juta penduduk Portugal yang mendambakan trofi Piala Dunia pertama mereka. Setiap gerak-geriknya dikawal kamera, setiap keputusan pelatih diperdebatkan, dan di usianya yang ke-41, setiap langkahnya diterjemahkan sebagai detik-detik menuju akhir. Meski demikian, Alwi menolak menyebut perjalanan itu gagal total.

"Tapi ya mungkin dia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Dia tetap akan menjadi Cristiano yang sama sih. Mungkin dia enggak bawa Piala Dunia, tapi nggak menjadikannya dia nggak hebat juga gitu," lanjutnya.

GOAT Tak Harus Berparas Trofi Dunia

Di era media sosial yang riuh, gelar "GOAT" (Greatest of All Time) kerap jadi bahan perang antarfans. Namun Alwi memilih jalannya sendiri: baginya, Ronaldo tetaplah yang terbaik, apa pun yang terjadi di panggung Piala Dunia. Ia menilai warisan Ronaldo lebih dari sekadar koleksi trofi. Ada lima Ballon d’Or, rekor gol internasional, perjalanan dari anak miskin Madeira menjadi ikon global—semuanya sudah cukup sebagai bukti keabadian.

Pemandangan di Cipayung sore itu menjadi saksi bagaimana olahraga bisa menyeberangi batas disiplin. Seorang atlet bulutangkis menangisi nasib seorang pesepakbola. Tapi bagi Alwi, tak ada yang aneh. Sejak junior, ia mengadopsi disiplin ala Ronaldo: datang paling awal ke latihan, meninggalkan lapangan paling akhir, dan menolak berdamai dengan kekalahan. "Ronaldo mengajarkan saya konsistensi," begitu ucapnya suatu kali, dan kini pesan itu justru semakin relevan justru setelah sang idola gagal.

Duka yang Menjadi Bahan Bakar

Kini, Alwi harus kembali fokus ke turnamen bulutangkis yang menantinya. Namun kesedihan atas terhentinya langkah Portugal di Piala Dunia 2026 tak akan mudah sirna. Ia mungkin bukan rekan setim Ronaldo, bukan pula bagian dari federasi sepak bola, tapi rasa hormatnya sudah berubah menjadi kekuatan baru. Di setiap smes yang ia arahkan ke sudut lapangan, ada semangat seorang pemain yang tak pernah menyerah—semangat yang selalu ia serap dari Cristiano Ronaldo.

Satu hal pasti: Bagi Alwi Farhan, status Ronaldo sebagai GOAT tidak akan pernah tergugat oleh satu trofi yang tak kunjung datang. Kekalahan di babak 16 besar hanyalah satu halaman kelam, bukan akhir dari buku besar sang legenda. Dan saat dunia kini mulai mempertanyakan masa depan Ronaldo di pentas internasional, Alwi masih percaya bahwa warisan sejati tak perlu pengakuan dari Piala Dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User